Chiellini yang (Mulai) Tak Kuasa Melawan Usia

Dalam satu dekade terakhir, seiring dengan gelimang prestasi yang ditorehkan Juventus pada kancah domestik, lini belakang La Vecchia Signora dikenal sangat tangguh. Salah satu penyebabnya tentulah presensi Giorgio Chiellini di sana. Pemain yang lahir pada 14 Agustus 1984 di kota Pisa ini memang dikenal sebagai salah satu bek tengah terbaik di generasinya dan pantas bila Juventus bersyukur memilikinya.

Menariknya, sepakbola bukanlah satu-satunya olahraga yang ia tekuni sedari belia. Chiellini memang terlahir dari keluarga yang berada dan sedari kecil, terbiasa menggeluti berbagai aktivitas olahraga. Ia sempat menekuni basket. Namun akhirnya, pilihan Chiellini jatuh ke sepakbola.

Tim junior Livorno menjadi persinggahan awal Chiellini buat mengasah kemampuan sepakbolanya. Di sana, ia mencicipi sejumlah posisi bermain. Mulai dari gelandang sayap, gelandang tengah, sampai akhirnya nyaman dan mematenkan diri sebagai bek sentral.

Bersama Gli Amaranto pula, Chiellini mencicipi debut profesionalnya medio 2000/2001 silam. Semenjak saat itu, grafiknya terus meningkat. Tak heran kalau AS Roma kesengsem dan mau menggelontorkan dana untuk merekrutnya via kepemilikan bersama.

Akan tetapi, sifat dari transfer I Lupi tak lebih dari investasi belaka sebab Chiellini dibiarkan tetap di Livorno dengan status pinjaman. Kubu yang mendapat keuntungan dari transaksi tersebut adalah Gli Amaranto lantaran tenaga Chiellini begitu berguna untuk perjalanan mereka mengarungi kompetisi Serie B 2003/2004.

Menjadi Bintang di Turin

Lagi-lagi melalui skema kepemilikan bersama dan membuat transfernya jadi kompleks, Chiellini menjadi kepunyaan Juventus dan Fiorentina. Namun pada musim 2004/2005, kubu kedua yang berhak mengenakan jasanya. Tanpa tedeng aling-aling, pria setinggi 187 sentimeter ini langsung merebut satu posisi inti di sektor pertahanan La Viola.

Barulah pada musim selanjutnya, Chiellini resmi jadi penggawa Juventus usai La Vecchia Signora menebus kontraknya dari Fiorentina senilai 4,3 juta Euro. Berkat kualitasnya, Fabio Capello yang kala itu menangani Juventus memberinya kesempatan bermain yang cukup sering.

BACA JUGA:  Asmara Semusim Alan Pardew dan Newcastle United

Meski demikian, kariernya tak mulus-mulus amat lantaran musim berikutnya Juventus turun kasta ke Serie B gara-gara tersangkut skandal Calciopoli. Namun kasus itu tak bikin Chiellini pergi dari Turin.

Ia justru memperlihatkan loyalitasnya dan bertahan di sana. Keputusannya tepat karena ia mampu mengantar klub dengan kostum putih-hitam itu langsung jadi kampiun Serie B dan memastikan tiket kembali ke Serie A.

Kendati demikian, turbulensi masih terasa di dalam tubuh Juventus selepas periode muram tersebut. Alih-alih kompetitif, mereka justru akrab dengan mediokritas. Namun dalam momen itu, Chiellini tetap setia merumput di Stadion Allianz dan menjadi pilar utama.

Siapapun pelatih La Vecchia Signora, nama Chiellini selalu ada di daftar teratas bek sentral nomor satu. Posisinya sulit sekali digeser oleh nama-nama lain, termasuk para rekrutan anyar. Per musim 2011/2012, Juventus yang dikomandoi Antonio Conte akhirnya bangkit dari keterpurukan.

Salah satu faktor utamanya tentu kekokohan lini pertahanan yang digalang Chiellini bareng Andrea Barzagli dan Leonardo Bonucci. Ketiga pemain ini bahkan memunculkan sebutan trio BBC, plus Gianluigi Buffon yang masih menghuni pos penjaga gawang, yang melegenda.

Terhitung sejak musim 2011/2012 hingga musim 2018/2019, Juventus tak pernah kebobolan lebih dari 30 gol di Serie A. Penampilan impresif Chiellini dalam mengawal pertahanan membuahkan sembilan gelar Scudetto secara beruntun.

Dengan catatan gemilang tersebut, ia menahbiskan dirinya sebagai satu-satunya pesepakbola yang berhasil mengukir sembilan Scudetto secara berturut-turut dengan satu klub.

Namun kegemilangan Chiellini tidak hanya muncul di level klub. Pada kancah internasional bareng tim nasional Italia, ia juga lama menjadi penggawa pilar.

Hingga tulisan ini dibuat, ia sudah tampil di 105 pertandingan dan bikin 8 gol. Pencapaian terbaiknya adalah membawa Gli Azzurri menembus final Piala Eropa 2012 walau akhirnya keok 0-4 di tangan Spanyol.

BACA JUGA:  Cahaya Berpendar Riyad Mahrez

Digerogoti Cedera dan Usia

Bagi setiap makhluk hidup, termasuk manusia, menua adalah hal yang alamiah. Chiellini pun kini merasakannya. Pada usianya yang mencapai 36 tahun, daya tahan tubuhnya kian melemah. Cedera pun silih berganti menghajarnya.

Berdasarkan data Transfermarkt, Chiellini semakin sering absen dalam rentang tiga musim pamungkas. Mulai dari gangguan pencernaan, cedera paha, cedera betis, cedera otot, sampai masalah di ligamen lututnya.

Semakin ringkihnya Chiellini juga disadari manajemen Juventus. Tak heran kalau mereka dalam beberapa musim terakhir terus merekrut bek-bek muda dengan kemampuan apik seperti Merih Demiral dan Matthijs de Ligt. Dua nama tersebut bahkan terus jadi tumpuan ketika Chiellini jarang merumput.

Dahulu, Jose Mourinho pernah berkelakar jika Chiellini layak mengajar di Universitas Harvard untuk membagi ilmu tentang cara menjadi bek tengah yang hebat. Apa yang Mourinho ucapkan merupakan pujian bagi Chiellini.

Namun sehebat apapun sang pemain, ia tak berdaya melawan putaran waktu. Kemampuan fisiknya terus menurun karena digerogoti usia. Terlebih, ia merupakan figur yang rentan cedera.

Chiellini bukanlah Buffon yang seolah abadi karena sanggup beraksi sampai umurnya mencapai kepala empat. Mungkin masa kedaluwarsa ayah dari Nina dan Olivia tersebut sudah dekat. Kontrak kerja sang pemain di Stadion Allianz akan berakhir pada Juni 2021 mendatang.

Barangkali, Chiellini juga sudah memikirkan untuk pensiun dari dunia yang membesarkan namanya. Walau begitu, saya berharap ia dapat menutup kariernya (andai gantung sepatu dalam waktu dekat), dengan raihan prestasi bersama La Vecchia Signora. Entah itu Scudetto, Piala Italia atau malah Liga Champions.

Komentar
Gerry Maulana
Penggemar Persija dan Juventus yang bisa disapa di akun Twitter @gerrymaulanaaa