Cobham Berbinar

Akademi Chelsea yang dikenal dengan nama Cobham saat ini menjadi sorotan. Tentu saja karena performa jebolan-jebolannya yang belakangan ini menarik mata para penggila bola, tak terkecuali fans The Blues sendiri.

Jalan terbuka dimulai dari embargo transfer dari FIFA untuk Chelsea karena melanggar transfer internasional di bawah umur yang berlaku pada tahun 2019 lalu.

Padahal pada tahun yang sama Chelsea terpaksa melepas aset terbaiknya. Eden Hazard dilego ke Real Madrid dan sang pelatih, Maurizio Sarri, dilepas ke Juventus.

Kondisi tersebut menyebabkan The Blues harus memulai tim dari nol. Keadaan ini mendorong mereka untuk lebih memercayai pemain jebolan Cobham yang telah menimba ilmu di klub pinjaman pada musim-musim sebelumnya.

Kebetulan, sepeninggal Sarri, Chelsea mendapuk legenda hidup klub, Frank Lampard, sebagai pelatih.

Sosok yang amat dicintai publik Stamford Bridge itu tergolong ramah kepada pemain muda. Ia tak ragu memberi ruang kepada pemain muda dari Cobham untuk mentas dan membuktikan diri.

Seiring dengan rendahnya ekspektasi fans, Lampard dan skuad mudanya justru sanggup memberi jawaban memuaskan.

Chelsea berhasil finis di empat besar Premier League 2019/2020 serta menjadi finalis Piala FA.

Sayangnya, perjalanan yang kurang elok pada musim 2020/2021 bikin Lampard dicopot dari jabatannya di tengah jalan.

Posisi lowong yang ditinggalkan Lampard kemudian diisi oleh pria asal Jerman, Thomas Tuchel. Menariknya, bekas pelatih Mainz tersebut tetap memercayai sejumlah jebolan Cobham.

Tammy Abraham, Andreas Christensen, Callum Hudson-Odoi, Reece James, dan Mason Mount dikombinasikan dengan sosok-sosok berpengalaman serta berkualitas yang ada di skuad.

Nama-nama di atas pun ikut berkontribusi atas keberhasilan Chelsea merengkuh titel Liga Champions keduanya sepanjang sejarah usai menekuk Manchester City pada babak final.

Selang beberapa bulan, meski Abraham akhirnya dijual ke AS Roma, Chelsea kembali menambah koleksi silverware-nya dengan menjuarai Piala Super Eropa berbekal pemain-pemain lulusan akademinya.

Pada musim 2021/2022, selain bergerak aktif di bursa transfer dengan merekrut beberapa pemain anyar semisal Romelu Lukaku dan Saul Niguez, The Blues juga mempromosikan Trevoh Chalobah dari akademi.

BACA JUGA:  Parma: Narasi Kejayaan dan Titik Nadir

Keputusan manajemen klub dengan terus memberi kepercayaan pemain-pemain akademinya menembus tim utama menjadi kebijakan yang amat diapresiasi.

Pasalnya, sebelum embargo transfer yang dijatuhkan, lulusan Cobham begitu sukar masuk ke tim utama dan menjadi pilar.

Praktis, hanya John Terry yang merupakan penggawa akademi dan melesat sebagai bintang tim selama beberapa musim serta mematenkan status sebagai legenda.

Nama-nama lain seperti Carlton Cole, Robert Huth, dan Charlie Musonda lebih mirip penumpang moda transportasi.

Sejak diambil alih oleh Roman Abrahamovich pada tahun 2003, total ada 50 pemain akademi Cobham yang berhasil melakukan debut tim utama Chelsea.

Akan tetapi, hanya sedikit yang berhasil bersaing di tim utama. Pada The Athletic, Cole dan Huth menyatakan bahwa kedatangan pemain bintang mengancam posisi mereka di tim utama.

Padahal di musim 2003/2004 mereka berdua baru saja mendapatkan debut di tim utama Chelsea.

Musim selanjutnya, ada 11 pemain yang didatangkan untuk memperkuat armada tempur The Blues. Alhasil, Cole dan Huth pun pun tergusur dari tim utama dan akhirnya pindah ke klub lain.

