Jurgen Klopp dan Hantu-Hantu Anfield

Dalam artikelnya yang berjudul “Hantu Para Maestro”, Darmanto Simaepa mengungkapkan bagaimana seorang tokoh kunci dapat menjadi “hantu” yang selalu bergentayangan di tribun, lapangan, lorong-lorong stadion, bahkan merasuk hingga hati para fans.

Hantu itu biasanya merupakan pelatih spesial yang berpengaruh, berperan besar terhadap kejayaan sebuah klub, dan selalu dikenang sepanjang sejarah tim. Sebagaimana hantu yang sebenarnya, hantu klub ini juga menakutkan.

Siapapun yang menjadi pewarisnya akan selalu dibayang-bayangi nama besar pendahulunya dan dibanding-bandingkan dengan kisah tersebut di masa lalu. Sang suksesor harus menghadapi dua pilihan: menyerah dan dipecat karena gagal atau menjadikannya sebagai dorongan.

Mereka yang mundur atau dipecat biasanya karena tidak mampu keluar dari bayang-bayang para hantu itu dan akhirnya gagal memenuhi ekspektasi.

Sebaliknya, mereka yang berhasil adalah mereka yang mampu keluar dari bayang-bayang dan bahkan mereka justru menjadi hantu baru yang juga akan selalu membayangi para pewaris selanjutnya.

Lebih lanjut lagi, Darmanto Simaepa juga mengemukakan beberapa sosok hantu yang bergentayangan di beberapa klub-klub besar Eropa. Di Barcelona, ada nama besar Johan Cruyff. Di Italia, ada nama Helenio Herera adalah hantu bagi publik Giussepe Meaza.

Old Trafford juga dihantui oleh Sir Matt Busby dan Sir Alex Ferguson. Di London utara, meskipun akhir kiprahnya di Arsenal diwarnai seruan Wenger Out, tetapi Arsene Wenger tetap merupakan sosok yang membekas di sana.

Sementara itu, di Stamford Bridge ada hantu bernama Jose Mourinho yang berhasil membawa kejayaan bagi Chelsea dan menandai keberhasilan revolusi klub tersebut yang diinisiasi oleh Roman Abramovich.

Bagaimana dengan Liverpool, hantu siapa yang membayangi mereka?

Bill Shankly adalah hantu paling tua yang bergentayangan di seantero Anfield. Keberhasilan dalam membangkitkan kembali Liverpool dari mati suri telah menasbihkannya sebagai salah satu pelatih terbaik sepanjang sejarah The Reds.

Dalam kurun 1959-1974, Shankly mengabdikan hidupnya untuk Liverpool. Tiga title Liga Inggris berhasil ia persembahkan. Raihan juara liga pertamanya pada musim 1963/64 tentu merupakan capaian yang prestisius, mengingat kubu Merseyside merah baru saja promosi pada tahun 1962.

Trofi itu mengakhiri puasa gelar liga The Reds selama 17 tahun, rekor puasa gelar liga terlama The Reds waktu itu. Mungkin itulah sebabnya hantu Shankly begitu kuat di tubuh karena ia meninggalkan kesan emosional yang dalam.

BACA JUGA:  Haji Matusin dan Gairah Sepakbola Brunei Darussalam

Bahkan di masa-masa awal kepelatihannya, pengganti Shankly, Bob Paisley, sempat kesulitan mengatasi bayang-bayang masyhur itu. Meskipun, akhirnya Paisley tak kalah sukses.

Para penerus mereka, seperti Joe Fagan dan Kenny Dalglish pun menambah daftar nama-nama hantu yang bergentayangan di Anfield. Keberadaan mereka terbukti menakutkan ketika Liga Ingris berubah format menjadi Liga Primer Inggris.

Hantu Baru Anfield

Memasuki babak sepakbola baru di tanah Inggris bertajuk Liga Primer Inggris, Liverpool pun turut memasuki fase baru dalam sejarahnya. The Reds memang masih sanggup menggondol beberapa piala liga domestik. Bahkan, mereka mampu menggondol title jawara Eropa dua kali.

Namun, keberadaan Si Kuping Besar dan beberapa trofi lainnya tidak dapat menutupi kerinduan besar The Anfield Gank akan kehadiran trofi Liga Primer pertama di lemari kaca mereka.

Para juru taktik mulai datang silih berganti duduk di kursi pelatih, mulai dari Graeme Souness, Roy Evans, Gerard Houllier, Rafael Benitez, Roy Hudgson, hingga Brendan Rodgers. Namun, tidak ada satu pun yang sukses. Bahkan, King Kenny juga tak mampu meraih trofi tersebut.

