Superioritas Arema di Piala Bhayangkara 2016

Arema Cronus berhasil menuntaskan perlawanan Persib Bandung di final Piala Bhayangkara di Gelora Bung Karno, Minggu malam (3/4). Skor 2-0 menjadi mutlak mengingat dominasi Arema sepanjang laga dan sepanjang turnamen.

Dengan arahan pelatih Milomir Seslija, dan gerbong Eropa Timur-nya bersama Goran Gancev dan Srdjan Lopicic berhasil membantu Arema tampil luar biasa sepanjang turnamen. Hanya kemasukan satu gol dari enam laga dan berhasil mencetak cleansheet sejak terakhir dibobol Fadli Sausu (Bali United) di partai pembuka.

Di final, Arema dan Milo menunjukkan kepada Persib apa yang patut diwaspadai dengan gaya baru permainan Arema yang menyerang dengan efektif dan efisien. Singo Edan, sepanjang turnamen, mampu bermain stabil dengan menyesuaikan gaya terhadap pola permainan lawan.

Melawan Persib arahan Dejan Antonic yang terkenal acapkali bermain direct dan dipenuhi para breaker di lini tengah, Arema beralih dengan poros serangan melalui tusukan sayap lewat Dendi Santoso dan Esteban Vizcarra. Dua gol Arema pun, keduanya diawali dengan proses menusuk dari sayap.

Salah satu yang menarik dari Arema di turnamen kali ini adalah komposisi pemain yang lebih solid dengan masuknya Hamka Hamzah dan Goran Gancev di posisi palang pintu. Perginya Kiko Insa ke Bali United dan Purwaka Yudi ke Persib tidak begitu terasa karena duo palang pintu anyar ini tampil solid dan brilian.

Itu masih ditunjang dengan Johan Alfarizie yang di turnamen kali ini menjelma sebagai salah satu bek sayap terbaik bersama Saiful Indra Cahya milik Sriwijaya FC. Alfarizie bahkan dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen berkat kontribusinya yang signifikan bagi klub kebanggaan Aremania ini.

Beralih ke sektor tengah, ketiadaan Ahmad Bustomi mampu ditutupi dengan baik oleh dua gelandang baru dalam diri Srdjan Lopicic dan Raphael Maitimo. Maitimo bahkan berkontribusi menyumbangkan gol di partai final. Mereka berdua membentuk trio gelandang komplet bersama Hendro Siswanto yang sesekali bergantian dengan Juan Revi dan Fery Aman Saragih.

Yang menarik di sektor penyerangan, adalah bersinarnya kembali Dendi Santoso yang konsisten tampil baik usai tampil super di partai perdana melawan Bali United.

Itu masih ditambah dengan kepercayaan yang diberikan lagi oleh Milo kepada sang joker yang terlupakan milik Arema, Sunarto. Pemain ini lama menghilang karena di era Joko Susilo, Sunarto jarang mendapat menit bermain yang memadai dan jarang mendapat kepercayaan penuh.

BACA JUGA:  Modifikasi Tiki-Taka Luis Enrique Memberikan Kemenangan Penting Bagi Barcelona atas Real Madrid di La Liga

Tentu tak lupa untuk menyebut Cristian Gonzales. Penyerang tajam nan cerdas yang tak habis meski sudah memasuki usia senja.

Untuk lebih lengkapnya, berikut beberapa hal yang patut diwajarkan kenapa superiotas Arema di turnamen kali ini adalah sinyal yang baik untuk peluang mereka di Indonesia Soccer Competition (ISC) mendatang.

Taktikal

Ketika Persib memulai era baru bersama Dejan Antonic, Arema juga membuka lembar baru bersama Milomir Seslija. Milo ini datang dengan diiringi beberapa masalah, salah satunya polemik kasus Kiko Insa sebelum yang bersangkutan akhirnya pindah ke Bali United jelang Piala Bhayangkara.

Setiap pelatih, sudah seharusnya memiliki gameplan yang jelas tentang apa dan bagaimana ia ingin timnya bermain.

Rekrutmen yang dilakukan Milo pun terbukti jitu dengan beberapa pemain baru yang datang langsung nyetel dengan kebutuhan dan pola permainan yang ingin ia kembangkan. Skuat Arema yang praktis tidak banyak mengalami perombakan besar, menjadi makin solid dengan masuknya pemain yang sesuai dengan strategi Milo.

