Dukungan (Support) dalam sepakbola

Sepakbola merupakan olahraga kolektif 11 lawan 11. Karenanya, faktor “mampu bekerja dalam tim” dan dapat saling mendukung/menyokong (support) satu dengan yang lain merupakan elemen krusial.

Definisi dukungan

Dukungan adalah sebuah keadaan ketika satu atau lebih pemain memiliki satu atau lebih rekan setim yang memberikan dukungan memadai dalam usaha menguasai permainan.

Perlu diperhatikan, menguasai permainan, tidak terbatas kepada permainan menyerang. Menguasai permainan harus selalu mampu dilakukan baik di dalam fase bertahan maupun fase menyerang.

Keharusan menguasai permainan berorientasi kepada target spesifik. Misalnya, ketika membangun serangan dari lini belakang, target pertama adalah memprogres bola kepada nomor 10 yang berada di area tengah, di sepertiga tengah lapangan.

Kalau akses tersebut tidak memadai atau tidak ada sama sekali, bola dapat disirkulasi ke salah satu sisi lapangan untuk kemudian diprogres ke target awal tadi oleh bek sayap. Dengan berhasil mengakses nomor 10, target awal dalam fase membangun serangan telah berhasil dicapai.

Perhatikan apa yang dilakukan oleh Nemanja Matic dan Ander Herrera dalam ilustrasi di bawah.

Matic dan Herrera membantu lini belakang melepaskan diri dari pressing lini pertama Tottenham.

 

Metode di atas merupakan salah satu metode progres paling umum. Gelandang bertahan mendukung fase membangun serangan dan ditugaskan sebagai papan pantul untuk keluar dari pressing lawan sekaligus mengalirkan bola ke wilayah di mana penjagaan lawan sangat minim.

Seperti yang terlihat dalam diagram di atas, progres serangan selanjutnya dilakukan oleh Ashley Young kepada Marcus Rashford yang berlari diagonal ke area sayap.

Tanpa kehadiran Matic dan Herrera, sangat mungkin sekali pressing Spurs berhasil memaksa sirkulasi Setan Merah berlanjut dengan umpan ke belakang kepada David De Gea. Artinya, tidak ada progres serangan di sini.

Salah kaprah terhadap dukungan

Banyak salah kaprah terhadap konsep dukungan. Salah satu salah kaprah yang paling sering terjadi dan dapat ditemui dengan mudah di sepakbola akar rumput di sekitar kita adalah instruksi eksplisit pelatih yang (terlalu) sering mengomando pemain untuk menjemput bola dari belakang.

Instruksi semacam ini paling mudah ditemui ketika bek menguasai bola dalam fase membangun serangan dari lini belakang. Saat si pelatih merasa bola tertahan terlalu lama di belakang, ia akan bereaksi dengan berteriak “Bantu!” dengan maksud agar rekan terdekat mendekati pemegang bola untuk membantunya melakukan progres.

Dalam praktiknya, hal semacam ini bisa menjadi salah pun bisa menjadi benar. Apa yang dilakukan oleh Matic dan Herrera dalam grafik sebelumnya di atas sesuai model permainan Jose Mourinho dan dilakukan dengan tujuan taktik yang tepat guna dan, karenanya, aksi kedua pemain tersebut dapat dibenarkan.

Di sisi lain, “bantu dan jemput” bisa menjadi salah ketika aksi ini dilakukan tanpa dasar model permainan dan komunikasi yang jelas. Tanpa model permainan dan landasan komunikasi yang tepat, aksi “bantu dan jemput” sering kali malah menutup opsi-opsi lain yang lebih strategis.

Faktor dukungan dalam fase menyerang

Saat menang 3-2 atas Porto di pertandingan ketiga Liga Champions baru-baru ini, Leipzig menggunakan sisi kiri – half space dan sayap – secara masif sebagai lokasi serang untuk masuk ke kotak penalti Porto.