Baru ketika Jurgen Klopp tiba pada 2015, semuanya perlahan berubah. Ada secercah harapan akan pelepasan dahaga akan title juara Liga Inggris di balik senyum tulus seorang pelatih asal jerman itu.

Di Anfield, Klopp dibebani segudang ekspektasi besar untuk menduplikasi kegemilangannya bersama Borussia Dortmund dalam menyaingi dominasi Bayern Munchen di Jerman.

Pekerjaan yang cukup berat mengingat dalam proses membangkitkan kejayaan Liverpool itu, ia juga harus harus menghadapi hantu-hantu Anfield.

Namun, Klopp cukup ulet. Ia perlahan mulai membangun timnya dengan sabar. Pemain-pemain yang sesuai dengan kemauannya pun didatangkan. Meski tanpa seorang playmaker murni, Liverpool mulai mencuri perhatian karena menyajikan permainan yang menghibur.

Setelah menanamkan pola permainan yang menjadi kekhasannya, The Reds mulai unjuk gigi. Meski gagal di final Liga Champions pada musim 2017/2018 melawan Real Madrid, mereka telah menunjukkan kebolehannya.

Semusim berselang, Liverpool berhasil bangkit dan menjuarai Liga Champions untuk keenam kalinya. Klopp sudah membuktikan kelasnya. Ia juga menunjukkan jati dirinya sebagai orang yang dapat bangkit andai diberi kesempatan kedua.

BACA JUGA:  Brangelina dan Hal-hal yang Berpisah di Sepak Bola

Sementara itu, di Inggris, ia harus bersaing dengan Pep Guardiola yang mengomandoi Manchester City. Persaingan ketat di liga musim 2018/2019 memang tak membuahkan hasil bagi Klopp. Namun, setidaknya Liverpool belajar.

Musim ini, Klopp sukses mengejawantahkan pelajaran yang ia ambil tahun lalu, yakni soal konsistensi. Alhasil, ia bisa membawa The Reds mengakhiri puasa gelar liga selama 30 tahun. sebuah jeda puasa gelar liga paling lama dalam sejarah The Reds.

Liverpool menjalani musim paling luar biasa di liga dengananya mengalami jumlah kekalahan yang dapat dihitung jari. Mereka juga meninggalkan City di urutan kedua dengan selisih poin dua digit yang amat jauh dan mustahil dikejar bahkan saat kompetisi masih menyisakan tujuh laga.

Keberhasilan yang dipersembahkan Klopp membawa sekelibat ingatan akan sosok Shankly. Walaupun harus diakui, perjuangan pelatih legendaris Liverpool tersebut lebih terjal karena harus membawa timnya dari divisi bawah.

Mungkin terlalu dini juga jika membandingkan pengaruh Shankly dan Klopp di tubuh Liverpool. Di masa lalu, Shankly memang membuat pekerjaannya menjadi sebuah pengaruh besar untuk The Reds yang hingga saat ini masih bisa dirasakan.

Akan tetapi, Klopp tak kalah hebat. Serupa dengan Shankly, ia berhasil mengakhiri puasa gelar Liverpool. Bahkan, kemarau trofi Liga Inggris yang dialami mantan pelatih Dortmund itu 13 tahun lebih panjang daripada yang dilakoni Shankly.

Satu yang pasti telah dilakukan oleh Klopp, ia dapat mengalahkan ketakutan akan bayang-bayang kesuksesan masa lalu. Karena bagaimanapun, menukangi sebuah tim besar dengan kejayaan masa silam yang gemilang adalah pekerjaan berat dengan ekspektasi segunung.

Dulu, Liverpool adalah tim besar di Inggris yang kurang lebih dua dekade menguasai tanah Britania. Lalu, paceklik yang amat sangat mengerikan itu tiba-tiba terjadi selama tiga dekade. Dan Klopp dengan fantastis sukses menurunkan hujan di ladang tandus tersebut musim ini.

Jika ia bertahan lama di Liverpool, terus menghadirkan prestasi, dan membawa kembali kemasyhuran klub tersebut, percayalah, Klopp akan menjadi hantu baru di Anfield. Suara tawanya memenuhi seantero stadion dan wajahnya membayangi siapapun yang duduk di kursi pelatih.

Komentar
Mariemon S. Setiawan
Penulis adalah seorang pendukung Barcelona yang mengagumi Fransesco Totti. Menyukai tinju dan sepakbola. Dapat disapa dengan ramah di Facebook dengan akun Monteiro Van Halle.