Kenapa Mendukung Real Madrid (Harusnya) Membosankan?

Real Madrid Fandom
Real Madrid Fandom

Bukankah membosankan menjadi seorang suporter klub besar namun berulang kali menelan kekecewaan? Apalagi kalau sampai berkali-kali kalah dari rival abadi hingga ada lelucon bahwa stadion kandang kebanggaan tak ubahnya hanya tempat latihan bagi sang rival?

Bagi saya, menjadi suporter Real Madrid adalah memilih untuk menjadi seseorang yang delusional. Semua yang Anda lihat sejatinya tidaklah nyata.

Real Madrid hanya mesin uang besar dengan perputaran fiskal di dalamnya yang begitu masif. Silakan berbangga hati dengan status Los Galacticos, bukankah sebenarnya itu wajar mengingat status El Real yang dulunya begitu dekat dengan rezim Jenderal Franco dan kemudian menjadi justifikasi universal bahwa Real Madrid adalah klub dengan kumpulan pemain bintang saja?

Mengumpulkan pemain bintang dianggap sebagai justifikasi tim yang besar dan kaya sejarah maupun prestasi, dan siapa yang memulai stigma seperti ini? Ya siapa lagi kalau bukan Real Madrid.

Mulai dari Luis Figo, Zinedine Zidane, Luis Nazario Ronaldo, David Beckham hingga masuk ke masa Cristiano Ronaldo dan Kaka berlanjut di era Gareth Bale dan James Rodriguez yang semuanya dibeli dengan harga selangit. Sebenarnya saya penasaran, klub ini ingin menjadi klub besar atau klub pemecah rekor transfer?

Mungkin harusnya disarankan bagi Los Blancos untuk fokus berkompetisi saja di Guinness World Records daripada harus bersibuk ria di kompetisi resmi sepak bola.

Tiap tahunnya, saya suka tersenyum sendiri melihat segelintir suporter Real Madrid yang berkali-kali nyinyir dengan kualitas pemain Liga Inggris yang bagi mereka overrated dan memiliki harga banderol selangit, tapi mereka abai bahwa semua itu sebenarnya hasil stimulus dari apa yang mereka lakukan tiap tahunnya dalam bursa transfer.

Sangat jelas bukan, siapa suruh beli Gareth Bale dengan harga 100 juta euro? Lalu seketika marah-marah tidak jelas karena banderol Raheem Sterling hampir menyentuh 50 juta pounds.

Kelakuan Madridista yang seperti ini rasa-rasanya sangat layak untuk menempatkan mereka di tempat yang sama dengan suporter Chelsea dan Manchester City, atau tambahkan Paris Saint-Germain kalau Anda mau.

Baca Juga:  Masalah Laten di Balik Glamornya Premier League

Memangnya klub mana yang menginisiasi stigma bahwa klub besar harus lekat dengan kebijakan membeli pemain dengan harga selangit dan mengumpulkan pemain bintang?

Sebagai suporter dari sebuah klub kecil di London, saya cukup tahu diri bahwa ekspektasi tiap tahunnya bagi kesebelasan saya tidaklah harus tinggi. Apalah arti menjuarai Liga Inggris kalau untuk bisa stabil di empat besar saja hanya kesebelasan idola saya yang mampu melakukan dalam lebih dari satu dekade terakhir?

Menjadi suporter klub berlogo meriam ini adalah cara untuk berusaha menjadi pribadi yang realistis namun tak jarang, beberapa kali kami juga optimis. Kalau mau dibilang klub besar ya silakan, kalaupun dibilang klub medioker juga tak mengapa, karena memang jelas dalam satu dekade terakhir si Meriam London ini sama sekali tidak mampu menjuarai Liga.

Kalau Real Madrid kan beda. Stigma Galacticos sudah terlanjur menjadi ciri khas mereka. Ciri yang memberi simbol akan keangkuhan dan arogansi tiada tara klub asal ibu kota Spanyol ini.

Sebenarnya jujur saja, dalam satu dekade ini, siapa yang lebih sukses antara Real Madrid dan Barcelona? Kalau mau ditelusuri tentang raihan trofi ya silakan. Kalau mau dilihat dari cara bermain juga boleh. Ah, kalau Real Madrid, pasti mikirnya tentang legitimasi akan status klub terkaya dunia saja ya?

Membosankannya menjadi suporter Real Madrid adalah fakta bahwa tiap tahunnya mereka selalu percaya mampu merebut gelar dan ketika gagal, justru pelatih yang harus dipecat dan dipaksa mundur. Brengsek benar. Dan satu lagi kenapa Real Madrid itu membosankan. Karena Florentino Perez.

Luar biasa benar presiden kesayangan Madridista ini. Mungkin beliau ingin mengikuti jejak yang dilakukan Silvio Berlusconi di AC Milan atau bagaimana, saya juga kurang paham.

Namun melihat apa yang kerap dilakukan Perez selama kepemimpinannya di Madrid, rasa-rasanya masih lama waktu bagi suporter Madrid untuk lepas dari rasa bosan melihat gaya borjuis sang presiden dalam memimpin kesebelasan yang (katanya) terbaik di Madrid ini.

Baca Juga:  Kenapa Bonek FC Lebih Memilih WO?

Walau faktanya, bagi saya sih, Atletico Madrid bersama Diego Simeone jauh lebih punya karakter dan gaya bermain yang menarik daripada rival sekotanya tersebut.

“You are piece of shit. You are more fake than monopoly money.” Kata-kata bernas milik Antonio Cassano yang dikutipkan di halaman awal buku Sepak Bola Seribu Tafsir-nya Eddward Kennedy ini cocok untuk saya tuliskan khusus ke Real Madrid dan beberapa suporter fanatiknya.

Saya belum tahu benar untuk apa dan ditujukan kepada siapa kata-kata Cassano tersebut. Namun mengingat kata-kata itu cukup untuk menggambarkan betapa jengkelnya saya dengan Real Madrid, mungkin itu layak untuk saya kutipkan juga di esai ini. Kebetulan, Cassano pun eks pemain Madrid.

Walau terkesan utopis, sebenarnya saya cukup yakin seandainya sejarah bisa diputar dan rezim Franco tidak menunjukkan kecondongan terhadap Real Madrid, saya percaya, mungkin El Real tidak akan lebih besar dari Getafe atau Rayo Vallecano.

Sampai kapan membanggakan La Decima dan bersembunyi dalam euforia semu namun abai bahwa sebenarnya, untuk menandingi dominasi Barcelona di La Liga saja sudah cukup kewalahan dalam 10 tahun terakhir?

Jangankan Barcelona, Atletico Madrid pun sudah mampu menggoyang dominasi El Real di kota Madrid. Dan siapa tahu, suatu saat nanti ketika investor raja-raja minyak Timur Tengah datang dan berinvestasi di Getafe atau Rayo Vallecano, Real Madrid bisa-bisa menjadi klub medioker di lingkaran kota Madrid.

Ya tentu saja semua masih fiktif dan pengandaian, kan saya bilang di awal paragraf kalau itu terkesan utopis.

Sudah dulu ya. Jangan lupa pakai tagar #HalaMadrid dulu biar kelihatan kalau Anda semua ini bagian dari arogansi semu Real Madrid.

 

Komentar
Isidorus Rio Turangga Budi Satria
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.