West Ham United yang Menjanjikan

Ada yang sedikit berbeda dari sepak terjang West Ham United FC pada bursa transfer musim panas 2015/16. Seiring kedatangan Slaven Bilic sebagai pelatih baru menggantikan Sam Allardyce, beberapa nama familiar seperti Angelo Ogbonna, Dimitri Payet dan Pedro Obiang berhasil digiring ke markas mereka. West Ham juga telah meminjam bek kanan Carl Jenkinson dari Arsenal, dan tidak lama berselang, remaja berbakat George Dobson ikut diangkut dari The Gunners.

Pergerakan klub berjuluk The Hammers belum berhenti sampai di situ. Beberapa nama seperti Alen Halilovic, gelandang serang muda Barcelona dan gelandang berusia 21 tahun asal Marseille, Mario Lemina juga masih didekati. Hingga saat ini, West Ham sudah menghabiskan dana senilai lebih dari 30 juta euro, dan melihat belum rampungnya pergerakan transfer, jumlah tersebut masih akan meningkat. Geliat transfer menjanjikan ini menandai awan optimisme di kubu asal London Timur dalam menyongsong musim baru.

Apa yang membuat West Ham begitu menjanjikan?

Jika kita sedikit melihat ke belakang, nilai 30 juta euro yang dikucurkan manajemen West Ham bukanlah jumlah yang terlalu fantastis untuk ukuran mereka sendiri. Sejak musim 2012/13, West Ham selalu mengeluarkan dana transfer lebih dari 20 juta euro. Ditambah lagi, mereka juga tidak lagi melakukan penjualan pemain dengan nilai fantastis seperti halnya di masa lalu saat mereka menjual Carlos Tevez, Javier Mascherano, Craig Bellamy, Nigel Reo-Cooker atau satu setengah dekade silam di mana mereka mendapatkan banyak uang hasil penjualan para lulusan cemerlang dari akademi mereka seperti Frank Lampard, Joe Cole, Glen Johnson, Rio Ferdinand, serta Michael Carrick. Predikat sebagai “penyalur” pemain berbakat ke klub besar berangsur menghilang.

Seiring pengelolaan klub sepak bola yang semakin modern, West Ham juga mencoba mencari sumber pendapatan lain. Seperti dikutip dari Daily Mail, tiga tahun lalu West Ham melakukan kerja sama dengan sebuah badan bernama Vibrac Corporation, sebuah perusahaan yang didirikan di bawah naungan hukum British Virgin Island. Dalam hal ini, West Ham meminjam uang sebesar 60 juta pounds kepada Vibrac Corporation dengan cara menjaminkan pendapatan hak siar yang mereka terima.

Memang agak mengherankan, mengapa ada klub Liga Primer Inggris –kompetisi dengan guyuran uang hak siar tinggi– yang masih perlu meminjam uang dan mencari-cari sumber pendapatan lain di luar pendapatan asli sepak bola, yang bisa saja menghadirkan risiko di masa mendatang. Namun, dalam hal ini, mereka melakukan peminjaman uang untuk membayar hutang-hutang yang diwariskan rezim Eggert Magnusson, chairman sebelum Dave Gold dan Dave Sullivan yang kini berkuasa. Dalam bahasa yang sederhana, apa yang dilakukan West Ham ini adalah bentuk “gali lubang, tutup lubang”. Namun, mereka tentu saja telah melakukan analisis perhitungan tersendiri seperti analisis bunga dan umur hutang –misalnya bunga hutang dari rezim terdahulu lebih tinggi ketimbang bunga pinjaman dari Vibrac Corporation—dan sejenisnya.

Baca Juga:  Mewajarkan Loyalitas Suporter Layar Kaca

Skema seperti ini ternyata bukanlah yang kali pertama dilakukan oleh klub sepak bola. Tahun 2001 lalu, Leeds United di bawah kepemimpinan presiden Peter Risdale juga pernah melakukan transaksi peminjaman uang serupa. Namun bedanya, Risdale meminjam uang tersebut untuk membeli dan menggaji pemain-pemain bintang. Cara ini memang sempat membawa mereka hingga semifinal Liga Champion, namun seperti diketahui, kegagalan menempati posisi empat besar tahun berikutnya membuat The Whites kehilangan potensi pendapatan yang akhirnya menyeret mereka ke jurang kebangkrutan.

Jika selama ini kita mengenal sumber-sumber pendapatan asli klub sepak bola, yaitu gate receipts (pendapatan dari stadion), media (pendapatan dari hak siar), commercial (pendapatan dari sponsor dan penjualan merchandise), serta penjualan pemain, maka apa yang dilakukan oleh West Ham dan Leeds termasuk dalam kategori non-football related revenue, atau pendapatan di luar kegiatan sepak bola. Selama dilakukan dengan perhitungan cermat dan tidak melanggar regulasi, cara-cara seperti ini sah saja dilakukan. Leeds memang melakukan kekeliruan dengan meminjam uang untuk membeli pemain –di mana fluktuasi harga pemain tidak bisa ditebak–. Namun berbeda dengan West Ham, karena cermatnya pengelolaan finansial yang mereka lakukan berdampak positif, yang ditunjukkan dengan kondisi finansial terkini dengan mereka.

