Bayern Munchen dan Taman Bermainnya

Selama ini, ajang Bundesliga kerap dinilai sebagai kompetisi yang membosankan. Istilah populernya, Farmers League alias Liga Petani karena juaranya, ya, klub itu-itu saja. Kata itu-itu saja tentu merujuk kepada Bayern Munchen, jawara Bundesliga delapan kali dalam kurun sepuluh musim pamungkas.

Dominasi Bayern di tanah Jerman memang nyata. Namun keberhasilan mereka tidak dibangun dengan cara-cara instan seperti membeli pemain bintang setiap musim karena punya duit segudang seperti yang biasa dipamerkan Manchester City atau Paris Saint-Germain (PSG). Kemampuan Bayern meraih sukses berasal dari tata kelola yang prima, baik dari aspek teknis maupun non-teknis.

Mereka tahu bagaimana cara membangun citra sebagai tim hebat di atas lapangan. Mereka sadar bahwa penguatan sisi finansial akan berpengaruh terhadap prestasi. Mereka paham bagaimana cara merayu pemain potensial maupun berkelas agar mau bergabung ke Stadion Allianz Arena. Satu yang pasti, Die Bayern mengerti segala syarat untuk menjadi entitas yang pilih tanding.

Sepekan lalu (24/8), Manuel Neuer dan kawan-kawan baru saja mengukir catatan gemilang dengan meraih gelar Liga Champions 2019/2020 usai mengandaskan perlawanan PSG di laga final via skor tipis 1-0. Prestasi itu membuat Bayern kembali meraup Treble karena sebelumnya juga jadi kampiun di ajang Bundesliga dan Piala Jerman. Tiga gelar itu sendiri menjadi torehan kedua sepanjang sejarah klub setelah musim 2012/2013 silam.

Lebih jauh, titel Liga Champions kali ini membuat koleksi mereka di kompetisi antarklub nomor satu Eropa itu bertambah jadi enam buah. Praktis, Die Bayern hanya kalah dari Real Madrid (13 titel) dan AC Milan (7 gelar). Jumlah piala Si Kuping Besar Bayern pun sudah sama dengan milik Liverpool.

BACA JUGA:  Mutan Itu Bernama Manuel Neuer

Tak cukup sampai di situ, prestasi mereka di Liga Champions musim 2019/2020 ditorehkan dengan cara yang eksepsional. Neuer dan kawan-kawan sanggup mengemas 43 gol dan cuma kebobolan 8 kali serta juara dengan status tak terkalahkan sejak fase grup!

Rekor itu sendiri cuma kalah dari pencapaian Barcelona di musim 1999/2000 yang membukukan 45 gol. Namun torehan Blaugrana itu didapat dari 16 pertandingan sedangkan Bayern lima laga lebih sedikit.

Musim 2019/2020 tergolong luar biasa untuk klub yang berdiri tahun 1900 ini. Pasalnya, keberhasilan mereka mencaplok tiga gelar justru diawali perjalanan kurang apik pada awal kompetisi. Ya, kala ditukangi Niko Kovac, performa Bayern amat inkonsisten.

Tangan Dingin Hansi Flick

Kekalahan 1-5 dari Eintracht Frankfurt jadi akhir kisah Kovac menangani Neuer dan kawan-kawan. Ia didepak manajemen dan digantikan oleh sesosok pria yang namanya kurang populer, Hans-Dieter Flick atau biasa disapa Hansi Flick.

Alis siapapun berkernyit perihal penunjukan Flick. Namun Bayern percaya bahwa lelaki berumur 55 tahun itu dapat mengubah peruntungan Bayern. Sebelumnya, Flick memang pernah membesut Victoria Bammental dan Hoffenheim sebagai pelatih. Kariernya lantas berlanjut sebagai asisten pelatih di Red Bull Salzburg dan tim nasional Jerman. Per 2014 sampai Januari 2017, Flick mengisi pos Direktur Olahraga di federasi sepakbola Jerman (DFB). Barulah per 2019, ia bergabung dengan Bayern sebagai asisten dari Kovac.

Keputusan yang dibuat Bayern ternyata membuahkan hasil manis. Bersama Flick, tim kembali menemukan konsistensinya. Khusus di ajang Liga Champions, Flick membawa Die Bayern juara dengan status tak terkalahkan sedari fase grup. Secara keseluruhan, anak asuhnya unbeaten di 11 partai, Flick sendiri sudah duduk sebagai pelatih di 8 pertandingan.

BACA JUGA:  Saatnya Menikmati Perjalanan Heroik Getafe (Lagi)

Semenjak mengasuh Bayern, baik dengan status interim maupun resmi sebagai pelatih utama, Flick memegang kemudi di 36 partai. Hasilnya? 33 kali menang, 1 kali seri, dan 2 kali kalah. Neuer dan kawan-kawan mengepak 116 gol dan hanya kemasukan 26 kali. Fantastis!

Tipe kepemimpinan Flick harus diacungi jempol. Patut diakui bahwa Bayern bertransformasi kembali jadi kesebelasan yang solid dan disiplin di bawah asuhannya. Mereka juga tak pernah memandang remeh lawan yang akan dihadapi. Sebuah mentalitas prima dari sebuah kesebelasan hebat.

Level kompetitif dari suatu kompetisi kerap diukur dari siapa saja yang menjadi kampiun. Namun menganggap Bundesliga sebagai liga yang tidak menarik justru membuat sudut pandang kita sempit. Pada akhirnya, Bayern jadi kubu yang tertawa paling akhir. Termasuk menertawakan mereka yang selama ini terlalu mengagungkan Liga Primer Inggris atau La Liga Spanyol.

Tak salah menyebut Bundesliga sebagai lahan memanen prestasi untuk Bayern. Namun tidak seperti klub-klub lain yang dominan di kompetisi domestik saja, ranah Eropa juga bisa jadi taman bermain bagi mereka.

Komentar
Penggemar Chelsea dan Persib. Mahasiswa tingkat akhir yang berharap cepat meraih gelar sarjana. Hobi membaca, mendaki, dan menonton sepakbola, dan juga mempunyai harapan bisa melihat Timnas Indonesia menjuarai Piala Dunia. Dapat disapa di akun twitter @f_wijayaa