Cinta Platonis untuk Indonesia

Sepak bola Indonesia sedang, masih dan akan terus mengalami keadaan yang tidak baik-baik saja. Mau ditarik sampai lima atau satu windu ke belakang pun, keadaannya masih sama.

Sepak bola Indonesia masih jalan di tempat. Pilihan tindakan bagi perkembangan sepak bola Indonesia hanya dua, stagnan dan mundur. Kalau tidak jalan di tempat, ya melangkah mundur.

Sempat mengalami dualisme (coba bayangkan kita pernah ada di satu titik ketika tim nasional terbentuk dalam dua kubu), konflik tak berkesudahan yang menimpa beberapa klub lokal, kondisi internal di federasi yang tak pernah kondusif, isu mafia dan korupsi yang berseliweran di media, sampai pembekuan dari FIFA. Hal-hal ini yang membuat orang malas membicarakan sepak bola Indonesia.

Keruwetan di sepak bola Indonesia itu adalah perkara yang berputar di kisaran hal itu-itu saja. Selalu masalah PSSI. Selalu masalah ketidakbecusan federasi dalam mengakomodasi kebutuhan para anggota yang berada di bawah naungannya.

Semua menjadi makin rumit kala PSSI justru banyak melakukan blunder-blunder fatal dengan menjadikan beberapa klub dengan tradisi dan nama besar sebagai lawan. Makin tidak jelas lagi ketika politik bermain di dalam federasi dan upaya-upaya mengurus sepak bola Indonesia hanya menjadi agenda nomor kesekian.

Padahal tujuan utama adanya PSSI sudah jelas, mengurus sepak bola kita dan membuatnya kembali mengaum menjadi Macan Asia.

Tapi, di balik semua itu, seperti judul buku yang ditulis Miftakhul Faham Syah berjudul Mencintai Sepak Bola Indonesia Meski Kusut, sebusuk dan serusak apa pun kultur dan sistem yang menjalankan sepak bola di negeri ini, rasa sayang dan rindu itu masih menggelegak di sanubari menuntut untuk dipuaskan.

Kalau rindu untuk juara terlalu tinggi, saya bisa menurunkan rindu itu ke titik yang paling sederhana, yakni, menonton timnas berlaga. Walau hanya dari layar laptop yang diharuskan streaming karena laga timnas justru tidak mendapat jatah dari satu pun pemilik media televisi di negeri ini atau ketidakmampuan federasi mengurus persoalan hak siar.

Perbincangan seputar sepak bola Indonesia itu bukan isu yang seksi di kalangan masyarakat kelas menengah saat ini. Mereka, generasi milenial itu, suka dengan sesuatu yang happening, sesuatu yang digandrungi banyak orang pada umumnya.

Fesyen, gajet, isu Pilkada DKI yang bergulir bak bola panas, sampai hasil Pilpres di Amerika Serikat. Semua menjadi topik yang jauh lebih seksi dari membahas sepak bola Indonesia. Miris, ya? Tentu. Tapi apakah hanya sebesar ini saja rindu dan kasih kita untuk sepak bola nasional?

BACA JUGA:  Berharap Performa Aduhai dari Osvaldo Haay

Hampir tiap kali timnas berlaga di beberapa laga latih tanding jelang Piala AFF 2016, linimasa media sosial hampir selalu dipenuhi cuitan orang yang berkomentar tentang timnas. Tentang taktik Alfred Riedl, tentang Irfan Bachdim yang makin matang usai merantau ke Jepang, tentang Zulham Zamrun dan rambut pirang ala Lionel Messi-nya dan masih banyak lagi.

Semua hal itu menandakan satu hal, banyak sekali orang masih cinta betul dengan sepak bola negeri ini. Mereka tahu sepak bola kita busuk. Mereka paham sepak bola kita ibarat orang sekarat yang menunggu maut dan menanti pertolongan tapi justru semakin dipermudah jalannya untuk mati.

Dan mereka tahu, duduk di depan layar kaca atau hadir langsung di stadion, cinta dan rindu untuk timnas masih berkobar dan membara. Masih dan akan selalu membara, karena seperti dendam, rindu pun harus terbayarkan, bukan?

Dan di titik itu, cinta kita untuk sepak bola Indonesia harusnya berada di level platonis. Cinta yang mutlak menggunakan akal sehat dan logika yang merdeka. Cinta yang memerdekakan, ujar Kahlil Gibran.

