FC Bayern Munchen 5-1 Arsenal: Perubahan Struktur Posisional Menjadi Kunci Kemenangan Die Roten

Struktur posisi Bayern Munchen

Pep Guardiola memainkan pola dasar 4-2-3-1 dengan permainan posisional yang penuh dengan pertukaran posisi, terutama dalam fase menyerang. Philip Lahm dan David Alaba, dua bek sayap, sering kali ditemui bergerak masuk ke half-space baik untuk memberikan covering terhadap serangan di kedua flank maupun melakukan pergerakan penetratif ke area strategis.

Agresivitas Bayern dalam usahanya menekan blok pertahanan Arsenal sedalam mungkin bisa dilihat dari bagaimana Alaba mengambil posisi jauh di depan dalam build-up fase pertama Bayern. Dalam sebuah momen Anda bisa melihat Thiago Alcantara menjemput bola di sepertiga-tengah bawah Bayern di sisi-sisi kiri. Kingsley Coman berada di flank kiri, dan Alaba mengokupansi half-space kiri di sepertiga awal Arsenal. Tentu saja, bila memungkinkan, bek sayap juga bertugas untuk mengisi area terluar. Seperti yang terjadi pada gol kedua Bayern yang diawali oleh spread out Philip Lahm yang dilanjutkan umpan Douglas Costa kepadanya, sebelum diakhiri dengan sebuah float cross ke tiang jauh yang dimanfaatkan oleh Thomas Muller.

Robert Lewandowski sendiri kali ini lebih banyak bergerak di area depan tanpa turun jauh hingga ke sepertiga tengahnya Arsenal, seperti yang sering ia lakukan di pertemuan pertama di Emirates. Kalaupun keluar dari posisinya, Lewandowski lebih banyak bergerak horizontal dan tidak jauh dari sepertiga awal Arsenal.

Perbedaan sikap menyerang diperlihatkan Die Roten pada sekitar 10-12 menit awal. Pada rentang waktu tersebut, Douglas Costa banyak bermain di sekitar center dan half-space kanan dan Muller berdiam di flank kanan. Sementara di sisi kiri, Kingsley Coman bermain layaknya sayap klasik yang menyisir area sayap. Setelah 10-12 menit atau lebih, Muller terlihat lebih banyak bermain lebih ke tengah dengan Costa bergerak dari sayap sembari mencari kesempatan untuk cut inside. di area yang lebih dalam, di pos no. 6, Thiago Alcantara mendapatkan tugas ekstra. Oleh Pep, Thiago ditugaskan menjemput bola, mengalirkan bola ke manapun area strategis terbuka, melakukan switch-play dengan melepaskan umpan diagonal ke sisi sayap, dan berpatroli di radius 20-25 meter area pertahanan Arsenal. Xabi Alonso sendiri lebih pasif, di mana ia lebih banyak berperan sebagai support terhadap serangan Bayern sekaligus melakukan covering dalam fase transisi bertahan.

Strategi bermain Arsenal

Arsenal memainkan pola dasar yang mirip, yaitu 4-2-3-1, dengan struktur posisional yang lebih rigid. Oliver Giroud dimainkan sebagai no. 9 didukung oleh tiga gelandang serang, yaitu Alexis Sanchez, Mesut Ozil, dan Joel Campbell. Sebagai duo no. 6, Santi Cazorla dan Coquelin kembali dipasangkan. Di belakang, ketidakhadiran Hector Bellerin memberikan kesempatan kepada Mathieu Debuchy menempati pos bek kanan.

Arsenal bermain dengan blok permainan yang sangat rendah, yang mana ketika mereka bertahan bentuk pertahanan mereka berbentuk 4-1-4-1/4-5-1. Usaha habis-habisan Arsenal menjaga celah vertikal antarlini di zona 5 pada gilirannya memberikan kesempatan besar bagi Bayern untuk memainkan bola dalam radius 20-25 meter dari gawang Arsenal.

