Demi Indonesia, Kita Rela Terluka

Demi Indonesia, Kita Rela Terluka
Demi Indonesia, Kita Rela Terluka

Demi Indonesia, Kita Rela Terluka

Sabtu pagi (12/10), saya bersama dua rekan jurnalis lain bertemu di salah satu kafe di bilangan Blok M. Kami berbicara tentang banyak hal yang tak jauh-jauh dari sepak bola. Mulai dari tim nasional (timnas) Indonesia, gosip tentang calon Ketua Umum PSSI hingga membahas dua klub semenjana, Arsenal dan AC Milan, yang kebetulan menjadi klub favorit rekan-rekan saya.

Dari sekian banyak bahasan, hanya bahasan mengenai timnas Indonesia yang paling mengena. Terutama karena kami berkumpul manakala skuat Garuda sedang mempersiapkan komposisi terbaik demi menjamu Vietnam (15/10).

“Seminggu sebelum timnas bertanding, kita pasti akan ngece. Nggak perlu nonton mereka, wong hasilnya sudah ketahuan. Namun satu jam sebelum pertandingan dimulai, kita, dengan rasa penasaran yang kuat, bakal menyalakan televisi dan mencari siaran langsung timnas,” tutur Mas Mohammad Ilham dari Jawa Pos.

Saya tercenung. Pun begitu dengan Isidorus Rio dari IDN Times.

“Kamu tahu kenapa?” tanya Mas Ilham.

Kami berdua menunggu kalimat penjelasan yang bakal meluncur dengan renyah dari Mas Ilham.

“Itu karena memang kita ini masokis. Kita adalah bangsa yang senang menderita. Kita senang melihat timnas walau kita tahu pasti bahwa pertandingan tersebut takkan dimenangkan oleh Indonesia.”

Berdasarkan kbbi.web.id, masokis bermakna perasaan senang tatkala disakiti. Umumnya, hal ini berkaitan dengan aktivitas seksual (meski tak melulu perihal itu).

Awalnya saya kaget, tapi pelan-pelan saya mulai memahami maksud dari ucapan Mas Ilham. Apa yang beliau utarakan memang sangat rasional. Sepakbola sanggup mengubah perasaan benci menjadi perasaan suka dalam waktu yang singkat.

Kalau bukan perasaan suka, sepakbola dapat ‘menyihir’ siapa saja untuk penasaran melihat. Dan sekali lagi, awal mula dari cinta adalah rasa penasaran.

BACA JUGA:  Sajian Komikal Laga Semifinal AFF 2016

Bagi saya, selalu ada perasaan optimistis ketika Indonesia berlaga. Perasaan itu sendiri acapkali menepuk dada dengan angkuhnya dan selalu berbisik bahwa Stefano Lilipaly dan kolega akan memenangkan pertandingan tersebut.

Namun konyolnya, di dalam lubuk hati yang paling dalam, ada sebuah tangan yang menarik perasaan tersebut menjadi sebuah perasaan yang logis dan realistis.

Mereka seakan berkata, “Sudahi rasa yakinmu karena yang bermain kali ini adalah Indonesia. Bukan kesebelasan raksasa.”

Dua perasaan yang saling bertolak belakang itu beradu di dalam dada dan kepala. Timnas Indonesia seakan memiliki kekuatan gaib yang mampu mengajak tiap-tiap orang untuk tetap menonton pertandingan mereka. Padahal, kita semua tahu bahwa skuat Garuda belum kuasa melepas jubah pecundangnya.

Saat melawan Uni Emirat Arab (UEA) dan bermain pada pukul 23.00 Waktu Indonesia Barat (WIB), kita juga tetap menonton pertandingan tersebut, bukan? Mantra jangan biarkan Indonesia berjuang sendirian seolah terpatri dalam di benak kita sehingga rela begadang demi menyaksikan penampilan mereka, yang sialnya, senantiasa buruk.

Kontra UEA, Lilipaly dan kawan-kawan digunduli dengan skor telak 0-5. Indonesia, sekali lagi, jadi pecundang. Di momen macam ini, PSSI melalui akun twitter resminya selalu berkicau bahwa kekalahan tersebut adalah pelajaran berharga.

Dari situ, kita seakan diajari untuk terbiasa menerima kekalahan sebab hal itu menyimpan banyak pelajaran yang kelak berguna. PSSI memandu kita supaya kekalahan bukanlah suatu hal yang wajib dikhawatirkan atau ditakutkan. Alasannya simpel, kekalahan adalah bagian dari permainan.

Hal serupa kembali tersaji tatkala Indonesia bersua Vietnam. Walau performa timnas sedang menukik, fans Indonesia tetap setia menyaksikan laga, baik di stadion maupun hanya lewat televisi.

BACA JUGA:  Lekaslah Bersuara, Persibara!

Akhirnya, skuat Garuda mesti bertekuk lutut di hadapan sang rival dengan skor 1-3. Kekalahan yang kemudian membuat fans membanjiri media sosial dengan caci maki gara-gara rasa kecewa yang menggunung di dada. PSSI? Ya, begitu-begitu saja. Santuy.

Di sisi lain, glorifikasi kemenangan timnas, kendati melawan sesama tim gurem macam Fiji dan Timor Leste, tetap dibudayakan sebagai sesuatu yang paripurna. Sebuah pencapaian yang heroik.

Dasarnya, kita memang masokis. Kita senang dipecut, dipukul, dan dicaci maki oleh orang lain. Bagi kita, itu adalah sebuah kesenangan. Ibarat orang bersenggama, tindak-tanduk yang menyakitkan dianggap sebagai aktivitas penting demi beroleh kenikmatan puncak dalam bercinta.

Apakah sesudah ini kita akan berhenti mendukung dan menyaksikan timnas berlaga? Pasti tidak, kan?

Itulah kita, para penggila sepakbola Indonesia. Orgasme kita hadir tatkala melihat timnas bermain. Demi Indonesia, kita pun bertransformasi jadi manusia pencinta balbalan yang selalu rela perasaannya terluka.

Komentar
Penulis adalah seorang mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Mencintai sepakbola seperti mencintaimu. Penikmat Sepak bola Indonesia dan Italia. Dikontrak seumur hidup oleh Gresik United dan AS Roma dengan kepimilikan bersama atau co-ownership. Yang mau diskusi tentang sepak bola ataupun curhat tentang cinta, bisa ditemui di akun twitter @alipjanic .