Jalan Lain yang Ditawarkan King Padoin

Jika anda bukan seorang Juventini dan bukan seorang pencinta sepak bola yang kaffah. Simone Padoin barangkali akan menjadi nama yang asing di telinga.

Para suporter mainstream akan menyebut Alessandro Del Piero, Gianluigi Buffon, Paul Pogba sebagai idola bagi para suporter Juventus. Tapi, Simone Padoin muncul sebagai rujukan bagi para pendukung hipster.

Bergabung sejak Januari 2012 dari Atalanta, 18 Maret 1984 ini sudah mengoleksi empat scudetto, dua Piala Super Italia, dan satu kali Coppa Italia. Jumlah raihan yang sama dengan apa yang ada di almari trofi Andrea Pirlo dan Arturo Vidal selama bermain di Juventus.

Barangkali menjadi sebuah kejahatan kriminal jika kita mengkomparasikan Simone Padoin dengan Thomas Vermaelen. Jika Vermaelen hanya perlu memainkan satu pertandingan untuk dapat ikut mengangkat tiga trofi musim lalu di Barcelona. Maka Simone Padoin telah menjadi lorong rahasia yang ditawarkan Juventus ketika lini tengah atau sisi kanan tak bekerja.

Perannya cukup signifikan dalam tiga kompetisi yang diarungi Juventus musim lalu. Tenaganya dibutuhkan untuk melapis area tengah atau sisi kanan Juventus ketika di sana hanya bercokol Patrice Evra, pasca-Kwadwo Asamoah harus menepi lama akibat cedera.

Kalau sudah begitu, kita bisa menepis alasan bahwa pemain ini sudah cukup tua, mengingat perannya sebagai versetile player dalam skuat Juventus.

Baiklah, Paul Pogba, Claudio Marchisio, maupun Arturo Vidal barangkali sosok-sosok yang tak tergantikan di lini tengah Juve musim lalu, pun sisi kiri Juventus di sana bercokol nama berpengalaman semacam Patrice Evra. Namun tanpa kontribusi seorang Simone Padoin, (sekecil apa pun kontribusi itu) mungkin saja La Vecchia tidak dapat mengarungi tiga kompetisi musim lalu dengan baik.

BACA JUGA:  Menyanjung Georginio Wijnaldum

Suatu saat kita melihatnya beradu sprint dengan Mohammed Salah di Coppa Italia, pada suatu hari yang berbeda kita kelihatnya bertarung box to box di area tengah Juve, pada kesempatan yang lain kita melihat Simone Padoin mirip dengan Andrea Pirlo tatkala skuat Allegri menjamu Empoli musim lalu. Empoli yang tak terkalahkan pada delapan pertandingan sebelumnya pun, akhirnya tunduk.

Padoin is proving himself to be a great professional. As well as being able to play in many different roles, he also has the characteristics to become a Coach! He’s tactically intelligent and it’s tough to play in front of the defence. He brings balance to the side and anywhere you put him, he does the job,” begitu kata Allegri memujinya.

Performanya sedikit mematahkan humor hiperbolik yang sering kali disematkan pada dirinya, entah karena alasan apa para Juventini begitu mencintainya dan memanggilnya dengan King Padoin.

Pada musim ini, ia mengecewakan saat diturunkan di dua laga awal seri A, ia pun harus pasrah saat tak diikutsertakan dalam skuat di Liga Champion. Tapi apakah itu menyimpulkan bahwa ia sudah habis? Apakah itu indikasi bahwa ia tak dibutuhkan lagi di dalam skuat Juventus? Tentu saja tidak.

Selain Juve akan mengarungi tiga kompetisi berbeda di sepanjang musim ini, dan kemungkinan cedera yang dialami oleh pemain lain di dalam skuat, King Padoin dengan kemampuannya akan tetap menjadi jalan lain yang dibutuhkan Juventus dalam mengarungi musim yang panjang.

Komentar
Bangunkan saya jika sudah berada di depan Mol Antonelliana, atau saat terdampar di perairan Venezia. Penulis bisa dihubungi melalui akun Twitter @vchmn22.