BACA JUGA:  Lisandro Martinez dan Raphael Varane: Duo Tembok Tebal Manchester United

Dua pola serangan yang digunakan untuk membuka ruang di sisi kiri adalah mensirkulasi bola ke sayap kanan lalu melakukan perpindahan ke kiri atau memainkan bola di tengah sejenak untuk kemudian memindahkannya ke kiri.

Saat memainkan alternatif serangan kedua, Leipzig selalu berusaha mengakses pemain terjauh secara vertikal, terlebih dahulu. Dalam kamus taktik permainan posisional, pemain terjauh dalam konteks ini disebut sebagai vertical depth atau kedalaman vertikal.

RB Leipzig membuka ruang serang di sisi kiri (kotak merah) memanfaatkan sirkulasi di sektor tengah.

 

Situasi serang Leipzig pada diagram di atas menunjukan Sabitzer sebagai pemain terjauh yang dimaksud. Untuk memfasilitasi terbukanya akses ke pemain terjauh tentu dibutuhkan dukungan (support) struktural yang memadai. Dan di sinilah konsep “bantu dan jemput” sering kali harus dibuang sejauh mungkin.

Perhatikan Bruma dan Kevin Kampl. Keduanya, sebagai yang pemain berposisi terdekat ke Willy Orban, tidak serta-merta turun mendekati Orban untuk menjemput bola.

Bruma mengambil sikap “menjauh” dengan bergerak sedikit ke kanan. Kampl sendiri “menjauh” dengan mengambil posisi sedikit ke atas.

Ditambah pengambilan posisi Naby Keita yang “mengikat” Danilo, Leipzig berhasil membentuk formasi berlian mini dinamis. Penempatan posisi Kampl, Keita, dan Bruma mengikat lini gelandang Porto sekaligus mengakibatkan terbukanya jalur umpan kepada Sabitzer.

Struktur Leipzig di sektor tengah menarik pressing Porto terkonsentrasi merapat ke tengah. Ketika Orban melepaskan umpan diagonal ke depan, kepada Sabitzer, Leipzig mulai memainkan stimulus (rangsangan) pertama kepada lawan.

Saat Sabitzer melakukan umpan balik (back pass) kepada Kampl, saat itulah stimulus kedua dilepaskan. Stimulus-stimulus yang dimaksud di sini adalah aksi Leipzig untuk menstimulus (merangsang) atau memancing pemain Porto bergerak/bereaksi dengan tujuan agar Leipzig mendapatkan keuntungan ruang dan waktu di area tertentu – dalam hal ini di sayap kiri.

Orban, Bruma, Kampl, dan Keita menciptakan struktur mini dan memainkan stimulus untuk memancing atensi lawan agar terkonsentrasi ke tengah. Ketika konsentrasi lawan tersedot, ruang serang di kiri terbuka dan Kampl segera mengaksesnya dengan memberikan umpan horisontal kepada Marcel Halstenberg.

Contoh lain yang serupa tapi tak sama adalah juga berasal dari pertandingan United vs Tottenham. Salah satu taktik progres serangan United ke sepertiga akhir adalah memainkan umpan datar jarak jauh menyasar kepada penyerang yang berlari diagonal dari tengah menuju ke half space atau sayap. Bagaimana United bisa mendapatkan jalur umpan yang diinginkan, berikut visualisasi sederhananya.

Formasi berlian Manchester United membuka jalur umpan bagi Eric Bailly untuk mengakses Rashford (kedalaman vertikal).

 

Herrera dan Valencia mendukung progres bola yang harus dilakukan oleh Baily dengan cara “mengikat” pemain lawan di kedua sisi Bailiy agar jalur umpan di tengah terbuka lebar tanpa gangguan berarti (bersih).

Seperti yang dilakukan oleh Kampl dan Bruma, Herrera dan Valencia bertindak sebagai support yang membantu Bailly mendapatkan jalur progres “bersih” kepada Rashford.

