Jose Mourinho dan Tangan Kanannya

Jose Mourinho dan Tangan Kanannya

Ada sebuah kejutan yang dimunculkan Tottenham Hotspur di pertengahan musim 2019/2020. Pelatih asal Argentina yang sudah menangani mereka sedari musim 2014/2015, Mauricio Pochettino, ditendang dari kursi pelatih akibat performa tim yang tak memuaskan. Menariknya, The Lilywhites merekrut pelatih kawakan sekaligus ikonik, Jose Mourinho, sebagai suksesor.

Walau tak mengejutkan, pemecatan Pochettino yang sempat mengantar Tottenham ke final Liga Champions 2018/2019 (kalah dari Liverpool) agak disayangkan. Namun manajemen Tottenham punya alasan kuat tentang keputusan tersebut.

Di tangan Mourinho, performa Tottenham memperlihatkan progresi. Pelan tapi pasti, mereka mulai naik ke papan atas klasemen Liga Primer Inggris. Hingga tulisan ini dibuat, Hugo Lloris dan kolega menghuni posisi kelima dengan raihan 37 poin. Kans untuk tampil di ajang Liga Champions atau Liga Europa semakin terbuka.

Berbeda dengan musim-musim sebelumnya kala menjabat sebagai pelatih di sebuah kesebelasan, ada wajah baru yang dibawa Mourinho ke dalam staf kepelatihannya.

Joao Sacramento

Dialah Joao Sacramento, rekan sesama Portugal yang didapuk The Special One sebagai asisten. Usut punya usut, Sacramento masih berusia 30 tahun, lebih muda ketimbang tiga pemain The Lilywhites, Lloris, Jan Vertonghen, dan Michel Vorm. Sebelum bekerja sama dengan Mourinho di Tottenham, ia menjalani karier bareng klub asal Prancis, Lille OSC, sebagai asisten dari Christophe Galtier.

Latar belakang Sacramento kurang lebih sama dengan Mourinho. Mereka bukan eks pesepakbola yang kemudian menekuni dunia kepelatihan. Namun kecintaan Sacramento terhadap sepakbola mendorongnya untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya.

Berbekal gelar sarjana di bidang Sport Coaching dan gelar master pada bidang Performance Coaching, Sacramento mengawali karier kepelatihannya sebagai staf kepelatihan di Universitas of Glamorgan. Lantas, ia didapuk sebagai Analis Pertandingan bagi tim nasional Wales.

BACA JUGA:  Mencari Antoine Griezmann di Barcelona

Kariernya kemudian berlanjut ke Prancis bareng AS Monaco dan Lille, dimulai dengan jabatan Kepala Analisis Taktik lalu Asisten Pelatih. Di Prancis juga ia mendapat kesempatan untuk bekerja di bawah bimbingan arsitek-arsitek hebat seperti Marcelo Bielsa, Leonardo Jardim, dan Claudio Ranieri.

Sampai akhirnya, Sacramento hengkang ke London Utara demi menjadi asisten Mourinho di Tottenham. Namun kepindahan Sacramento menuai kontroversi. Oleh Galtier, pendekatan yang dilakukan kepada Sacramento dinilai tak pantas. Besar kemungkinan, Mourinho melakukannya secara personal dan tak diketahui oleh pihak Les Dogues.

Tatkala Tottenham berjumpa Manchester City pada lanjutan Liga Primer Inggris hari Senin dini hari kemarin (3/2), Sacramento mencuri atensi publik. Saat Lloris berhasil menepis sepakan penalti Ilkay Guendogan, Sacramento dan Mourinho tampak bahagia dengan tertawa-tawa seraya kembali ke bangku cadangan.

Akan tetapi, hanya berselang sepersekian detik, gara-gara Sacramento memberi tahu kepada Mourinho bahwa Raheem Sterling yang sudah diganjar kartu kuning tak mendapat kartu kuning kedua usai melakukan diving, respons klasik sekaligus komikal muncul dari sang pelatih. Video ini sendiri begitu ramai diperbincangkan di media sosial.

Di luar itu semua, ada hal unik lain dari Sacramento. Ia menjadi asisten pelatih kesekian Mourinho yang usianya cukup muda. The Special One seperti melanjutkan tradisinya selama ini dengan mendapuk sosok muda sebagai tangan kanannya.

Rui Faria

Sebelum menerima pinangan klub asal Qatar, Al Duhail, guna mengemban jabatan kepala pelatih, Faria merupakan satu dari sekian figur kepercayaan Mourinho. Keduanya mulai berkongsi di Uniao Leiria pada tahun 2001. Kala itu, umur Faria baru menginjak 26 tahun.

BACA JUGA:  Di Balik Pledoi Guardiola untuk Arteta

Dalam perjalanannya, Faria begitu setia menemani Mourinho sebagai asisten. Keduanya pun sukses merengkuh begitu banyak gelar juara. Menjadi tangan kanan The Special One bikin Faria memperoleh banyak pengetahuan dan pengalaman sampai akhirnya siap menjalani ‘solo kariernya’ sebagai pelatih Al Duhail pada Januari 2019.

Sayangnya, kebersamaan Faria dengan Al Duhail tidak lama. Pada Januari 2020 kemarin, ia dipecat lantaran hasil-hasil tak memuaskan yang didapat tim.

Andre Villas-Boas

Bagi para penggemar sepakbola, namanya jelas tak asing lagi karena punya jam terbang luar biasa bersama sejumlah klub papan atas Eropa.

Pada tahun 2002 silam, ketika usianya baru 25 tahun, Villas-Boas sepakat untuk menjadi asisten Mourinho di Porto. Hal itu sendiri berlanjut kala Mourinho hijrah ke Inggris buat menukangi Chelsea.

Saat Mourinho berpetualang ke Italia demi membesut Inter, sejatinya Villas-Boas ikut dalam rombongan staf kepelatihannya. Namun tawaran dari Academica de Coimbra, bikin Villas-Boas berpikir ulang. Alih-alih menjadi asisten, tantangan sebagai kepala pelatih rasanya kelewat seksi untuk dilewatkan begitu saja.

Semenjak itu, Villas-Boas pun menjalani kariernya sebagai bos di ruang ganti. Tercatat, ada enam tim yang pernah ia tangani yaitu Academica, Porto, Tottenham, Zenit St. Petersburg, dan Shanghai SIPG. Kini, Villas-Boas jadi nakhoda di tim asal Prancis, Olympique Marseille.

Melihat rekam jejak asisten-asisten Mourinho selama ini, tak menutup kemungkinan jika di masa yang akan datang, Sacramento akan beroleh kesempatan untuk naik jabatan sebagai kepala pelatih di suatu klub. Namun soal berhasil atau tidak, sepenuhnya jadi nasib Sacramento sendiri.

Komentar