Fans Manchester United yang Terbelah Dua

Performa yang fluktuatif, bagus di satu laga, amburadul di laga lainnya, jadi salah satu gambaran nyata Manchester United musim ini. Tak pelak, fans United pun acap meradang dan menyebut sang pelatih, Ole Gunnar Solskjaer, sebagai kambing hitam.

Sempat tampil baik di awal kampanyenya pada ajang Liga Champions, The Red Devils jadi kubu yang merengut karena cuma finis di peringkat tiga klasemen akhir Grup H dan harus menerima nasib terdemosi ke Liga Europa. Gara-garanya adalah aksi tak maksimal di partai ketiga sampai keenam.

Setali tiga uang, pencapaian United di Piala Liga juga bikin fansnya senewen. Tampil elok sedari babak ketiga, langkah mereka berakhir di babak semifinal dari sang tetangga berisik, Manchester City.

Laju Paul Pogba dan kawan-kawan di Premier League juga tak meyakikan pada awal kompetisi. Mereka terseok-seok sampai awal November 2020 sebab awet di papan bawah. Fans United pun kesal bukan kepalang.

Akan tetapi, perubahan dan pembenahan yang dilakukan Solskjaer menampakkan hasilnya setelah itu.

Rentetan hasil positif mengatrol posisi The Red Devils di klasemen sampai akhirnya menduduki posisi puncak pada pertengahan Januari 2021.

Fans United yang sempat murka, perlahan menyunggingkan senyumnya. Bahkan, cukup banyak dari mereka yang kemudian menepuk dada dan mulai menyombongkan diri.

Ibarat senjata makan tuan, kesombongan itu berbuah petaka dengan kekalahan anak asuh Solskjaer dari penghuni zona merah, Sheffield United, di Stadion Old Trafford (27/1).

Bersamaan dengan itu, City yang konsisten meraup kemenangan langsung menyalip di papan klasemen.

Jarak bahkan terus melebar karena The Citizens rajin memetik poin sempurna, sementara United bermain inkonsisten.

Penampilan The Red Devils yang sulit ditebak oleh suporternya sendiri ini membuat mereka terbelah dua. Ada yang tetap mendukung dan ada juga yang kontra dengan keberadaan Solskjaer di kursi pelatih.

Apalagi sebagai salah satu klub terhebat di dunia, ada banyak sekali orang yang membenci United. Tanpa ragu, mereka akan menertawakan tim saat mendapat hasil negatif.

Terbaginya dua fans United bisa sama-sama kita lihat di dunia maya, khususnya media sosial.

BACA JUGA:  Munir, Omen, Fahreza, dan Potret Buram Penegakan HAM di Indonesia

Mereka yang mempercayai Solskjaer dan merasa bahwa proses pembenahan di tubuh tim belum usai, secara sukarela akan mencuitkan tanda pagar #OleStay.

Tak cuma mereka, hal ini juga dilakukan oleh pendukung tim rival yang merasa bahwa The Red Devils di bawah asuhan Solskjaer laksanan guyonan belaka.

Di sisi lain, bagi fans United yang sudah geram dengan rezim Solskjaer, bakal mencuitkan tanda pagar #OleOut.

Tanda pagar ini sendiri sudah populer sejak musim lalu (puncaknya setelah gagal di tiga laga semifinal, masing-masing pada ajang Piala FA, Piala Liga, dan Liga Europa) gara-gara performa tak stabil yang diperlihatkan Pogba dan kolega.

Menariknya, dua kubu berbeda ‘keyakinan’ yang sama-sama mendukung United ini seringkali beradu argumen di media sosial.

Pihak yang mempercayai Solskjaer merasa bahwa sang pelatih membutuhkan waktu untuk memperbaiki semuanya agar tim kembali kompetitif dan mampu bersaing memperebutkan gelar di seluruh ajang yang diikuti.

Namun mereka yang berada di sisi satunya, menganggap jika Solskjaer sebaiknya ditendang secepat mungkin.