Pelatih asal Bosnia-Herzegovina ini memiliki satu hal menarik terkait pola taktikalnya di lapangan. Formasi di atas kertasnya pun relatif standar antara 4-2-3-1 klasik dengan dua gelandang jangkar dan tiga gelandang serang di belakang Christian Gonzales, atau 4-3-3 dengan trio gelandang Lopicic-Hendro Siswanto-Maitimo membentuk komposisi alot di tengah.

Tapi, keistimewaan Milo di Arema adalah kemampuannya dalam mengaplikasikan taktik sesuai dengan keadaan di atas lapangan dan melihat kondisi strategi lawan.

Contohnya, ketika bermain melawan tim dengan gaya menekan tinggi dan cenderung menyerang, Arema era Milo akan bermain dengan garis pertahanan rendah dan relatif bermain mengandalkan serangan balik cepat yang efektif dan efisien.

Laga melawan Bali United dan Sriwijaya FC di semifinal adalah bukti fleksibel dan efektifnya permainan Arema di turnamen ini. Hal ini menjadi sesuatu yang baru di sepak bola Indonesia karena jarang ada pelatih, baik lokal ataupun luar negeri yang bermain dengan banyak strategi dalam satu pertandingan.

Di final pun, Arema berani berganti pendekatan dengan memainkan garis pertahanan tinggi dan bermain menekan karena didukung oleh taktik Dejan yang memang mengubah Persib menjadi tim yang gemar bermain bola direct langsung menuju target man di depan.

BACA JUGA:  Lazio (1-2) Internazionale: Blunder Mengubur Lazio di Olimpico

Ditambah barisan gelandang Persib di final, Hariono-Taufiq-Kim Kurniawan juga bukan seorang deep builder yang baik dan tidak nyaman berlama-lama membawa bola. Ini membuat Arema leluasa menekan Maung Bandung di daerah pertahanan mereka sendiri dan beberapa kali bisa lolos dengan menusuk dari sektor sayap lewat Dendi di kanan atau duo Vizcarra-Alfarizie di kiri.

Secara taktikal, Arema era Milo ini ibarat minuman kelapa muda di siang hari yang terik. Arema begitu segar, kuat dan sangat taktis. Satu dari sederet hal yang mutlak untuk dipahami guna mewajarkan capaian prestasi mereka di Piala Bhayangkara kali ini.

Skuat

Pada musim turnamen yang acapkali bergulir hanya dalam rentang bulan per bulan, merombak skuat dengan masif sudah menjadi kebiasaan beberapa klub di Indonesia. Arema pun sempat melakukan perombakan yang besar, walau tidak masif. Itu pun hanya untuk mengisi stok pemain asing yang pergi dan menambal beberapa lini dengan para pemain muda.

Rekrutmen terbaik skuat Arema di turnamen ini adalah duo palang pintu, Hamka Hamzah dan Goran Gancev. Karena keduanya pernah bersama di Pusamania Borneo FC, komunikasi dan kekompakan di antara mereka memudahkan Arema untuk memainkan sistem pertahanan yang kokoh.

Ditambah, status Hamka yang didaulat sebagai kapten tim dan memiliki kharisma cukup baik memudahkannya untuk menggalang lini belakang dengan Gancev, Alfarizie dan Ryuji Utomo atau Hasyim Kipuw.

Selain dua nama palang pintu tersebut, kredit terbesar patut disematkan untuk empat pemain yang menurut hemat saya, bertanggung jawab besar membuat serangan dan fleksibilitas Arema begitu menyenangkan untuk ditonton kali ini. Mereka adalah Johan Alfarizie, Hendro Siswanto, Dendi Santoso dan the one and only, Cristian Gonzales.

Dengan beberapa hal yang dijabarkan di atas, dipadu dengan cemerlangnya Milomir Seslija, turnamen Piala Bhayangkara 2016 memang sudah selayaknya dimenangkan Arema Cronus dengan cara yang sangat brilian. Mereka tim yang bermain sempurna sejak awal, stabil selama turnamen dan mencapai klimaks yang manis di final. The best team wins.

 

Komentar
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.