Antonio Conte: Pelatih ‘Killer’ yang Menjadi Panutan

Antonio Conte
Pelatih Tottenham Hotspur, Antonio Conte. (skysports.com)

Jika di dunia pendidikan ada istilah guru killer atau dosen killer, dalam sepakbola juga ada istilah pelatih killer. Sosok yang layak menyandang gelar itu adalah Antonio Conte.

Conte memang dikenal sebagai pelatih penuntut, ia tidak mau diganggu, dibantah, didesak dan seterusnya. Ia akan menjadikan tim yang ia latih menjadi 100% miliknya.

Bahkan Giorgio Chiellini dalam autobiografinya mengatakan bahwa kekuatan terbesar Conte adalah ‘reset’.

Artinya, Conte akan membuat tim tersebut mau melakukan apa yang ia mau sampai hal yang paling kecil. Dan bagi yang melawan atau protes bakal ia ‘bunuh’ .

Karakter keras pria berpaspor Italia tersebut memang terbentuk sejak ia kecil. Lahir sebuah kota kecil bernama Lecce pada 31 Juli 1969 silam, Conte menghabiskan masa kecilnya dengan bermain sepakbola jalanan.

Di sana, ia terbiasa kerja keras, hidup mandiri dan benar-benar menyelami kehidupan jalanan karena orang tuanya sibuk bekerja.

Sejak muda Conte memang dikenal sosok yang dominan. Dia adalah sosok pengatur orang lain yang ulung.

Tidak heran saat memperkuat Lecce muda ia pernah didapuk sebagai pelatih karena kemampuannya menanamkan kerja keras yang tinggi pada rekan-rekannya.

Dalam sebuah wawancara Conte pernah mengatakan “Ketika seseorang hidup dalam kenyamanan, maka ia akan malas bekerja dan meraih sesuatu yang ia inginkan. Saat saya hidup di jalan, saya belajar banyak hal.

Mengambil bola di atas pohon, meski harus memanjat pohon tersebut, memberikan saya pelajaran bahwa jika ingin mendapatkan apa yang kita inginkan, kita harus berkorban. Itulah yang saya tanamkan kepada para pemain saya sekarang,”

Pun ketika ia masih bermain di Juventus sebagai gelandang bertahan. Conte memang dikenal sebagai sosok yang punya determinasi yang tinggi dan pemahaman taktiknya pun mumpuni.

BACA JUGA:  Menantikan (Kembali) Wakil Italia di Final Liga Europa

Tak heran jika ia sempat didapuk sebagai kapten Juventus pada tahun 1996.

Kini, Conte masuk dalam jajaran pelatih top dunia dengan gaya main khasnya 3-4-3. Ia dikenal sebagai pelatih yang menginginkan timnya bermain dengan intensitas tinggi.

Sehingga ia menginginkan timnya memiliki fisik yang prima. Maka dari itu Conte sangat intens dalam latihan.

Chiellini juga pernah mengatakan ketika setelah berlatih bersama Conte maka pemain bukan lelah tapi mati. Hal menggambarkan betapa kerasnya latihan ala Conte.

Selain latihan, Conte pun juga sangat memperhatikan asupan gizi anak asuhnya.

Lihat saja Romelu Lukaku yang bisa ia sulap dan tampil apik lagi setelah mengikuti saran diet dan makanan sehatnya Conte.

Kerasnya Conte tidak hanya saat latihan. Ia termasuk pelatih yang sedikit duduk saat timnya berlaga dan selalu bersuara memberikan instruksi di tepi lapangan.

Dikutip dari The Athletic, istri Conte pun pernah mengeluh ketika di rumah karena suara Conte selalu habis atau serak setelah timnya bertanding.

Berkat kerja kerasnya, peningkatan mentalitas pemain dan raihan trofi bisa menjadi jaminan ketika sebuah tim dilatih Conte. Asal klub tersebut patuh dengan semua kemauan Conte.

Itu sebabnya walau dia harus berhadapan dengan Daniel Levy yang terkenal pelit, Conte tetap berhasil memaksa Spurs membelanjakan pemain sesuai dengan keinginannya.

Komentar
Medioker yang bisa diandalkan. Kadang dukung Manchester United kadang dukung AC Milan. Bisa kalian sapa di twitter @CandraBantara