Pria Norwegia yang juga legenda hidup The Red Devils itu dinilai kurang kapabel buat menangani tim sekelas United. Mayoritas pendukung di kubu ini adalah mereka yang mendewakan trofi.

Adu argumen tersebut seakan menjadi rutinitas. Tidak hanya ketika kalah, bahkan disaat United berhasil meraih angka penuh di sebuah laga.

Ketika Pogba dan kawan-kawan ditahan imbang AC Milan pada leg pertama babak 16 besar Liga Europa (12/3), banyak yang naik pitam lantaran saat itu mereka bermain di kandang sendiri.

Pihak yang tak mendukung Solskjaer pun memanfaatkan momen ini untuk mendiskreditkan sang pelatih karena timnya kebobolan di menit-menit akhir.

Keputusan Solskjaer yang memainkan Dean Henderson di bawah mistar mendapat sorotan tajam. Mereka merasa bahwa David de Gea adalah opsi yang paling realistis dan aman.

Akan tetapi, semuanya berbalik manakala United sukses mempecundangi Milan di leg kedua (19/3). Gol tunggal Pogba sudah cukup untuk memenangkan tim, pulang dari markas lawan dengan ceria, dan mengantongi tiket lolos ke babak 8 besar.

BACA JUGA:  Setelah Tujuh Sarung Tangan Sam Johnstone

Pada momen ini, giliran suporter yang ada di belakang Solskjaer yang bersuara lantang. Mereka percaya terhadap proses yang sedang dijalani tim.

Keadaan serupa juga muncul tatkala United membungkam City pada Derbi Manchester jilid kedua (8/3) di Premier League musim ini. Solskjaer beroleh pujian setinggi langit, tak hanya dari fans United yang mendukungnya, tetapi juga pelatih City, Pep Guardiola.

“Kami kebobolan terlebih dahulu saat menghadapi tim kuat. Mereka tak memberi kesempatan kepada kami buat bangkit. Selamat kepada United atas kemenangan mereka,” ungkapnya seperti dilansir Ligaolahraga.

Kemenangan itu sendiri terasa begitu manis sebab The Red Devils jadi kesebelasan yang berhasil menyudahi rentetan kemenangan The Citizens di 21 pertandingan lintas ajang.

Bicara soal kelanjutan musim ini bagi United, rasanya masih terlalu dini untuk menghakimi bahwa Solskjaer telah gagal dalam menangani tim.

Jika titel Premier League terlalu berat untuk direngkuh karena selisih poin dengan City terlampau jauh, ada kompetisi Piala FA dan Liga Europa yang dapat diseriusi. Apalagi di kedua ajang tersebut, Pogba dan kolega sudah menjejak babak 8 besar.

Saya meyakini bahwa fans United yang terbelah ke dalam dua kubu berbeda memiliki keinginan yang sama yaitu melihat tim kesayangannya berjaya kembali seperti di era Sir Alex Ferguson dahulu.

Namun mesti diingat bahwa untuk mereplikasi hal itu, dibutuhkan proses dan waktu, yang mungkin saja, tidak sebentar.

Perbedaan pendapat di antara suporter sebuah klub terkait performa timnya adalah hal yang wajar.

Namun perlu diingat bahwa persilangan opini tersebut jangan sampai masuk ke ranah personal. Ingat kembali konteks awal ketidaksepahaman yang ada.

Mau jadi kubu #OleStay silakan. Bertahan dengan faksi #OleOut pun sah-sah saja karena itu sebuah pilihan.

Sejatinya, tak ada yang tahu masa depan The Red Devils di bawah asuhan Solskjaer akan seperti apa.

Kegagalan dan keberhasilan yang ada di benak fans United saat ini hanyalah asumsi semata. Satu yang pasti, jangan bosan dan lelah mendukung tim kesayangan dalam situasi apapun karena di situlah pentingnya keberadaan suporter.

Komentar
Pemuja setan merah yang tengah mendalami taktik sepakbola. Sangat senang bila diajak berdiskusi sambil makan gorengan. Bisa dihubungi via twitter @liffahmi