Lelah dan Jenuh yang Mematikan Hasrat Toni Kroos

Seiring dengan rontoknya tim nasional Jerman pada fase 16 besar Piala Eropa 2020, keputusan untuk pensiun dari timnas juga semakin menderu-deru di dada Toni Kroos.

Melalui akun Twitter pribadinya, gelandang flamboyan ini mengutarakan bahwa petualangannya dengan kostum Der Panzer sudah sudah selesai.

Banyak yang menyayangkan keputusan Kroos untuk tak lagi membela Jerman di kancah internasional. Pasalnya, usia lelaki kelahiran Greifswald ini baru menginjak 31 tahun.

Dilihat dari sudut pandang manapun, ia masih berada dalam fase terbaik sebagai pesepakbola. Buktinya, ia masih menjadi andalan di sektor tengah klub yang diperkuatnya, Real Madrid. Perannya sulit digantikan oleh nama-nama lain yang lebih muda datang silih berganti ke Stadion Santiago Bernabeu.

Kendati demikian, ada banyak orang yang tak terlalu terkejut dengan keputusan Kroos. Pada salam perpisahan yang ia unggah di Twitter itu, Kroos mengaku ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya serta fokus dengan kariernya di ibu kota Spanyol.

Saya pun jadi teringat akan ucapan legenda tim nasional Indonesia, Bambang Pamungkas. Bepe, sapaan akrabnya, pernah menyebut tiga hal sebagai musuh utama pesepakbola.

Musuh pertama berwujud cedera. Sementara musuh kedua adalah popularitas dan musuh ketiga adalah kejenuhan. Dari sekian hal tersebut, saya merasa Kroos tengah bertarung dengan hal yang disebut paling akhir.

Dengan segala hiruk-pikuk sepakbola yang dijalaninya selama kurang lebih satu setengah dasawarasa pamungkas, Kroos mulai jenuh.

Mantan pelatihnya di Bayern Munchen, Jupp Heynckes, pada 2017 lalu sempat mengatakan sesuatu kepada Kroos.

“Kroos baru berumur 27 tahun tetapi sudah memenangkan Liga Champions tiga kali, mencicipi manisnya Treble Winners saat memperkuat Bayern, dan menggondol trofi Piala Dunia 2014 bareng Jerman. Seharusnya, ia bisa pensiun dengan tenang sekarang”, ungkap Heynckes seperti dilansir Bolanet.

Empat tahun berselang, guyonan itu menjadi kenyataan. Di luar ungkapan itu hanya sebuah candaan atau tidak, tetapi yang dikatakan Heynckes memang ada benarnya.

Sebagai seorang gelandang kelas dunia, Kroos telah memenangi segalanya di level klub maupun timnas. Carilah semua gelar prestisius di dunia, maka semuanya ada di dalam saku Kroos.

BACA JUGA:  Sepak Bola di antara Bisnis dan Gairah

Sebiji trofi Piala Dunia bersama Jerman, diekori dengan empat titel Liga Champions, tiga trofi Bundesliga dan Piala Liga, sepasang gelar La Liga, dan masih banyak lagi menjadi rekam jejak ayah dari Leon, Fin, dan Amelie ini.

Satu-satunya gelar juara yang belum sanggup diraihnya adalah Piala Eropa. Beberapa kali mencoba, kegagalan memang selalu menerpa Kroos bareng Der Panzer.

Sayangnya, kegagalan-kegagalan itu tidak memotivasinya untuk berusaha merengkuhnya pada perhelatan Piala Eropa 2024 yang akan datang. Padahal, ajang itu bakal dimainkan di negeri sendiri.

Berbagai rumor pun beredar terkait pensiunnya Kroos dari timnas. Salah satunya adalah eks gelandang Bayer Leverkusen tersebut memang ingin menyudahi kiprahnya dari ajang sepakbola dalam waktu dekat, tepatnya setelah masa bakti bersama Madrid kedaluwarsa per musim panas 2023 mendatang.

Pada awal musim 2020/2021 kemarin, Los Blancos dikabarkan siap memberi kontrak jangka panjang kepada Kroos. Namun secara tidak diduga, ia menolak hal tersebut.

Ia mengaku bahwa dirinya bukan pesepakbola yang dapat bermain sampai usia 38 tahun. Dengan kontrak yang masih mengikatnya sampai 2023, artinya Kroos masih akan bermain setidaknya sampai usia 33 tahun.

