Bruno Tetaplah Panglima Perang Manchester United

Secara tak terduga, Manchester United takluk dari Aston Villa di Stadion Old Trafford kemarin malam (25/9). Selain Ole Gunnar Solskjaer, nama Bruno Fernandes begitu ramai dibicarakan di media sosial selepas laga.

Penyebabnya adalah kegagalan gelandang asal Portugal itu menjadi algojo penalti pada menit akhir laga sehingga United gagal menyamakan skor.

Alih-alih melesakkan bola dengan mulus seperti eksekusinya selama ini, semalam Bruno mengirim bola sebelas kilometer jauhnya dari Old Trafford.

Gara-gara itu pula, Bruno dihujani kritik oleh suporter fanatik United. Bahkan ada yang menyebut harusnya ia tak maju sebagai algojo. Berikan saja tugas tersebut kepada kompatriotnya, Cristiano Ronaldo.

***

Sepakbola adalah medan peperangan, demikian ucap sebagian besar penikmatnya di seantero dunia.

Bukankah sepakbola yang bergulir di lapangan hijau harus dimainkan dengan strategi yang matang sekaligus berisiko? Para juru racik itu dituntut untuk mengambil risiko.

Dan dalam peperangan, apapun bisa terjadi lantaran semua pihak pasti menginginkan hegemoni.

Di masa lampau, perang memang mengambil tempat di suatu area luas, bisa di balik pegunungan, lembah, pantai bahkan di tengah kota-kota besar.

Ingat saja seberapa dahsyat perang besar perebutan Konstantinopel sampai Perang Dunia II.

Bedanya kini, sepakbola menggelar peperangannya sambil menenteng “bom” berbentuk bundar yang diantarkan dari kaki ke kaki. Jangan sampai “bom” itu mengarah ke gawang tim sendiri.

“Sepakbola adalah permainan kesalahan. Siapapun yang membuat kesalahan paling sedikit akan menang,” begitu kata sang legenda, Johan Cruyff.

Lantas, suatu peperangan membutuhkan seorang panglima. Tidak akan ada Helmut Schön tanpa Franz Beckenbauer, Rinus Michels tanpa Johan Cruyff, César Luis Menotti tanpa Diego Maradona, dan Pep Guardiola tanpa Xavi Hernandez. Satu hal yang dapat digarisbawahi, tidak akan ada kaisar tanpa panglima.

“Kaisar yang bijak merundingkan dan merumuskan rencana. Sementara panglima yang melaksanakannya,” tutur ahli strategi perang Tiongkok klasik, Sun Tzu.

BACA JUGA:  Menimbang Kehadiran Eric Bailly di Manchester United

The Art of War, mahakarya milik Sun Tzu, nyatanya tak dapat dipisahkan dari geliat sepakbola modern dewasa ini.

Betapa pun jenius rencana yang dimiliki seorang kaisar, tidak akan berjalan seperti yang dikehendakinya tanpa panglima yang mampu merealisasikannya di medan perang.

Dalam dunia manajemen modern, seorang “panglima” harus mempunyai keberanian meraih kemenangan sekaligus memanfaatkan peluang yang ada, sekecil apa pun itu.

Akan tetapi di sisi lain, krisis panglima juga tak bisa dihindarkan. Hal itu pun acap kali menghantam satu imperium secara bergantian, salah satunya United.

Bertahun-tahun, The Red Devils merindukan sosok panglima itu, setidaknya sebelum Januari 2020.

***

Jauh sebelum musim 2021/2022 bergulir, United pernah mengagungkan seorang panglima asal Cork.

Darah panas khas Irlandia yang mengalir dalam tubuhnya terbukti berhasil memimpin kekaisaran Sir Alex Ferguson mempertahankan tahta tertinggi sepakbola Inggris sekian tahun lamanya. Tiap pekannya, lelaki itu disapa Roy Keane.

Panglima berjuluk Human Dynamo itu dinilai sukses mengoperasikan hampir seluruh strategi perang milik Ferguson.