Faktor dukungan dalam fase bertahan

Prinsip mendasar serta maha penting dalam bertahan adalah menghindari kebobolan dan merebut penguasaan bola secepatnya dengan cara membatasi keuntungan ruang dan waktu bagi tim menyerang.

BACA JUGA:  Peran Hamsik Role untuk Ivan Rakitic di Berlin

Dalam jurnal milik Clemente, Filipe Manuel, et al., 2015, Clemente dan kawan-kawan menyebutkan 5 prinsip penting dalam bertahan, yaitu delay (menunda), cover (menutup/melindungi), balance (seimbang), concentration (memusatkan), dan defensive unit (unit pertahanan). Perhatikan video di bawah.

Hertha Berlin menggunakan 9 pemain untuk mempertahankan kotak penalti. Sampai sebatas ini, apa yang dilakukan Hertha merupakan sesuatu yang ideal.

Tetapi, perhatikan menit 14:49 ketika Hertha gagal merebut bola kedua. Tidak kurang dari 6 pemain Hertha membangun overload di sisi kanan. Yang buruk dari overload Hertha di sayap kanan adalah mereka memampatkan area di sekitar bola dan mengeroyok 6 pemain Dortmund tetapi melonggarkan penjagaan di sektor paling krusial, yaitu area di depan gawang! Akibatnya, tercipta situasi 2 lawan 2 yang pada gilirannya mempermudah Aubameyang mencetak gol.

Dukungan kuat di sayap tidak dibarengi keberadaan dukungan memadai di area krusial.

Dalam lanjutan Serie A, Juventus mencuri 3 poin di kandang Milan melalui 2 gol Gonzalo Higuain. Salah satu aspek terbaik dari permainan Juventus adalah keberhasilan anak asuh Max Allegri dalam memblokir area tengah dan membuat peredaran bola Milan berbentuk seperti huruf U dan beredar di luar blok pressing Juve.

Compactness blok pressing Juventus di sektor tengah sering kali membuat peredaran sirkulasi bola Milan berbentuk seperti huruf U.

 

Mengacu kepada 5 prinsip Clemente, et al., 2015, kita dapat mempelajari elemen taktik dalam pressing Juventus di atas.

  • Pressing Higuan kepada Romagnoli merupakan usaha menunda (delay) progres bola. Higuain mencoba memaksa Romagnoli memainkan bola ke pinggir lapangan;
  • Panah hitam pada Khedira menunjukan pressing ke depan dengan tujuan memberikan perlindungan atau menutup (cover) ruang di belakang Higuain sekaligus menjaga Franck Kessie;
  • Dengan merapat ke tengah, Juventus tengah memusatkan (concentration) blokade pressing ke sektor tengah, sekaligus mengarahkan atau memusatkan (concentration) sirkulasi bola Milan di luar blok pressing Juve;
  • Keseimbangan (balance) Juventus tercapai karena, di dalam blok pressing-nya, Juventus mendapatkan situasi menang jumlah mutlak (10 lawan 5) yang diakibatkan oleh rapatnya jarak antarpemain di dalam blok;
  • Unit pertahanan (defensive unit) adalah tentang bagaimana masing-masing individu menempatkan diri secara tepat berorientasi ke bola, kawan, lawan, dan sirkulasi bola lawan.

Penutup

Memahami apa definisi dan – yang lebih penting lagi – bagaimana membangun sebuah sistem di mana para individu mampu saling memberikan dukungan taktik menjadi salah satu elemen krusial. Menciptakan dukungan yang kuat sama dengan membangun tim yang solid.

Perlu diingat, dukungan, selain mengacu kepada model permainan juga harus selalu memperhitungkan bahwa dukungan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh keberadaan ruang dan waktu.

Pemain sangat perlu menyadari dan paham bagaimana mengantisipasi terhadap keberadaan ruang dan waktu terkait usaha masing-masing individu untuk memberikan dukungan memadai ke setiap rekannya.

Komentar