Dominasi Apparel Sepakbola Negeri Gajah Putih Pada SEA Games ke-29

Semarak pesta olahraga dua tahunan se-Asia Tenggara kembali menggema mulai awal bulan Agustus ini. Yup, pada bulan ini, Southeast Asian Games atau yang lebih akrab dikenal sebagai SEA Games resmi digelar.

Pada penyelenggaraan ke-29 kali ini, ibu kota negara Malaysia, Kuala Lumpur, terpilih untuk menjadi tuan rumah.

Total terdapat 38 cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan pada SEA Games-Kuala Lumpur 2017, termasuk sepakbola. Menariknya, pada cabang sepakbola kali ini, Thailand mendominasi para peserta negara lain.

Eits, tunggu dulu, bukan mendominasi dalam hal permainan (meski mereka tetap superior seperti biasanya), melainkan dari segi teknis sebagai penyedia perlengkapan tim.

Sampai dengan babak penyisihan grup, dari total 11 negara partisipan pada cabor sepakbola, 5 di antaranya memakai merek apparel asal Thailand. FBT tercatat menjadi perusahaan apparel Thailand dengan tim terbanyak pada pesta olahraga Asia Tenggara ini.

Apparel kenamaan asal negeri Gajah Putih tersebut memegang hingga 3 tim, yaitu Kamboja, Myanmar, dan Laos. Sebagai tambahan, FBT juga menjadi sponsor utama dari SEA Games-KL 2017.

Sumber: Dokumen pribadi/Instagram @JerseyJalan

 

Kemudian, 2 tim lainnya kompak memakai merek apparel Grand Sport, yaitu timnas Thailand dan Vietnam. Grand Sport merupakan official partner untuk kontingen Thailand, hal ini yang menjadikan timnas sepakbola Thailand memakai produk Grand Sport, bukan Warrix yang sudah menjalin kerjasama dengan Football Association of Thailand pada awal 2017.

Sementara Vietnam memang melanjutkan kerjasama dengan apparel yang berbasis di Bangkok ini, kerjasama tersebut sudah terjalin sejak Piala AFF 2014 silam.

Uniknya, pencapaian apparel asal Thailand ini menyamai, bahkan melampaui, apparel luar negeri yang sudah terkenal. Sebagai contoh adalah Nike, perusahaan apparel asal Amerika Serikat ini hanya menjadi sponsor untuk 3 timnas pada SEA Games-KL 2017, yaitu Indonesia (kontrak dengan Nike telah usai tapi masih menggunakan produk Nike, red.), Malaysia, dan Singapura.

BACA JUGA:  Analisis Final Piala AFF 2016 Indonesia 2-1 Thailand

Menariknya, sejarah mencatat bahwa Grand Sport-lah yang berperan dalam menggeser Nike sebagai sponsor utama timnas Thailand pada 2012 silam dan Vietnam (2014).

Sementara itu, 3 timnas lainnya masing-masing bekerjasama dengan 3 apparel berbeda. Seperti Brunei Darussalam yang masih setia dengan Lotto untuk menyediakan perlengkapan timnas sepakbolanya.

Kemudian Filipina, yang memilih untuk tetap melanjutkan kerjasama dengan perusahaan apparel nasionalnya, LGR, yang telah terjalin sejak Piala AFF 2014.

Terakhir ada Timor Leste, negara yang terhitung sebagai newbie dalam SEA Games ini menjadikan apparel asal Indonesia, Narrow, sebagai official partner penyedia perlengkapan tim nasional sepakbolanya.

Lebih lanjut, sebagai bagian dari komunitas Asia Tenggara, ASEAN khususnya, tentu kita bisa berbangga diri karena kita pun bisa mematahkan hegemoni apparel ternama dunia yang pernah mendominasi hampir setengah dari timnas negara-negara di Asia Tenggara.

Hadirnya FBT dan Grand Sport turut mengembangkan serta meramaikan persaingan apparel asal Asia Tenggara.

Akan tetapi, sebagai seorang Indonesia, hal ini pasti menimbulkan pertanyaan yang memang sudah ramai mengemuka, kemana apparel-apparel lokal Indonesia?

Padahal dari segi kualitas produk, kita tidak kalah bagus dengan apparel asal Thailand tersebut. Berangkat dari hal ini, tidak hanya penulis, tetapi seluruh masyarakat Indonesia tidak henti-hentinya berharap agar di masa depan merek-merek apparel Indonesia bisa maju dan meramaikan persaingan apparel-apparel regional dan internasional.

Yang perlu diyakini adalah, bukan sebuah kemustahilan bagi apparel-apparel asal Indonesia untuk bisa menjadi official partner negara-negara Asia Tenggara lainnya, termasuk untuk timnas Indonesia itu sendiri.

Terpenting adalah adanya kemauan, jika kemauan sudah ada, maka cepat atau lambat pasti bisa maju dan menembus persaingan apparel internasional.

Komentar
Seorang asisten dosen Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) & pengamat sepakbola Asia Tenggara yang mendukung Persija, Selangor FA, dan Warriors FC.