Menurutnya, momen itu adalah kesempatan untuk memikirkan kembali tujuannya di masa depan sehingga ia tak terburu-buru mengiyakan tawaran kontrak baru dari Madrid.

Saya pun teringat sebuah peribahasa klasik. Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu. Kroos bisa saja terus menampilkan aksi terbaiknya selama merumput. Namun apa yang ia rasakan, apa yang ia pikirkan, cuma dirinya yang tahu.

Barangkali kejenuhan makin menggerogoti hasrat Kroos untuk terus bermain sepakbola. Terlebih ia sudah berkali-kali mengutarakan bahwa fisiknya amat terkuras dalam beberapa tahun terakhir.

Sampai-sampai, dalam sebuah wawancara Kroos menganggap bahwa pesepakbola masa kini hanyalah bonek dari induk organisasi yang menyelenggarakan sebanyak-banyaknya pertandingan (baik di level klub maupun timnas) demi meraup keuntungan tanpa peduli nasib mereka. Utamanya yang terkait sisi kesehatan, baik fisik maupun psikologis.

Apa yang dikatakan Kroos bukanlah pepesan kosong.  Apalagi pada masa pandemi seperti sekarang. Alih-alih mendapat kelonggaran jadwal bermain, tenaga mereka justru diperah habis-habisan.

BACA JUGA:  Bayern Munchen dan Stigma Liga Petani

Kompetisi yang diselenggarakan dibuat dengan jadwal yang sangat padat. Padahal di sisi lain para pemain kudu menjaga kondisinya dan terus melakoni segala macam tes kesehatan agar tidak terpapar virus Covid-19.

Keadaan macam itu tentu berpotensi membuat para pemain jenuh dan bahkan stres. Bagaimana mereka bisa nyaman bermain kalau ancaman virus Covid-19 terus membayangi.

Mari kita bayangkan jadwal laga Kroos bareng Madrid. Sabtu, ia dimainkan pada ajang La Liga. Minggu melakoni istirahat sebelum kembali berlatih penuh ada hari Selasa. Pada hari Rabu, ia mesti bermain lagi di ajang Liga Champions dan terbang jauh ke kota tertentu guna melakoni laga tandang.

Pada hari Kamis, ia pulang kembali ke Spanyol dan harus berlatih lagi pada hari Jumat usai melakukan sedikit pemulihan fisik. Sabtu ia masih berlatih guna menyiapkan diri sebelum turun berlaga lagi pada hari Minggu.

Di sela-sela itu semua, Kroos kudu menjalani tes kesehatan agar tidak terserang Covid-19 serta mengetahui kondisi tubuhnya usai melahap beraneka menu latihan.

Adanya jeda internasional seringkali ikut memperparah kondisi yang ada sebab jadwal pertandingan dari momen itu juga ketat. Pemain lebih capek? Sudah pasti. Pemain yang menanggung risiko cedera? Tentu saja.

Beberapa dari kita sebagai penonton, pasti gembira melihat banyaknya pertandingan yang tersaji dan dapat kita saksikan saban harinya. Pun dengan pihak federasi, klub maupun sponsor karena itu berarti semakin banyak pundi-pundi yang didapat.

Namun pernahkan terpikir oleh kita bahwa para pemain ini kelelahan dan butuh waktu berkumpul dengan keluarga tekanan untuk selalu tampil baik di atas lapangan tak menghantui. Sudahkah kita memperlakukan mereka dengan layak?

Pada akhirnya, Kroos telah membuat keputusan yang kita semua harus hormati. Semoga saja, ia mendapat lebih banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarganya seperti yang diinginkan selama ini.

Dari kisah Kroos, muncul pula asumsi bahwa tidak menutup kemungkinan jika alasan para pesepakbola gantung sepatu lebih dini pada masa yang akan datang bukan disebabkan oleh cedera tak berkesudahan, melainkan rasa lelah dan jenuh akan sepakbola itu sendiri.

Danke, Toni.

Komentar
Nurul Arrijal Fahmi
Seorang penggemar Real Madrid yang sedang menjalani masa kuliah di Universitas Negeri Surabaya. Dapat dihubungi di akun Twitter @RijalF19.