Edgar Davids dan Kacamatanya

Para penggemar sepakbola di era 1990-an dan 2000-an jelas tidak asing dengan sosok Edgar Davids. Lelaki asal Belanda tersebut dikenal sebagai gelandang energik sekaligus nyentrik.

Lahir di Paramaribo, Suriname, Davids hijrah ke Belanda sedari bayi. Di Negeri Kincir Angin pula, bakat sepakbolanya ditempa.

Sempat ditolak sejumlah klub, ia akhirnya bergabung dengan akademi Ajax Amsterdam, De Toekomst, pada usia 12 tahun.

Bareng tim raksasa Belanda ini juga, Davids mencicipi debut profesional pada tahun 1991. Berkat kemampuan yang menonjol, namanya pun jadi langganan starting eleven di era Leo Beenhakker, kemudian Louis van Gaal.

Selama berseragam Ajax, Davids menghadiahi klub tersebut dengan sejumlah trofi.

Mulai dari tiga gelar Eredivisie, sepasang Piala KNVB, dan masing-masing sebiji Johan Cruyff Schaal, Liga Champions, Piala UEFA/Liga Europa, Piala Super Eropa, dan Piala Interkontinental/Piala Dunia Antarklub,

Lantaran gaya mainnya yang penuh energi dan determinasi di sektor tengah, van Gaal menjulukinya sebagai The Pitbull.

Kecepatan, stamina, kemampuan teknis dan kepiawaiannya membaca alur permainan bikin presensinya sangat krusial.

Usai mereguk kesuksesan di negeri sendiri, Davids tertantang untuk mencicipi rimba Serie A. AC Milan, jadi kesebelasan pertamanya di sana.

Sayangnya, karier Davids bersama I Rossoneri tak berlangsung mulus dan berlangsung singkat.

Beruntung Juventus menawarinya kesempatan merumput di kota Turin. Keputusan pindah ke I Bianconeri takkan pernah disesalinya sebab ia jadi pemain penting dan sosok tak tergantikan.

Enam musim memperkuat Juventus, Davids memenangkan tiga Scudetto dan dua Piala Super Italia.

Meski begitu, ada problem pelik yang ia alami saat membela I Bianconeri. Semuanya berawal dari cedera kepala serius yang ia alami pada tahun 1995 saat masih membela Ajax.

BACA JUGA:  Hengkangnya Declan Rice Adalah Keniscayaan

Efek dari cedera tersebut rupanya mengganggu penglihatannya dan baru terasa empat tahun kemudian.

Alhasil, Davids menjalani segenap proses pemeriksaan untuk mengetahui penyebabnya.

Dari analisis dokter, ia dinyatakan terkena glaukoma dan diharuskan operasi agar tak kehilangan fungsi organ penglihatannya.

Glaukoma adalah kerusakan pada syaraf mata akibat meningkatknya tekanan pada bola mata. Hal ini terjadi lantaran ada gangguan pada sistem aliran cairan mata.

Buku Ilmu Kesehatan Mata Edisi ketiga tahun 2017 terbitan Departemen Ilmu Kesehatan Mata Universitas Gajah Mada (UGM) mengklasifikasikan glaukoma menjadi dua yakni berdasarkan penyebab dan keadaan sudut.

Berdasarkan penyebabnya, glaukoma dibagi menjadi dua yaitu glaukoma primer dan sekunder. Glaukoma primer adalah glaukoma yang tidak diketahui penyebabnya.

Faktor usia ditengarai menjadi penyabab paling sering. Mereka yang berusia di atas 80 tahun memiliki risiko sepuluh kali lebih besar mengalami glaukoma dibanding mereka yang berusia 40 tahun.

Sedangkan glaukoma sekunder adalah glaukoma yang disebabkan oleh penyakit yang menyertai seperti katarak, trauma, peradangan pada uvea, dan penggunaan obat-obatan steorid jangka panjang.

Berdasarkan sudutnya, glaukoma dibagi menjadi dua juga yaitu sudut terbuka dan tertutup.

Dikatakan glaukoma sudut terbuka apabila penurunan kemampuan penglihatan terjadi secara perlahan dan kebanyakan tidak disadari oleh penderita.

Sementara glaukoma sudut tertutup membuat kemampuan melihat penderita turun secara mendadak.

Glaukoma yang diderita Davids sendiri tergolong pada glaukoma sekunder sudut terbuka karena diakibatkan trauma dari cedera kepala yang dialaminya saat masih berbaju Ajax.

Gangguan penglihatan Davids pada saat itu mengancam kariernya sebagai pesepakbola. Tak heran bila ia dianjurkan untuk menjalani operasi mata guna menyelamatkan indera penglihatannya.

Beruntung operasi tersebut berjalan lancar. Namun sebagai efek, pria kelahiran 13 Maret 1973 ini mesti mengenakan kacamata khusus tatkala bermain sepakbola.

BACA JUGA:  Fernando Redondo: Si Gondrong Berkaki Kidal

Kacamata yang digunakan bukan sembarang kacamata seperti yang khalayak kenakan. Kacamata Davids adalah jenis kacamata “water jacket”, sebuah kacamata olahraga yang memiliki fitur mengurangi intensitas cahaya yang masuk ke mata.

Dengan fitur tersebut diharapkan tekanan bola mata akan lebih stabil ketika bertanding. Selain itu, ia juga diperbolehkan menggunakan cairan pembersih mata yang mengandung acetazolamid.

Sebetulnya, zat ini masuk ke dalam kategori doping. Namun pada kasus Davids, penggunaannya diperbolehkan.

Menariknya, kacamata Davids didesain sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu aksinya saat bermain.

Alih-alih terlihat seperti kacamata yang berfungsi untuk menjaga penglihatannya, kacamata sosok berambut gimbal ini justru disukai publik dan menjadi fashion tersendiri dari lapangan sepakbola.

Bersama kacamatanya itu, karier Davids pun dapat dilanjutkan. Selepas membela Juventus, ia bergabung dengan Barcelona, Inter Milan (menjuarai Piala Italia sekali), Tottenham Hotspur, kembali ke Ajax, Crystal Palace, dan akhirnya pensiun di Barnet dengan status player-manager.

Ia sendiri memperkuat tim nasional Belanda di sejumlah kejuaraan seperti Piala Dunia 1998, serta Piala Eropa 2000 dan 2004. Figur setinggi 169 sentimeter ini pun mengemas 74 penampilan dan mencetak 6 gol dengan seragam De Oranje.

Keseriusan Davids untuk menggeluti dunia kepelatihan dibuktikan dengan mengambil lisensi pelatih.

Sempat menjadi asisten pelatih di Telstar, kariernya kini berlanjut di klub asal Portugal, Olhanense, dengan titel kepala pelatih.

Komentar
Lutfi Afifudin, seorang pemuda yang lebih sering membeli buku daripada menabung. Menghabiskan malam dengan gim simulasi bernama Football Manager dan buku-buku. Mencintai sepakbola, buku, politik, dan segala hal tentang pujaan hatinya. Aktif menuangkan keresahan di twitter @koasnonmedis dan laman blog aksaraimu.blogspot.com.