Pada awal-awal kepemimpinan Abramovich, memang ada tendensi untuk cepat-cepat meraih prestasi dari sang pemilik. Tak heran kalau ia rela merogoh kocek dalam-dalam buat memboyong nama tenar ke London Barat.

Kendati Chelsea didaulat sebagai tim paling sukses di Inggris pada dekade lalu (2011-2020), sedikit sekali pemain akademi yang terlibat dalam kesuksesan tersebut.

Pemain akademi yang ada pada saat itu hanya sebagai salah satu ladang bisnis klub dengan banyak dijual ke klub lain.

Beberapa tahun terakhir, Abramovich terlihat ingin mengubah pendekatannya. Ia tak hanya merekrut bintang, tetapi juga mengorbitkan lulusan akademi klub.

Selain itu, dirinya juga memperbaiki branding klub serta fasilitas latihan agar lebih komplet dan modern.

Sejak 2003, memang banyak yang berubah dari Chelsea. Apalagi kedatangannya juga diikuti dengan masuknya Peter Kenyon sebagai Chief Executive Officer (CEO).

The Blues pun akhirnya berkembang menjadi kesebelasan top di Inggris dan Eropa berkat prestasinya. Selain itu, mereka juga semakin dikenal luas sehingga banyak sponsor yang mau bekerja sama.

BACA JUGA:  Chelsea (1-0) Manchester United: MU Menguasai Bola Tapi Chelsea Menguasai Permainan

Cobham sendiri termasuk dalam evolusi yang dihadirkan Abramovich. Ia memindahkan fasilitas latihan klub ke sana sebab fasilitas latihan di Harlington dinilai ketinggalan zaman.

Terlebih, Harlington juga dekat dengan bandara Heathrow yang merupakan bandara tersibuk di Inggris sehingga kondisinya makin tidak ideal.

Cole kepada The Athletic bahkan menyebut Harlington amat buruk. Relokasi fasilitas latihan ke Cobham menelan biaya tak 20 juta Poundsterling dan mulai beroperasi per 2008 silam.

Semenjak saat itulah akademi Chelsea mulai memproduksi talenta-talenta muda secara konsisten walau awalnya tak banyak dipercayai untuk masuk tim utama.

Dahulu bahkan ada salah satu pelatih Chelsea yang mengatakan bahwa akademi Chelsea sebaiknya ditutup karena memakan biaya operasional terlalu banyak dan tidak memberi manfaat bagi tim utama. Namun hal tersebut tidak terjadi dan hasilnya baru dirasakan sekarang.

Berbuahnya akademi Chelsea dimulai dari treble winners yang diraih di musim 2014/2015 hingga back to back gelar UEFA Youth League pada musim selanjutnya.

Kini, Chelsea memanen buah dari pohon yang mereka tanam beberapa tahun silam. Menariknya, lulusan akademi mereka tak cuma bersinar saat menjadi andalan klub.

Sejumlah nama yang dipinjamkan ke kesebelasan lain juga memperlihatkan kilaunya. Sebut saja Tariq Lamptey, Connor Gallagher, Marc Guehi, Billy Gilmour, Armando Broja, sampai Tino Livramento.

Dari akademi sendiri, ada satu nama yang tengah mencuat yakni Lewis Hall. Diyakini, ia bisa menjadi pemain hebat di masa depan.

Julukan Chelsea sebagai tim instan mungkin saja masih melekat di kalangan fans sepakbola hingga saat ini. Namun dengan investasi besar yang dilakukan Abramovich untuk akademi klub, perlahan-lahan julukan tersebut tidak lagi relevan.

Pemain akademi secara konsisten berhasil masuk ke tim utama Chelsea. Mereka yang gagal masuk ke tim utama pun tetap eksis dengan menjadi andalan tim lain.

Hal itu menunjukan bahwa kualitas Cobham semakin jempolan dan akan terus menghasilkan pemain potensial di masa yang akan datang.

Komentar
Fans sejak kecil Chelsea FC dan pendukung klub lokal Persiba Bantul. Suka nasi goreng. Banyak omong soal Chelsea di akun @farras_iz.