Pep Guardiola dan Keterasingan dari Si Kuping Besar

Manchester United besutan Sir Alex Ferguson dan Barcelona yang ditukangi Pep Guardiola menapaki dua partai final Liga Champions hanya dalam kurun waktu tiga musim saja. Kala itu, masing-masing tim memang bermaterikan pemain yang berkualitas di tiap lini.

Meskipun kedua pertandingan tersebut berakhir manis bagi kubu yang disebut belakangan, tetapi Jonathan Wilson memberikan catatan menarik terkait komparasi dua pertandingan tersebut dalam bukunya yang berjudul Inverting the Pyramid.

Pada seri final pertama yang dihelat di Roma pada tahun 2009, Barcelona menang lewat gol Samuel Eto’o dan sundulan legendaris dari pria boncel nan ajaib, Lionel Messi, yang melompat di antara tembok raksasa Manchester United.

Dua tahun berselang di London, Barcelona menang dengan agregat yang sama dalam partai puncak yang dihelat di “rumah” Manchester United. Namun Wilson menuliskan bahwa “the gulf between the team was far greater”.

Final yang turut disaksikan oleh Ratu Elizabeth II itu menunjukkan bahwa Barcelona tengah berada dalam puncak permainannya dengan menghancurkan jawara Liga Primer Inggris tanpa nafas sedikitpun.

Bagaimana pemain Manchester United dengan kostum putih-hitam terus mengejar bola dalam penguasaan pemain Barcelona menjadi pemandangan lazim sepanjang pertandingan. Barcelona menang dengan sangat elegan dan dominan.

Sir Alex Ferguson kala itu bahkan menyebut Barcelona sebagai tim terbaik yang pernah ia hadapi sepanjang kariernya.

Barcelona pada kurun waktu 2008 hingga 2012 merupakan prasasti penting evolusi sepakbola modern yang disebut-sebut sebagai salah satu tim terbaik sepanjang masa. Pep menjadi protagonis yang paling dielu-elukan.

Konsepnya mengenai efektivitas manajemen ruang dan penguasaan bola berpadu dengan kejeniusan pemainnya yang menghasilkan 14 trofi. Taktik yang diusung merupakan pemutakhiran atas filosofi Total Football.

Atas segala capaian tersebut, banyak orang berpendapat jikalau Pep bakal menjadi salah satu pelatih terbaik yang bakal bergelimang gelar.

Waktu membuktikan argumen tersebut. Usai hengkang dari tanah Catalan, Pep berhasil mempersembahkan 16 trofi bagi Bayern Munchen dan Manchester City (setidaknya hingga tulisan ini tayang).

Akan tetapi, trofi Si Kuping Besar perlahan menjadi asing baginya. Berbeda dengan di Barcelona, Pep bahkan acap kesulitan menapaki laga final saat membesut Bayern Munchen ataupun Manchester City. Padahal dua tim itu mampu memberikan apapun yang diinginkannya.

Banyak yang meragukan kejeniusan Pep dikarenakan karier kepelatihannya yang berkutat pada klub besar bermaterikan pemain bagus dan punya sokongan dana gemuk.

Ia kerap dibanding-bandingkan dengan antitesisnya, Jose Mourinho, yang meraih jumlah gelar Liga Champions sebanyak dirinya tetapi mendapat legitimasi perjuangan lebih memukau.

The Special One meraih trofi Liga Champions bersama FC Porto dan Internazionale Milano yang sudah lama tak berkuasa di Eropa. Prestasi yang didapat Mourinho bareng dua tim itu sendiri bak dongeng yang jadi kenyataan. Begitu manis dan dielu-elukan.

BACA JUGA:  Eric Choupo-Moting Haus Gol di Munchen

“Apa yang ingin anda katakan kepada orang-orang yang mengklaim bahwa Anda tidak mampu meraih gelar Liga Champions karena anda tidak memiliki Messi, Xavi, Iniesta…”, tanya seorang wartawan dalam salah satu konferensi pers yang dilansir dari BT Sport.

“Saya setuju”, merupakan jawaban terbaik dari Pep karena sampai sekarang, ia masih berusaha untuk sekadar menapaki partai final Liga Champions. Pada musim ini, dengan skuad yang sesuai kehendaknya, Manchester City untuk pertama kalinya ia bawa ke semifinal usai menghempaskan Borussia Dortmund.

The Citizens bakal berlari laiknya anjing pemburu yang berusaha meraih semua gelar yang mungkin diraih. Disertai ambisi besar Pep mengakhiri rindunya akan atmosfer yang lama tidak ia rasakan bernama partai puncak Liga Champions.

Menjadi Pep Guardiola yang Adaptif

Manchester City tidak larut dalam euforia kelolosannya ke semifinal. Mereka sadar bahwa Paris Saint-Germain yang menjadi lawan, bukanlah kesebelasan sembarangan.

Di bawah arahan Mauricio Pochettino, PSG bermain lebih adaptif dengan mengandalkan kombinasi kecepatan pemain depannya. Apalagi buat menjejak semifinal, Les Parisiens menyingkirkan dua klub besar yang dikenal dengan permainan menyerangnya, Barcelona dan Bayern Munchen.

