Duo Kiper Muda Di Balik Bayang-bayang Gianluigi Buffon

Baru-baru ini Gianluigi Buffon mengungkapkan rencana untuk pensiun selepas helatan Piala Dunia 2018. Sebuah pernyataan yang tidak terlalu ingin didengar oleh penggemarnya, but well, a hero can’t lives forever.

Namun di sisi lain, kabar ini bisa jadi sangat dinantikan oleh ratusan atau jika tidak terlalu berlebihan ribuan talenta muda Italia yang sudah menantikan lengsernya sang Superman. Pertanyaan selanjutnya adalah siapa penerus Buffon?

Di negeri yang mengutamakan pertahanan yang solid dan terkenal akan taktik catenaccio-nya, posisi kiper di Italia sudah barang tentu menjadi pusat perhatian dan sangat dihormati. Dan berbicara tentang posisi numero uno di la Nazionale –tim nasional— tidak bisa jauh dengan siapa yang juga menjadi nomor satu di klub yang sejauh ini masih menjadi peraih Scudetto terbanyak di Italia, Juventus.

Posisi nomor satu di bawah mistar Bianconeri telah didekap Gigi –sapaan akrab Buffon— selama 14 musim terakhir, semenjak kepindahannya dari Parma untuk menggeser posisi Edwin van der Sar yang cukup beruntung bisa memegang posisi nomor satu selama dua musim.

Sebelum meneer Edwin, portiere (kiper, red.) nomor satu Juve tabu untuk diisi pemain asing. Sebagian besar dari kiper stranieri ini hanya mampu bertahan sebagai deputi dengan peran cameo. Sebut saja nama Alex Manninger, Fabian Carini, hingga yang paling gres, Neto, yang sebelumnya tampil sangat apik bersama Fiorentina dan bukan tidak mungkin berpeluang menjadi nomor satu di tim Samba.

Keberadaan Juventus sebagai salah satu tim besar di Italia dan sepak bola Italia yg selalu mengutamakan pertahanan, menjadikan siapa pun yg berada di posisi bawah mistar bianconeri dalam sorotan publik Italia yang sangat passionate.

Lalu, siapa saja-kah yang berpeluang menggantikan posisi Gigi di Juventus, untuk selanjutnya merebut sarung tangan menjadi nomor satu di Italia? Perlu diingat bahwa penulis akan fokus pada pemain Italia dari jalur ini, walaupun tidak dapat dipungkiri banyak talenta muda potensial lain yang tidak bernaung di bawah Bianconeri.

Nicola Leali

Dari sekian banyak nama yang berlalu-lalang di youth setup, ada dua nama yang patut dikedepankan. Nama pertama mewakili talenta muda yang menembus Juve lewat pembelian dari klub lain, adalah Nicola Leali, kiper muda yang direkrut Juve dari Brescia dan saat ini tampil membela Frosinone, tim yang musim ini promosi ke Serie A.

Penampilan pemuda yang kala itu berusia 18 tahun pada awal musim 2011/2012 bersama Brescia di Serie B yang akhirnya membuat Juve memboyongnya pada musim berikut. Selepas transfer, Leali muda langsung dipinjamkan ke Virtus Lanciano (2012/2013), dan Spezia (2013/2014) untuk menimba ilmu di kasta kedua kompetisi Italia. Pada musim selanjutnya ke Cesena (2014/2015) dan terbaru Frosinone pada musim ini, untuk semakin mematangkan skillnya di Serie A.

Perlu dicatat bahwa pada semua klub tersebut, Leali bermain sebagai portiere utama dan tampil terbilang stabil. Lalu bagaimana peluang Leali?

Sebagai orang awam tentunya kita bisa berhipotesis bahwa seorang pemain muda yang direkrut dari klub lain dengan tebusan uang transfer, merupakan pemain yang diinginkan atau diproyeksikan untuk mengisi skuat utama.

BACA JUGA:  Mengenal Endrick Felipe, Talenta Muda Brasil yang Dibeli Real Madrid

Tetapi tunggu dulu, di Juve that’s not always been the case. Sebut saja Marco Constantino yang datang dari SPAL, menghabiskan setahun di Juve Primavera, dipinjamkan berturut-turut ke Latina, SPAL dan Valle d’Aosta, untuk akhirnya terlempar dari Juventus.

Atau contoh lain yang lebih tenar, Morgan De Sanctis yang ditebus  Juve saat berumur 19 tahun dari Pescara pada musim 1996/1997,bertahan menjadi pelapis ketiga (kala itu ada Signore Angelo Peruzzi dan Michelangelo Rampulla), hingga akhirnya menemukan jalannya di klub lain.

Saat ini selain Leali, ada Vincenzo Fiorello (dibeli dari Sampdoria, sekarang dipinjamkan dan menjadi kiper utama Pescara), Alberto Brignoli (dibeli dari Ternana, sekarang dipinjamkan di Sampdoria), dan Francesco Anacoura (free transfer dari Parma, dipinjamkan ke Rimini).

Selanjutnya siapakah nama kedua yang patut diperhitungkan menjadi pengganti Buffon?

Emil Audero Mulyadi

Rasanya publik Italia tidak bisa mengabaikan penjaga gawang utama Juventus Primavera saat ini. Ya mungkin Anda sudah sering mendengarnya, dia adalah Emil Audero Mulyadi, pemuda berusia 19 tahun kelahiran Mataram, Indonesia.