Seperti dikutip dari laporan keuangan tahun 2014 yang dapat diunduh dari situs resmi mereka, www.whufc.com, West Ham mulai menikmati profit setelah sebelumnya selalu mengalami kerugian. Blogger finansial sepak bola, Swiss Ramble, juga menyajikan data serupa yang menunjukkan dimulainya era profit seiring dengan peningkatan nilai hak siar yang sudah dimulai sejak musim 2014/15.

Proyek stadion baru

2012 adalah tahun di mana ajang Olimpiade berlangsung di London. Menyongsong pergelaran akbar tersebut, dewan kota membangun stadion olahraga bernama Olympic Stadium. Selepas olimpiade, pemakaian stadion canggih dan modern ini hanya untuk ajang-ajang bersifat insidentil. Klub-klub sepak bola melihat hal ini sebagai peluang, dan setelah melalui perjalanan panjang termasuk bersaing dengan Tottenham Hotspur, West Ham mendapatkan lisensi penggunaan stadion berkapasitas 54 ribu penonton ini mulai musim kompetisi 2016/17.

Keberhasilan menjadikan Olympic Stadium sebagai markas baru mereka menggantikan Boleyn Ground adalah keuntungan yang amat besar. Dalam perjanjian, West Ham akan menyewa stadion ini selama 99 tahun dengan biaya sewa sebesar 2,5 juta pounds per tahun. Klub yang menjadi latar pada film Green Street Hooligans ini juga diharuskan membayar kontribusi sebesar 15 juta pound dari total conversion cost, atau biaya pengalihan kegunaan stadion dari arena olahraga umum menjadi stadion khusus sepak bola sebesar 272 juta pounds.

Baca Juga:  Tiga Hal Penting bagi Karier Pesepakbola Indonesia

Timbul pertanyaan: Bukankah lebih menguntungkan untuk membangun stadion baru, ketimbang menyewanya?

Dilihat dari satu sisi, boleh jadi benar. Stadion baru, apalagi dengan kapasitas yang rasional dan fasilitas yang modern, tentu akan mengerek pendapatan klub secara signifikan. Klub juga dapat menggali potensi pendapatan dari aspek non-sepak bola seperti penyewaan ruangan, pembukaan restoran, atau penggunaan stadion untuk kegiatan non-sepak bola seperti konser musik. Jika stadion tidak dimiliki secara penuh, potensi-potensi tersebut tentu saja tidak dapat dinikmati secara maksimal.

Namun dengan cara ini, West Ham tidak perlu melakukan investasi ratusan juta pounds untuk membangun stadion baru dari nol. Mereka memang tidak dapat menggali potensi pendapatan secara optimal, namun mereka sudah menikmati keuntungan besar dengan menempati stadion baru modern yang berkelas dunia, plus dengan kapasitas yang lebih besar ketimbang Boleyn Ground yang telah seabad lebih menjadi rumah mereka. Potensi dari tambahan rata-rata jumlah penonton yang hadir, meningkatnya nilai brand, dan harapan akan masuknya sponsor-sponsor baru dinilai sudah lebih dari cukup. Belum lagi menghitung potensi keuntungan jika suatu saat investor dari Asia, Amerika Serikat atau pun Rusia mengajukan tawaran untuk mengakuisisi.

Perlahan tapi pasti, West Ham memang sedang mempersiapkan diri sebagai kekuatan baru. Co-owner Dave Sullivan sendiri telah memberi target bagi klubnya untuk menempati posisi empat besar dalam waktu lima tahun ke depan. Melihat target ambisius ini, memang tidak sulit untuk menilai ke mana arah dari klub bersejarah yang pernah dihuni pemain-pemain legendaris seperti Bobby Moore dan Trevor Brooking: sebuah era yang berubah.

Dengan merangkul erat modernisasi yang bertujuan meningkatkan prestasi dan prestise, akan lenyapkah kesederhanaan yang selama ini menjadi ciri khas West Ham? Akankah kebijakan pengembangan pemain asli akademi berganti menjadi pembelian pemain bintang dari Eropa daratan, kawasan Balkan atau Amerika Latin? Akankah harga tiket dinaikkan sebagai konsekuensi bertambahnya biaya gaji? Lalu di Olympic Stadium nanti, mungkinkah suporter tradisional kelas pekerja berbaur dengan turis penggemar baru?

Ini memang membutuhkan pembahasan tersendiri. Akan tetapi, memang selalu ada dua sisi dalam setiap kebijakan yang diambil, bukan?

Namun sebelum spekulasi liar merebak, Karren Brady, vice-chairman bergerak cepat meredam polemik. “We have always said that the move to our magnificent new stadium would be a game changer for West Ham. It was a chance to increase revenue, invest in the team and improve our performance on the pitch, but without putting an extra financial burden on the supporters who already come to watch every home match. This announcement proves we have kept our promise.”

 

 

Komentar
Aditya Nugroho
@aditchenko, penggemar sepak bola dan penggiat kanal Casa Milan Podcast