Gol ketiga Bayern mencerminkan bagaimana Bayern berhasil memaksimalkan besarnya kesempatan tersebut melalui tembakan jarak jauh David Alaba yang bergerak jauh ke area tengah. Tendangan jarak jauh sperti yang diperlihatkan Alaba merupakan salah satu fitur yang tidak dimasukan Pep ke dalam stok taktiknya di partai pertama. Dalam pertandingan tersebut Arsenal memberikan begitu banyak ruang di depan lini tengah mereka yang dalam satu sisi juga membuka peluang bagi Bayern untuk melepaskan tembakan-tembakan jarak jauh. Pep melakukan penyesuaian dan membuahkan hasil maksimal.

Perbedaan, karena perubahan yang dilkukan oleh Pep, dalam struktur serangan Bayern sangat terlihat. Bila di partai pertama, saat Arsenal mengalahkan Bayern 2-0, struktur serangan Bayern nyaris selalu tanpa “kehadiran pemain” di area tengah, terutama zona 14 (berarti zona 5 arsenal), kali ini berbeda. Dalam penetrasinya di sekitar sepertiga awal Arsenal dan bola berada di half-space, Bayern bisa menempatkan hingga tiga sampai lima pemain di sekitar zona 14.

BACA JUGA:  Bisakah Arsenal Kembali Berjaya di Inggris?

Secara umum, ada tiga fitur besar yang terlihat dalam pertandingan ini, yang mana ketiganya tak terlihat dalam pertandingan di Emirates Stadium.

Menciptakan overloading dan celah

Fitur pertama adalah usaha menciptakan overloading terhadap flank dan celah (channel) antara bek tengah dan bek sayap lawan. Fitur ini merupakan sesuatu yang sangat jamak dalam taktik Pep yang sudah diperlihatkannya sejak musim pertama.

Grafik 1. Bayern meng-overload flank Arsenal. Dalam banyak pertandingan terdahulu skema ini dimanfaatkan Bayern dengan cara pemegang bola, Jerome Boateng, memberikan umpan pada pemain yang berada di channel (Muller) atau Xabi yang berada di half-space terdekat, untuk kemudian bola diprogresi ke zona 2 melalui umpan diagonal mengarah kepada pemain-pemain (Thiago Alcantara atau Robert Lewandowski) yang bergerak dari luar kotak 16. Skema ini juga digunakan Pep untuk memperbesar channel antara bek sayap dan bek tengah lawan. Superioritas jumlah 3v2 antara Costa, Muller, dan Thiago terhadap dua bek Arsenal memungkinkan Bayern untuk memecah kompaksi horizontal di antara dua bek Arsenal tersebut.
Grafik 1. Bayern meng-overload flank Arsenal. Dalam banyak pertandingan terdahulu skema ini dimanfaatkan Bayern dengan cara pemegang bola, Jerome Boateng, memberikan umpan pada pemain yang berada di channel (Muller) atau Xabi yang berada di half-space terdekat, untuk kemudian bola diprogresi ke zona 2 melalui umpan diagonal mengarah kepada pemain-pemain (Thiago Alcantara atau Robert Lewandowski) yang bergerak dari luar kotak 16. Skema ini juga digunakan Pep untuk memperbesar channel antara bek sayap dan bek tengah lawan. Superioritas jumlah 3v2 antara Costa, Muller, dan Thiago terhadap dua bek Arsenal memungkinkan Bayern untuk memecah kompaksi horizontal di antara dua bek Arsenal tersebut.

Switch-play

Fitur kedua adalah switch-play kepada free-player Bayern Munchen di sisi pertahanan lawan di mana kehadiran pemain lawan sangat minim.

Grafik 2. Switch-play Bayern dari half-space kanan ke flank kiri. Dari skema switch-play ini, Bayern melanjutkannya dengan melepaskan umpan silang langsung ke area gawang Arsenal atau melakukan cut-back, dari Kingsley Coman kepada David Alaba untuk kemudian anak asuh Pep Guardiola bertransisi ke area tengah.
Grafik 2. Switch-play Bayern dari half-space kanan ke flank kiri. Dari skema switch-play ini, Bayern melanjutkannya dengan melepaskan umpan silang langsung ke area gawang Arsenal atau melakukan cut-back, dari Kingsley Coman kepada David Alaba untuk kemudian anak asuh Pep Guardiola bertransisi ke area tengah.