Berbeda dengan Leali yang datang dari jalur pembelian, maka Emil datang dari jalur pembinaan tim junior Juventus. Ia tercatat dipromosikan dari Juventus U-17 ke Primavera musim 2013/2014, untuk selanjutnya masuk ke rooster tim utama pada musim ini sebagai kiper ketiga setelah Gigi dan Neto. Sebuah lompatan mengesankan mengingat di tim utama masih ada Rubinho, penjaga gawang senior lainnya.

Emil mengawal gawang Juventus Primavera setelah tampil baik di UEFA Youth League pada akhir tahun 2013 dan perlahan menggeser Gianmarco Vanucchi, yang akhirnya dipinjamkan ke klub lain, untuk menjadi portiere utama mulai musim 2014/2015. Pada musim ini, Emil yang sempat mengenakan ban kapten, masih melaju bersama Juventus Primavera di Coppa Italia Primavera dan belum terkalahkan di Campionato Primavera Girone A, dengan lima pertandingan tanpa kebobolan dari sebelas pertandingan yang dimainkannya.

Lalu dengan berada pada jalur homegrown ini, apakah posisi Emil aman? Belum tentu. Tercatat nama Carlo Pinsoglio yang merupakan kiper binaan Juventus yang sudah pernah dipinjamkan ke lima klub lain dalam enam tahun kompetisi, namun hingga kini masih menunggu peluang masuk tim inti. Demikian pula Timothy Nocchi yang mengenyam gemblengan tujuh klub dalam tujuh tahun kariernya di Juve hingga kini.

Posisi Gigi Buffon memang belum bisa dipastikan kosong medio 2018. Tidak sampai sang Superman benar-benar menyerahkan jersey nomor satunya kembali ke Si Nyonya Tua. Namun dalam tempo dua tahun ke depan kira-kira bagaimanakah peluang kedua kiper muda tadi?

Saat ini secara obyektif, nama pertama lebih dikedepankan. Bagi Nicola Leali, pondasi kariernya telah dibangun dengan baik. Pengalamannya sebagai kiper utama di beberapa tim dengan lebih dari 90 pertandingan di Serie B dan mendekati 50 laga di Serie A, tentunya menjadi bukti solid bagi siapa pun pelatih Juventus saat mendatang.

BACA JUGA:  Terima Kasih, Totti!

Hal ini masih ditambah catatan kariernya di timnas Italia dari U-16 hingga U-21. Dalam dua tahun ke depan mungkin pilihan terbaik bagi Leali adalah terus memperoleh jam bermain sebanyak mungkin di kompetisi kasta teratas, dalam hal ini Serie A.

Situasi akan menjadi sedikit dilematis baginya apabila musim depan Juve kehilangan Neto yang masih ingin menyelamatkan kariernya, dan Leali dipanggil kembali ke Juve untuk diplot menjadi cadangan Buffon. Tetapi kondisi demikian juga dapat dijadikan berkah bagi Leali apabila dirinya dapat menunjukkan performa eksepsional dalam kesempatan yang terbatas. Sembari menunggu singa tua legowo melepaskan tahtanya.

Bagaimana dengan Emil? Di atas kertas Emil muda memang masih terlalu hijau. Sejauh ini memang hanya tim Primavera yang sukses ia gawangi. Itu pun masih harus ia buktikan dengan prestasi yang lebih baik untuk mengisi lemari trofi Juventus Primavera yang tahun belakangan ini kosong.

Namun secara keseluruhan, Emil memiliki dua kartu AS yang tidak dimiliki Leali sekarang. Yang pertama, Emil masih tampil sebagai kiper timnas Italia U-19 sehingga ia dapat terus mengasah kemampuannya di level internasional. Berbeda dengan Leali yang harus menembus  timnas utama untuk dapat tampil.

Kedua, Emil memiliki status sebagai pemain homegrown Juventus. Status ini menurut penulis sangat istimewa, mengingat tidak terlalu banyak pemain homegrown yang bertahan lama di skuat utama Juventus.

Bagi Juve sendiri, akan merupakan sebuah kebanggaan apabila pemain “galur (alur atau garis keturunan, red.) murni” didikannya berhasil mencapai muara yang semestinya, yaitu skuat utama Juventus. Dan posisi Emil sebagai portiere, semakin membuatnya istimewa mengingat bahkan Buffon pun bukan homegrown Juventus.

Saat ini di tim utama, hanya Claudio Marchisio yang menyandang “galur murni” Juve. Perlakuan istimewa sebagai homegrown mungkin dapat terlihat ketika Juve memberi kesempatan kesekian kalinya untuk Sebastian Giovinco dalam bersaing merebut posisi di tim utama Juventus.

Satu langkah krusial bagi Emil yang telah terlewati adalah masuk sebagai rooster tim utama Juventus, termasuk di Liga Champions. Walaupun saat ini dirinya hanya menjadi cadangan kiper ketiga dan masih mengawal gawang tim Juventus Primavera, namun dengan sedikit kesabaran serta kesempatan latihan yang terus menerus di Juventus maupun timnas Italia U-19, sudah pasti ia berada di jalur yang benar untuk menjadi suksesor Gianluigi Buffon.

Akankah bocah Lombok sukses mengangkangi Leali nantinya di tim utama Juventus?

Dalam dua tahun ke depan pastinya kita akan disuguhi perjalanan menarik dari dua nama ini. Sedangkan di level timnas Italia, di luar Juventus ada talenta Mattia Perin dan rising star Milan Gigi Donnarumma yang siap meramaikan persaingan.

Khusus untuk Emil, performa dan peluang dari pelatih serta dukungan manajemen Juventus akan menjadi kunci sejauh mana nantinya kiper muda ini akan bersinar. The next numero uno di Bianconeri dan Nazionale? Why not? Perche no?

 

Komentar