Soetjipto “Gareng” Soentoro: Bintang yang Pensiun Muda

Bambang Pamungkas menyatakan pensiun dari tim nasional selepas perhelatan Piala AFF 2012. Ada yang memaklumi pilihannya, namun tidak sedikit pula yang menyayangkannya karena di usia yang ketika itu menginjak 33 tahun, dirinya dinilai masih pantas mengenakan seragam merah putih. Bepe sosok panutan yang masih diperlukan di dalam tim nasional.

Perihal pengunduran diri seperti ini bukan hal baru di sepak bola Indonesia. salah satu legenda sepak bola Indonesia sekaligus salah satu penyerang terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini, Soetjipto Soentoro bahkan memilih pensiun dari timnas pada usia 29 tahun, usia yang masih terhitung muda untuk buru-buru pensiun.

Pemain yang akrab disapa Gareng lantaran tubuhnya yang tidak tinggi ini lahir di Bandung, pada 16 Juni 1941. Walaupun lahir di Bandung, Gareng justru bermain di Persija Jakarta sepanjang kariernya dari 1964 hingga pensiun tahun 1971.

Dia bermain di salah satu era terbaik milik Persija di mana klub ibukota ini dilatih oleh drg. Endang Witarsa dengan pemain berbakat macam Yudo Hadianto, Fak Tek Fong, Supardi, Surya Lesmana, dan lainnya.

Bersama Persija, Soentoro menjuarai Kejurnas PSSI pada 1964 (Kompetisi Perserikatan). Di final, Persija bisa mengandaskan Persebaya Surabaya dengan skor meyakinkan 4-1. Pada saat itu juga, dirinya dinobatkan sebagai top skor Perserikatan dengan 16 gol.

Sebagai penyerang, Gareng merupakan penyerang yang pandai menjaga bola dari sergapan lawan. Dribble yang baik dan cepat dilengkapi dengan kekuatan dan keakuratan tendangan membuatnya ditakuti oleh lawan.

Permainan apik bersama Persija, membawanya masuk ke timnas. Kariernya di timnas dimulai pada tahun 1965 dan terus bermain hingga pensiun dari timnas pada 1970. Dirinya memainkan 68 pertandingan dengan mencetak 57 gol (Jumlah pertandingan dan gol nya bisa berubah jika hanya memasukkan pertandingan resmi atau yang diakui oleh FIFA).

Soentoro adalah bagian dari tim yang dibawa oleh Maulwi Saelan untuk tur ke Eropa melawan Feyenoord Rotterdam (Belanda) yang merupakan juara Eredivisie dan SV Werder Bremen.

Berlaga di negeri orang, bukan berarti dirinya tak mampu mengeluarkan talenta yang dimilikinya. Justru, dirinya mampu mengejutkan orang Eropa yang handal bermain bola.

Pada partai melawan Feyenoord yang berlangsung pada 9 Juni 1965 Soentoro dipercaya sebagai kapten sementara Feyenoord dikapteni oleh Guus Hiddink. Gareng bermain sangat baik di babak pertama dan menghasilkan satu gol setelah mengecoh bek lawan. Skor 1-0 untuk Indonesia bertahan hingga akhir babak pertama.

Baca Juga:  Sebotol Anggur Merah dalam Sosok Cristian Gonzales

Sayang di babak kedua, timnas dibobol 6 gol, walaupun banyak cerita yang mengisahkan bahwa wasit sangat memihak tuan rumah. Pertandingan ini terus dikenang hingga sekarang dan berpusat pada cerita bagaimana Gareng bertarung melawan Guus Hiddink yang jauh lebih besar.

Pertandingan melawan Werder Bremen dilangsungkan tanggal 14 Juni 1965, Gareng kembali membuat kejutan. Dalam pertandingan ini, Gareng berhasil mencetak hattrick.

Walaupun akhirnya timnas kalah 5-6, penampilan Merah Putih tetap layak dipuji. Terbukti, pelatih Werder Bremen, Herr Brocker menawari Soetjipto, Max Timisela dan John Simon bermain untuk klub Werder Bremen.

Kesempatan itu tidak bisa diambil karena mereka sedang bersiap menghadapi Asian Games 1966 di Tokyo. Ada sumber lain yang menyebutkan tidak adanya restu dari Ir. Soekarno untuk bergabung dengan Werder Bremen lantaran alasan politis. Bagaimanapun keputusan itu cukup baik bagi timnas sehingga bisa melaju hingga babak perempat final Asian Games 1966.

Tim yang diarsiteki oleh EA Mangindaan ini dipertahankan dan kemudian berhasil meraih beberapa prestasi bergengsi. Timnas menjuarai Piala Emas Agha Khan pada tahun 1966 dan Juara Piala Raja 1968 (yang merupakan gelar pertama di ajang ini) setelah mengalahkan Burma 1-0 berkat gol dari Soentoro. Sayang setahun kemudian, timnas hanya menjadi runner-up Piala Raja 1969.