Struktur posisional Bayern di zona 5 Arsenal

Fitur ketiga tentu saja adalah struktur posisional Bayern yang memberikan kesempatan kepada para pemainnya untuk mengambil posisi di zona 5 Arsenal (zona 14 dalam perspektif Bayern). Hal ini terlihat ketika Bayern melakukan progresi dan masuk ke sepertiga awal Arsenal, baik di half-space maupun flank.

Robert Lewandowski, Thiago Alcantara, Thomas Muller, atau Douglas Costa terlihat berada di sekitar zona 14 untuk kemudian, bila diperlukan, secara gradual mereka menyebar untuk membantu transisi bola dari half-space atau flank ke dalam kotak penalti. Bayern memang tetap berorientasi ke sayap tetapi kali ini mereka membangun struktur serang yang sangat membantu penterasi bola ke dalam kotak 16.

Bayern yang bertahan dalam blok yang sangat tinggi memberikan mereka keuntungan dan keterbatasan tersendiri. Keuntungannya adalah pertahanan dalam blok super tinggi membantu mereka melakukan gegenpressing di area strategis dekat dengan gawang Arsenal. Di sisi lain pertahanan dengan blok super tinggi ini juga beberapa kali mengekspos ruang di belakang duo no. 6, Thiago dan Xabi.

Grafik 3. Gegenpressing Bayern terhadap Arsenal, sesaat setelah Muller kehilangan bola. Gegenpressing Bayern, dengan Thiago Alcantara dan Xabi Alonso yang ikut mengambil posisi jauh ke depan berhasil memaksa Per Mertesacker melakukan kesalahan umpan dalam waktu 3-4 detik, terhitung sejak Muller kehilangan bola.
Grafik 3. Gegenpressing Bayern terhadap Arsenal, sesaat setelah Muller kehilangan bola. Gegenpressing Bayern, dengan Thiago Alcantara dan Xabi Alonso yang ikut mengambil posisi jauh ke depan berhasil memaksa Per Mertesacker melakukan kesalahan umpan dalam waktu 3-4 detik, terhitung sejak Muller kehilangan bola.

Keberhasilan Bayern dalam melakukan gegenpressing di sepertiga awal Arsenal juga merupakan buah dari struktur serang mereka yang lebih narrow di sekitar zona 5 Arsenal. Sesuatu yang memang diperlukan Bayern seperti yang tertulis dalam pratinjau taktik bayern vs Arsenal.

“Bila para pemain Bayern bisa memperbaiki struktur serang mereka di sepertiga awal pertahanan Arsenal, Bayern berpeluang besar untuk menang. Dengan memperbaiki struktur serang (bermain lebih narrow, misalnya) di sepertiga pertahanan Arsenal, Bayern berpeluang melakukan gegenpressing yang lebih stabil bila diperlukan. Kemungkinan hasil akhir lain yang lebih kecil? Pertandingan berakhir imbang.” Jadi, struktur narrow (menyempit demi gegenpressing yang lebih stabil merupakan sesuatu yang diperlukan Bayern Munchen untuk menang.

Sisi lemah kedua tim

Di satu sisi agresifnya Bayern menekan Arsenal memiliki kelemahan tersendiri. Dalam skema bertahan semacam ini, beberapa fase transisi Bayern memperlihatkan Thiago dan Xabi berada jauh di depan malah membuka ruang di belakang keduanya. Pengambilan posisi mereka ditambah agresifnya Bayern mengokupansi sepertiga awal Arsenal mengekspos area di depan bek tengah yang memaksa Javi Martinez atau Boateng maju ke depan. Arsenal memang gagal memanfaatkan celah ini tetapi tentu saja hal minor semacam ini harus menjadi perhatian Pep dan para pemainnya. Grafik 4 menjadi salah satu contoh.

Grafik 4. Ruang di belakang no. 6 Bayern.
Grafik 4. Ruang di belakang no. 6 Bayern.

Ada dua faktor yang membantu Bayern, yaitu pertama, ketidakhadiran Theo Walcott (atau Alex Oxlade Chamberlain) yang kecepatannya bisa dimanfaatkan untuk mengeksploitasi ruang di belakang garis pertahanan lawan dan kedua, struktur permainan Arsenal yang memang bermain sangat deep, saat bertahan, yang pada gilirannya membatasi pergerakan vertikal mereka saat melakukan serangan balik cepat.