Meski terkesan tampil lebih pragmatis, Pochettino membuat lawannya kesulitan dengan pressing kolektif yang menjadi ciri khas filosofi bermainnya berikut garis pertahanan yang lebih rendah. Selain itu, PSG sekarang tidak terburu-buru melepaskan bola ke depan untuk meminimalisir potensi kehilangan bola.

Ya, Pochettino di PSG memodifikasi filosofi bermainnya dengan lebih bijaksana selepas pengalaman panjangnya bersama Tottenham Hotspur yang kerap kehabisan bensin di pengujung musim.

Semua karena gaya bermain yang diusung Pochettino mulanya identik dengan filosofi bermain Pep yang mengandalkan garis pertahanan tinggi, penguasaan bola dan pressing ketat yang menguras fisik.

Laga pertama semifinal di Stadion Parc des Princes berlangsung dini hari tadi (29/4). Berbekal skuad yang kualitasnya merata, laga ini diprediksi sengit.

Sepanjang babak pertama, The Citizens direpotkan oleh Les Parisiens. Angel Di Maria, Kylian Mbappe, Neymar, Leandro Paredes, dan Marco Verratti menjadi motor utama permainan tim tuan rumah.

Aksi-aksi mereka berulangkali membuat Ruben Dias dan kolega keteteran. Memanfaatkan tendangan penjuru, Marquinhos akhirnya sukses mengoyak jala Ederson untuk membawa PSG unggul 1-0. Skor ini sendiri bertahan sampai turun minum.

Namun Pep tetaplah Pep. Pada babak kedua, ia menginstruksikan anak asuhnya untuk lebih banyak menguasai bola, menciptakan ruang seluas mungkin untuk berkreasi sembari menekan area pertahanan lawan serta memasang Phil Foden sebagai false nine yang pergerakannya bikin pemain belakang PSG kelabakan.

BACA JUGA:  Refleksi Karier Sergio Aguero

Lewat skema ‘tiki-taka ‘itu, Manchester City akhirnya berhasil membalikkan kedudukan menjadi 2-1 usai Kevin De Bruyne dan Riyad Mahrez mempecundangi Keylor Navas. Padahal, Pep sendiri mengaku kurang menyukai skema ini.

Nyatanya, ia berdamai dengan diri dan ide-idenya agar timnya beroleh hasil positif. Kemenangan Manchester City dalam laga ini menuai pujian dari banyak pihak. Salah satunya adalah Gary Lineker, eks penyerang Inggris era 1980-an dan 1990-an.

“Manchester City sungguh luar biasa di babak kedua. Itu merupakan salah satu performa terbaik dari kesebelasan Inggris di partai tandang dalam sejarah sepakbola Benua Biru”, ucap Lineker seperti dilansir Manchester Evening News.

Meski punya filosofi dan menjadikannya sebagai Imam Besar permainan ofensif, Pep kini bukanlah sosok yang anti buat melakukan penyesuaian. Pep pernah membuat tim asuhannya bermain lebih pragmatis guna mendapatkan hasil yang diinginkan seperti saat bersua Real Madrid pada fase gugur Liga Champions musim 2019/2020.

Wilson mencatat, pada leg pertama di Stadion Santiago Bernabeu, The Citizens hanya memiliki 30 persen penguasaan bola pada 20 menit pertama melawan tim yang secara kekuatan masih ada di bawah mereka.

Dengan penguasaan bola yang lebih minim, Pep bermain lebih efektif dengan menempatkan De Bruyne lebih ke depan ketika bertahan.

Memaksimalkan umpan panjang yang dimanfaatkan oleh deretan pemain depan The Citizens yang cepat, plus De Bruyne dengan umpannya yang mematikan, pertahanan Real Madrid dibuat porak-poranda karena struktur yang kurang rapi.

Saat itu, Manchester City akhirnya melaju ke perempatfinal sebelum dipulangkan Olympique Lyonnais yang bermain ultra-defensif.

Melihat kemenangan Dias dan kawan-kawan atas PSG dan apa yang dilakukannya ketika berjumpa Real Madrid musim silam, Pep membuktikan bahwa ia kini menjadi pelatih yang sangat adaptif dan mendahulukan kepentingan tim daripada filosofi yang ia anut.

Aksi impresif yang diperlihatkan Manchester City membuat kans mereka menjejak final Liga Champions musim ini kian membesar. Jika pada leg kedua semifinal nanti mereka bisa tampil lebih baik dan memenangkan laga, tiket ke partai puncak sudah pasti dikantongi.

Manchester City dengan skuad hebat yang dibangun selama bertahun-tahun dan tanpa tradisi eksepsional di Liga Champions, berpeluang mengecup gelar perdananya sepanjang sejarah.

Di sisi lain, Pep juga bisa menghapus keterasingannya dari partai final kompetisi antarklub terakbar di Benua Biru serta seksinya trofi Si Kuping Besar selama satu dekade pamungkas.

Komentar