Soentoro juga mengantarkan timnas menjuarai Merdeka Games tahun 1969. Timnas juara setelah mengalahkan Malaysia 3-2, di mana satu gol di antaranya dicetak oleh Soentoro.

Di turnamen ini dirinya juga dianugerahi gelar top skor dengan 11 gol. Saat pertandingan semifinal melawan Singapura dia mencetak 8 gol dalam kemenangan 9-2. Dua gol lainnya dicetak di penyisihan grup yang masing-masing satu saat melawan Korea Selatan dan Thailand.

Soentoro tetap dipercaya menjadi kapten timnas hingga Asian Games 1970. Kala itu, timnas berhasil melaju ke babak perempat final Asian Games 1970. Tepatnya timnas jadi peringkat lima setelah mengalahkan Thailand 1-0.

Setelah Asian Games berakhir, Soentoro memutuskan gantung sepatu dengan alasan gagal memberi yang terbaik bagi timnas. Timnas memang dibebani target harus masuk empat besar Asia.

Keputusan yang menunjukkan tanggung jawab besar tetapi juga mengecewakan banyak pihak karena dianggap masih pantas mengemban amanah sebagai penyerang utama timnas. Setahun kemudian, dia memutuskan mengundurkan diri pula dari Persija.

Baca Juga:  Debar di Singapura, Jengah di Indonesia

Setelah pensiun sepenuhnya dari sepak bola (terakhir bermain untuk klub Setia Jakarta) Soentoro mulai berkarier di Bank BNI 46. Dirinya kemudian juga mencoba merintis karier sebagai pelatih setelah memperoleh lisensi kepelatihan di Jerman Barat pada tahun 1978. Klub yang pernah dilatihnya adalah Buana Putra yang berlaga di Galatama, Persiba Balikpapan, Persiraja Banda Aceh, dan lainnya.

Soetjipto Soentoro sendiri pernah melatih timnas U-19 Indonesia. Dia membawa anak asuhnya berlaga di Piala Asia Junior 1978. Tapi, publik kemudian mengenangnya karena membawa tim ini ke Piala Dunia Junior U-20 (FIFA World Youth Championship) 1979 yang berlangsung di Jepang.

Walaupun bukan jawara Asia, Indonesia memperoleh kesempatan ini setelah menerima undangan FIFA dan AFC untuk menggantikan Arab Saudi, juara Piala Asia U-19, yang mengundurkan diri.

Di kejuaraan dunia ini, timnas dibantai dalam tiga pertandingan. Laga pertama menghadapi Argentina, Garuda Muda menyerah 5 gol tanpa balas di mana 2 gol di antaranya dicetak oleh maestro sepak bola dunia, Diego Maradona, sedangkan 3 gol lain dicatatkan oleh Ramon Diaz, tandem Maradona di lini depan. Berturut-turut setelahnya Indonesia menyerah 0-6 dari Yugoslavia dan 0-5 dari Polandia.

Argentina sendiri kemudian keluar sebagai juara dengan Diego Maradona terpilih menjadi pemain terbaik turnamen, sementara Ramon Diaz menjadi top skor. Polandia pun berhasil melaju jauh pula hingga semifinal dan menggondol predikat tim Fair Play.

Pada tahun 1990 Gareng menderita kanker lever. Selama empat tahun beliau harus berjuang melawan kanker lever yang menggerogoti tubuhnya hingga harus berobat ke Jepang. Pada 12 November 1994 di usia 53 tahun Gareng meninggal dunia dan dimakamkan di pemakaman Tanah Kusir, Jakarta.

Soetjipto “Gareng” Soentoro salah satu penyerang terbaik Indonesia sekaligus pemimpin teladan di timnas memilih untuk pensiun dalam usia yang relatif muda. Dirinya pun meninggalkan dunia ini sebelum memasuki usia lanjut.

Tetapi, kisahnya tetap akan berlanjut. Namanya pantas dikenang sebagai salah satu pemain sepak bola terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Dan kita perlu senantiasa mengingatnya.

NB: Naskah ini pernah dimuat di Yahoo! Indonesia pada 2013. Kembali ditayangkan di Fandom sebagai upaya untuk merawat sejarah sepak bola Indonesia. Tulisan ini mengalami perubahan dari versi awalnya dengan memberi tambahan data dan penyesuaian seperlunya.

Komentar
Sirajudin Hasbi
Akrab dengan dunia penulisan, penelitian, serta kajian populer. Pribadi yang tertarik untuk belajar berbagai hal baru ini juga menikmati segala seluk beluk sepak bola baik di tingkat lokal maupun internasional.