Tak ayal, dirinyalah yang menjaga standar dan disiplin anak buahnya dalam mengarungi musim yang panjang dan terjal. Maka tak heran kalau berbagai mitos disematkan kepada Keane.

Ditarik lebih jauh ke belakang, pasukan perang United juga pernah dikomandoi Eric Cantona.

Kelihaian pria berjuluk King Eric mengimplementasikan taktik racikan Ferguson hampir tanpa cela.

Catatan comeback dan gol-gol menit akhir begitu sering tercipta. Karismanya pun sempat menyihir para penggemar yang menyaksikan.

Arus yang bergelombang itu kini mencapai titik kulminasinya ketika Bruno menapakkan kakinya di Carrington, markas latihan United.

Tak butuh waktu lama, kesaktian sang mantan pemain Sporting CP itu terlihat dalam laga perdananya di Old Trafford.

Gemuruh di The Theatre of Dreams pun tidak bisa terelakkan kala sang Portuguese Magnifico—demikian suporter menjulukinya—mengirim umpan manis kepada Anthony Martial yang berbuah gol.

Layaknya tradisi pasca-perang, Bruno dihadiahi tepuk tangan meriah hingga taburan euforia yang menyesaki Stretford End.

BACA JUGA:  Granit Xhaka, Arsenal, dan Tanah Terjanji

Pelatih United, Solskjaer sudah sepatutnya berterima kasih kepada pihak manajemen. Pasalnya, sepanjang karirnya di United yang masih tergolong pendek, Bruno sanggup menggelontorkan lebih dari 30 gol dalam semua kompetisi.

Kedatangannya memberikan efek instan buat performa tim. Musim lalu, The Red Devils unjuk gigi dengan finis di peringkat kedua Premier League dan menjadi finalis Europa League.

Di atas rumput hijau, Bruno terlihat lebih ngotot dibanding rekan-rekannya. Bisa jadi, hal itulah salah satu faktor yang membuat presensinya kian vital.

Berapa pun perang yang diikuti, tanpa panglima yang andal, kekalahan hanya berjarak sejengkal.

Sejarah mengulangi dirinya sendiri, begitu ujar pepatah Prancis. Arrigo Sacchi pada akhirnya membutuhkan Franco Baresi dan Berti Vogts memerlukan Lothar Matthäus guna melancarkan misinya. Birokrasi di medan peperangan harus dibuat sesempurna mungkin.

Manajemen di atas lapangan, tak bisa disangkal, sangatlah penting. Karena hanya dengan manajemen perang yang disusun dengan baik oleh seorang panglima andal, penaklukan demi penaklukan akan mudah digapai.

Stephen R. Covey, pakar manajemen modern, pernah mendefinisikan seorang pemimpin dan manajer.

“Seorang manajer yang baik dan berhasil, mau tidak mau harus mampu berperan sebagai pemimpin,” jelas Covey.

Meski berjuta-juta kali hairdryer treatment ala Ferguson dilayangkan, para prajurit Manchester Merah tak akan sanggup merebut mahkotanya kembali tanpa kehadiran seorang panglima di tengah mereka.

Kegagalan Bruno mengeksekusi penalti pada menit-menit akhir pertandingan melawan The Villans di Old Trafford memang menyebalkan karena berujung pada kekalahan The Red Devils.

Meski demikian, kegagalan itu tak sepatutnya membuat suporter terus mencacinya dan lupa bahwa kontribusi Bruno semenjak berbaju United selalu krusial.

Bruno sudah menjelma jadi seorang panglima perang United. Kegagalannya semalam pasti tak terlupakan. Namun dari situlah ia akan bangkit sebagai individu.

Kelak, kegagalan takkan ia alami lagi sehingga penaklukan-penaklukan yang diupayakan United bisa diselesaikan secara sempurna.

Ya, Bruno akan memimpin United memenangkan perang mereka yang selanjutnya.

Komentar
Penggemar kritis Timnas Indonesia dan Manchester United selain buku, film, dan musik. Aktif menulis di blog pribadi, pojokbebal.wordpress.com. Bisa disapa lewat akun Twitter @icaleida.