BACA JUGA:  Cody Gakpo: Thierry Henry Era Baru?

Bagaimana dengan Arsenal sendiri? Beberapa keterbatasan terlihat dalam permainan Arsenal. Pertama adalah Joel Campbell dan Mathieu Debuchy yang tidak tampak banyak berkontribusi. Terutama Campbell yang banyak terlihat pasif dalam merespon eksplosivitas sisi kiri Bayern. Dalam beberapa momen Campbell yang seharusnya memiliki akses terhadap bola yang lebih baik malah pada akhirnya kalah langkah dan menyebabkan ia gagal memenangkan duel bola kedua. Positioning Campbell dalam bebrapa transisi juga memberikan ruang di half-space kiri bagi Alaba untuk melakukan progresi. Sisi half-space dan terluar di lini tengah Arsenal masih menjadi area yang banyak memberikan kesempatan bagi pemain-pemain FC Hollywood untuk mengembangkan permainan.

Di lini depan. Dalam serangan balik Arsenal, beberapa kali Oliver Giroud terlihat berada di area yang terlalu jauh dari tengah (Giroud mengokupansi flanki). Ini menyebabkan penetrasi Arsenal ke tengah menjadi terhambat yang sekaligus membantu Bayern dalam menghentikan serangan Arsenal.

Kesimpulan

Perubahan taktik yang dilakukan Pep menjadi kunci bagi sirkulasi dan progresi bola yang lebih baik bagi Bayern. “Ketiadaan pemain” di area tengah pertahanan Arsenal menjadi salah satu penghambat besar Bayern pada pertandingan pertama. Progresi mereka menjadi hilang karena Bayern dipaksa memainkan back-pass.

Dalam pertandingan ini Pep mengubahnya dengan membangun struktur posisional yang memberikan kesempatan bagi pemain-pemainnya untuk mengokupansi area tersebut. Contoh, saat Lewandowski bergerak ke flank untuk memberikan kesempatan bagi Arjen Robben untuk bergerak ke tengah, selalu ada minimal dua opsi umpan di area tengah yang bisa digunakan Robben untuk membantunya masuk ke dalam kotak 16 Arsenal.

Struktur posisional seperti yang disebutkan di atas juga membantu Bayern dalam melakukan switch-play dari satu sisi ke sisi lain. Switch-play yang kontinyu seperti ini memaksa lawan untuk terus melakukan shifting-formation (pergeseran formasi) yang berpotensi merusak kompaksi horizontal lawan. Melalui switch-play-nya, Bayern banyak membuka channel antara bek tengah dan bek sayap Arsenal.

Perubahan lain adalah Pep meminta anak asuhnya untuk lebih banyak melakukan tembakan dari luar kotak 16. Di laga pertama, tiadanya usaha Bayern dalam melakukan tembakan dari luar kotak 16 pada pertemuan pertama, sebagai alternatif eksekusi peluang, menjadi salah satu faktor (minor) kegagalan Bayern memanfaatkan blok pertahanan Arsenal yang bermain super dalam. David Alaba menjadi kunci untuk taktik ini. Pep menginstruksikannya untuk banyak bergerak ke tengah, ke half-space dan center, selain untuk membantu progresi Bayern di area tengah juga sebagai usaha memberikan ruang yang lebih ergonomis bagi Alaba agar ia bisa melakukan tembakan dari luar kotak 16.

Arsenal kalah telak dalam pertandingan ini. Mereka bukan hanya kalah skor tetapi juga kualitas permainan di dalam banyak fase. Selain struktur pertahanan mereka yang sering dikacaukan oleh sirkulasi dan progresi Bayern, kelemahan individual juga turut memberikan sumbangan. Switch play Bayern yang cepat dari satu sisi ke sisi lain sering menyebabkan bek sayap Arsenal berhadapan dan dilewati oleh pemain sayap Bayern dalam situasi one-on-one.

Peluang Arsenal untuk lolos semakin berat walaupun belum tertutup sama sekali secara matematis. Banyak suara fans yang menginginkan Arsenal untuk lebih baik berfokus di Premier League sangat mungkin akan kembali terdengar. Kalaupun Arsenal lolos ke sistem gugur Liga Champions, tentu saja Arsene Wenger harus lebih banyak memutar otak.

 

Komentar