Identitas Inter

IDENTITAS INTER
IDENTITAS INTER

Menyaksikan Internazionale Milano berjibaku di Stadion Camp Nou melawan sang empunya rumah, Barcelona, dini hari tadi (3/10), bikin jantung Interisti di penjuru dunia berdetak laju. Barangkali setara cepatnya detak jantung mereka yang sudah berlari sepanjang lima kilometer.

Hasil akhir yang terpampang di papan skor salah satu arena paling ikonik tersebut memang tidak mengenakkan bagi Interisti. Unggul terlebih dahulu via gol cepat Lautaro Martinez di awal babak pertama, Barcelona sukses melakukan remontada dengan mengoyak jala Inter sebanyak dua kali lewat dwigol Luis Suarez pada babak kedua.

Setelah memperlihatkan performa yang cukup impresif dalam rentang sebulan terakhir, I Nerazzurri yang sekarang dibesut Antonio Conte menelan kekalahan pertamanya di musim 2018/2019 kali ini.

Walau disebut sedang berada dalam kondisi jelek, Barcelona tetaplah Barcelona. Mereka selalu mampu menampakkan sisi kejamnya setiap berlaga di kandang sendiri. Jangan lupa pula, ada sosok Antoine Griezmann, Suarez, dan tentu saja sang dewa, Lionel Messi, yang turun berlaga. Kengerian itu nyata adanya.

Kendati demikian, ada hal selain kedudukan akhir yang sepatutnya diperhatikan Interisti secara saksama. Apa yang disuguhkan Lautaro dan kawan-kawan di markas Barcelona sangat layak beroleh apresiasi.

Sebagai pelatih, Conte tahu pasti bahwa laga melawan Barcelona adalah satu dari sekian banyak ujian berat yang akan dihadapi timnya. Namun sejak konferensi pers jelang pertandingan, pria berusia 50 tahun itu menolak bersikap inferior sebelum beradu fisik di lapangan dan membuktikan sesuatu.

“Di Camp Nou, kami harus bermain dengan brilian, baik saat memegang bola maupun tidak. Barcelona adalah tim yang berbahaya lantaran sanggup mencetak gol kapan saja. Kami wajib memahami bahwa pertandingan seperti ini adalah bagian penting dalam proses berkembang. Aku ingin seluruh pemain menunjukkan kemampuan terbaiknya. Laga takkan berjalan mudah, tetapi kami harus siap dengan itu”, terang Conte seperti dilansir dari fedenerazzurra.

Tanpa basa-basi, Conte pun mengimplementasikan ucapannya tersebut secara utuh di atas rumput hijau. Walau kelasnya masih dianggap belum selevel Barcelona, Inter beraksi di Camp Nou dengan gagah berani.

BACA JUGA:  Potensi Bangkitnya Persepakbolaan Pati

Conte seolah ingin menegaskan kepada khalayak bahwa I Nerazzurri versinya adalah kesebelasan yang punya identitas yang jelas. Hitam atau putih. Bukan lagi abu-abu.

Video di atas merupakan bukti kalau skuat Inter, di laga kontra Barcelona, sangat dituntut oleh Conte agar lebih berani memanfaatkan ruang, memegang dan mengalirkan bola demi menciptakan peluang bersih untuk mencetak gol. Perkara sukses atau tidak menggetarkan jala Marc-André ter Stegen, itu nomor sekian. Sebab tanpa penciptaan peluang bersih, gol hanyalah angan-angan belaka, bukan?

Bahkan di babak pertama, transisi permainan Inter yang kembali merumput dengan pola dasar 3-5-2 begitu enak ditonton. Baik dari fase ofensif ke defensif maupun sebaliknya. Sebelum Conte datang, hal serupa adalah barang langka.

Jangan kaget apabila Interisti lebih memilih aksi-aksi Lautaro dan kawan-kawan dini hari tadi sebagai permainan yang ciamik dan mereka dambakan ketimbang atraksi yang Inter tunjukkan saat bersua Udinese. Tak peduli bahwa hasil akhir dari kedua partai tersebut saling memunggungi.

Sedari beberapa tahun silam, nama besar Inter sebagai salah satu gacoan di Italia maupun Eropa makin terkikis. Tata kelola tim yang buruk sehingga neraca keuangan terus memerah jadi salah satu penyebab anjloknya performa Inter di lapangan.

BACA JUGA:  Perihal Gol di Penghujung Laga

Di tangan Suning Group, hal tersebut coba direduksi secara perlahan. Salah satu cara yang mereka tempuh yakni merekrut Conte sebagai pelatih. Siapapun tahu bahwa mantan pelatih Juventus dan Chelsea tersebut adalah figur jenius perihal taktik.

Fondasi yang dibangun perlahan dan tertatih oleh Luciano Spalletti, tengah diperkokoh sekaligus disempurnakan Conte. Penguatan identitas inilah yang disasar Suning Group untuk membawa Inter berkembang, melangkah sampai pada akhirnya kembali berlari.

Bila Interisti memaki pilihan strategi Conte dan aksi para pemain yang tampak kehilangan intensitasnya di babak kedua, itu hal yang lumrah. Tak masalah juga bila Interisti masih kecewa dengan kekalahan dari Barcelona walau sempat memimpin terlebih dahulu. Lagipula, pihak mana yang tak ingin mereguk manisnya kemenangan atas Blaugrana di Stadion Camp Nou?

Terlepas dari hasil kurang paripurna di tanah Catalan, Inter sudah membuktikan diri bahwa ada sesuatu yang berubah di dalam tubuh mereka. Penguatan identitas itu sendiri merupakan sinyal positif dan sudah sepatutnya disyukuri.

Wajib dipahami jika perjalanan di musim 2018/2019 masih teramat panjang bagi I Nerazzurri dan ada sejuta tantangan yang kudu dilewati sampai bulan Mei 2020 mendatang. Akan tetapi di pundak Conte, Interisti boleh meletakkan harapannya.

Komentar