Cinta yang, menurut Plato dalam salah satu buku filsafatnya berjudul Symposium, hanya melibatkan bagian tubuh dari leher ke atas. Tidak ada birahi di situ. Tidak ada nafsu mendominasi. Tidak ada gairah untuk memiliki, menyakiti atau mengekang. Begitu bebas, merdeka dan nyata.

 

Makna Platonis untuk sepak bola Indonesia

Pegiat dan pencinta sepak bola Indonesia di dalam negeri adalah salah satu yang paling militan di dunia. Stadion Utama Gelora Bung Karno bisa dalam sekejap penuh dan membuat merinding bulu kuduk kala Indonesia Raya dinyanyikan seantero stadion yang penuh sesak dengan warna merah putih khas Indonesia. Militansi itu bukti nyata, bahwa cinta itu selalu ada untuk timnas, untuk sepak bola Indonesia.

Seperti cinta yang platonis, kita tahu sulit rasanya menyampaikan apa yang kita rasakan langsung pada setiap elit yang berada di balik layar operasional timnas. Sulit rasanya menyampaikan aspirasi langsung kepada pengurus federasi dan berharap semua janji ditepati hanya untuk menemui satu fakta mutlak, kita kembali ditipu.

Kita tahu sepak bola sedang tidak sehat di negeri ini, tapi kita tetap mendukung agar sepak bola berjalan. Bukan demi PSSI. Bukan demi klub. Tapi demi cinta bagi sepak bola itu sendiri.

BACA JUGA:  Musik, Sepakbola dan PSIM

Rasa cinta itu merdeka, bebas dan kita tahu akan sakit atau terluka, tapi kita juga punya pilihan untuk bahagia. Dan bahagia itu adalah dengan menonton satu demi satu pertandingan sepak bola yang diselenggerakan di negeri ini. Menonton timnas.

Menonton siapa pun tim yang kalian rasa mewakili semangat dan identitas kedaerahan kalian masing-masing dengan gairah yang masih menyala. Rindu yang berkobar.

Dan mata yang berbinar-binar melihat Firman Utina dan Bambang Pamungkas masih bisa mengolah si kulit bulat di tengah kisruh federasi yang seperti bualan belaka ini.

Bagi saya, sepak bola Indonesia ini adalah rindu yang harus terus menerus menuntut untuk terbayarkan. Ia boleh vakum puluhan tahun sampai saya berusia lanjut, menikah, punya anak dan bersiap mati sekalipun, tapi rindu itu tak akan padam.

Saya ingat laga perdana timnas usai sanksi FIFA dicabut. Laga melawan musuh bebuyutan kita, Malaysia. Laga yang secara surealis, timnas yang sekian bulan absen berlaga bisa bermain gemilang dan menang tiga gol tanpa balas.

Saya menikmati tiap menit pertandingan itu berjalan. Bahkan kalau pembaca mau, saya bisa di luar kepala menjelaskan tiap detil dari proses terjadinya tiga gol timnas malam itu.

Gelak rindu yang seperti itu yang harus kita pelihara di tengah kecamuk di dalam federasi yang bebal dan banal itu. Kita bisa berharap menyaksikan lagi Indonesia yang ganas seperti di AFF 2010 lalu, salah satu penampilan terbaik Indonesia di turnamen resmi yang pernah saya tonton sejauh ini.

Dan memori itu masih ada. Kekalahan tiga gol tanpa balas di Bukit Jalil. Tendangan penalti Firman Utina yang digagalkan Khairul Fahmi saat second leg di Jakarta. Polemik sinar laser dari suporter Malaysia yang dikeluhkan Markus Haris Maulana, kiper timnas saat itu.

Hingga upaya ajaib Presiden kita saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono yang sampai memberi instruksi pada Menpora Andi Mallarangeng untuk mengajukan protes ke FIFA dan AFF terkait kasus laser.

Namun yang paling paripurna dari memori itu hanya satu hal, AFF 2010 adalah satu-satunya turnamen yang membuat saya pulang dari tempat nobar dengan hati lesu seperti seorang pria yang tertolak cintanya oleh wanita pujaan.

 

Komentar
Isidorus Rio Turangga Budi Satria
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.