Prestasi Timnas Indonesia: Nyata atau Niskala?

Stadion Rizal Memorial di kota Manila, Filipina, menjadi arena pertempuran antara Indonesia dan Vietnam dalam memperebutkan medali emas di ajang South East Asian (SEA) Games 2019 kemarin malam (10/12). Masing-masing kubu tentu memanggul harapan dan optimismenya.

Akan tetapi, kita pada akhirnya tahu, The Golden Stars jadi pihak yang tertawa belakangan. Tiga gol yang bersarang di jala Nadeo Argawinata dan tak sekali pun bisa dibalas menjadi bukti sahih kedigdayaan Doan Van Hau dan kawan-kawan.

Selepas wasit meniup peluit panjang tanda usainya pertandingan, ada banyak hal yang muncul di linimasa. Utamanya menyangkut kekalahan telak Indonesia dan melayangnya medali emas dari genggaman.

Ada yang menyebut bahwa keluarnya Evan Dimas di awal pertandingan akibat dicederai lawan sebagai masalah utama buntunya permainan Indonesia di laga final kali ini. Ada juga yang mengatakan kalau cara bermain anak asuh Indra Sjafri jauh dari kata efektif, baik saat menyerang ataupun bertahan, sehingga mudah diantisipasi sekaligus dibongkar oleh Vietnam.

Satu hal yang pasti, gurat kekecewaan kembali menyembul dari wajah penggemar sepakbola Indonesia. Harapan yang sempat mengangkasa akhirnya jatuh lagi ke Bumi, patah dan remuk redam.

Setiap kali tampil di sebuah turnamen, lolos ke final bak sebuah ritual wajib bagi Indonesia. Sayangnya, hanya sebatas itu karena meraih gelar juara adalah persoalan lain yang sampai sekarang tak jua ditemukan jawabannya. Wajar bila publik kemudian bertanya, prestasi Indonesia di kancah sepakbola itu nyata atau niskala?

Jemari tangan saya tak cukup untuk digunakan menghitung kesenduan yang dihadirkan Indonesia pasca-mentas di partai final dalam kurun dua dekade terakhir. Sudah terlalu banyak air mata kesedihan yang meleleh di pipi akibat patah hati menyaksikan segudang kesempatan Indonesia beroleh prestasi selalu berujung dengan kegagalan.

BACA JUGA:  Debar di Singapura, Jengah di Indonesia

Empat kali menembus final SEA Games (1997. 2011, 2013 dan 2019), empat kali pula Indonesia tersedu-sedu di akhir laga. Lima kali berjibaku di final Piala AFF (2000, 2002, 2004, 2010, 2016), sebanyak itu juga Indonesia menangisi kekalahan.

Bukan bermaksud mengerdilkan pencapaian fantastis adik-adik yang membela Indonesia di kelompok umur, tapi rasa haus penggemar sepakbola di Tanah Air akan prestasi gemilang pada ajang selevel SEA Games (walau sejak tahun 2001 seluruh kontestan wajib menurunkan tim U-23) dan Piala AFF, akan terus menggelegak.

Bila di titik itu saja Indonesia kepayahan luar biasa, sepertinya beraksi secara konsisten di ajang Piala Asia dan Piala Dunia hanyalah utopia belaka. Pun dengan janji-janji, visi dan misi atau apapun namanya, terkait hal serupa yang seringkali terdengar di telinga para penggemar, tak ubahnya retorika semata.

Rasanya memalukan, membosankan sekaligus memuakkan jika kebanggaan kita terhadap pencapaian Indonesia di ranah sepakbola kudu dibawa pada cerita masa lalu yang makin usang.

Melihat Malaysia, Thailand dan Vietnam begitu rajin beroleh prestasi, hasil dari pengembangan sepakbola (walau tentu ada masalah yang mereka hadapi dalam proses tersebut) yang terstruktur dan dijalankan secara sungguh-sungguh, jelas bikin hati iri. Apakah benar, kita tak mungkin bisa melakukan hal yang sama?

Indonesia, bagaimanapun juga, butuh prestasi baru yang menyegarkan guna menghidupkan harapan. Tak hanya di dada para penggemar, tapi juga para pemain yang tunggang langgang di atas lapangan. Harapan itu pula yang kelak menelurkan keyakinan bahwa sepakbola Indonesia memiliki sesuatu yang berharga.

Sampai kapan kita harus menyisihkan waktu buat menceritakan prestasi apik di SEA Games 1991 sebagai gelar juara yang terakhir kali didapat Indonesia? Bukankah itu hal yang tak relevan bagi mereka yang lahir pada tahun 1992 ke atas? Kita tak boleh jadi bangsa yang bahagia dengan label nyaris juara. Kita tak bisa jadi bangsa yang senantiasa memaklumi kegagalan.

BACA JUGA:  3 Fakta Kemenangan Timnas vs Brunei: Dimas Drajad Hattrick hingga STY Tak Puas

Sepatutnya kita malu karena di masa yang akan datang, kepada anak cucu, kita hanya sanggup menceritakan kisah usang perihal keberhasilan Indonesia di cabang olahraga sepakbola. Pasalnya, kita sudah tak punya kata untuk menuturkan semua kegagalan yang terasa.

Komentar