Juventus: Dari Del-Pippo Hingga Angelo Peruzzi

Pemain bertubuh ceking berlari secara diagonal meninggalkan Gennaro Gattuso lalu adu lari dengan Paolo Maldini. Umpan dari Alessandro Del Piero diterima dengan sepakan kaki kirinya. Cristian Abbiati tak mampu menghalau datangnya bola. Gol. Kedudukan berubah menjadi 2-1 untuk Juventus.

Pada menit ke-50, Filippo Inzaghi berhasil membawa Juventus untuk membalikkan keunggulan. Akhirnya, pertandingan yang berlangsung pada kompetisi Seri A 1999/2000 antara Si Nonya Tua dengan AC Milan berakhir dengan skor 3-1 (Conte 23’; Inzaghi 50’; Kovacevic 90+; Zidane 21’ o.g)

Inzaghi adalah pemain yang unik. Dia adalah pemain dengan penempatan posisi yang luar biasa. Tak terdeteksi namun tepat penjelajahan. Mungkin benar kata Ferguson suatu kali. Dia terlahir dalam posisi offside. Mungkin benar pula kata Oliver Kahn. Inzaghi adalah pemain yang tak ingin dilawannya.

Saya mengidolakan Inzaghi karena satu hal. Sama-sama bertubuh ceking. Bayangan saya, tubuh ceking tak mampu ditempatkan sebagai penyerang. Harus postur tinggi macam Oliver Bierhoff atau ideal macam Hernan Crespo. Catatan 58 gol dari 122 penampilan bersama Juventus (1997-2001) menjadi bukti sahih bahwa Inzaghi adalah penyerang yang buas di depan gawang.

Selain Dwight Yorke dan Andy Cole, duet Filippo Inzaghi dan Alessandro Del Piero adalah yang terbaik pada era itu. Pada tahun 1997/1998, Del-Pippo, sebutan untuk mereka, berkolaborasi dalam menghasilkan gol sejumlah 39 dari 67 untuk Juventus. The Old Lady pun sukses menggamit scudetto yang ke-25.

Insting Inzaghi dan kejeniusan Del Piero menjadi semacam penanda kepada pemain lawan, utamanya penjaga gawang.

“Bung, jangan halangi kami atau kami hujani dengan gol.”

Kira-kira begitulah dialog imajiner antara Del-Pippo dengan penjaga gawang. Ditambah lagi, mereka didukung oleh sang trequartista, Zinedine Zidane. Cara mengolah bola dan mampu menggunakan kedua kaki sama baiknya maka segitiga emas pun siap mengancam gawang lawan.

BACA JUGA:  Duo Kiper Muda Di Balik Bayang-bayang Gianluigi Buffon

Kenyamanan mereka dalam menyerang juga ditunjang oleh barisan mildfielder yang tangguh. Sebut saja Didier Deschamps. Metronom asal Perancis yang siap mendistribusikan bola dari depan ke belakang atau sebaliknya. Dia memang tidak mencetak gol pada musim itu. Namun, dengan tampil dalam starting eleven sebanyak 23 kali, dia mampu menjaga Juventus untuk kembali meraih scudetto.

Jangan lupakan Edgar Davids. Pemain yang sering kali disebut Pitbull ini selalu bermain gigih dan ngotot dalam merebut bola. Tak jarang, dia juga menggunakan kaki kirinya untuk menembak dari jarak jauh. Salah satu tembakannya yang berujung gol adalah saat mengeksekusi tendangan bebas pada giornata ke-19 Serie A 1997/1998. Golnya pada menit ke-65 memupus harapan AS Roma sekaligus mengunci kemenangan dengan skor 3-1.

Lini belakang tak kalah elok. Tridente Ciro Ferrara, Mark Iuliano, dan Paolo Montero menjadi palang pintu yang tangguh. Kolaborasinya cukup teruji. Buktinya, Juventus menjadi pertahanan terbaik kedua setelah Inter Milan. Hanya selisih satu gol. Inter dengan torehan kebobolan 27 gol sedangkan Juventus kecolongan 28 gol.

Khusus Ferrara, penampilannya tidak seperti pada tiga musim sebelumnya. Dia hanya terjun di lapangan sebanyak 17 kali. Padahal, sebelumnya dia mencatatakan penampilan lebih dari 30 kali. Akan tetapi, kewibawaan serta pengaruhnya sebagai pemain paling senior di lini belakang memberikan rasa aman bagi pertahanan Si Nyonya Tua.

Nah, tentu tidak lengkap membicarakan musim tersebut tanpa Angelo Peruzzi. Dialah penjaga gawang utama di Juventus. Kepiawaiannya mengamankan bola serta berhasil mencatatkan 11 cleansheet dari 31 kali penampilan membuat Juventus menjadi yang terbaik.

Sayangnya, pada musim tersebut, kegemilangan Juventus sedikit ternodai dengan belum beruntung mengangkat si Kuping Besar, Liga Champions. Di final, Juventus terpaksa gigit jari setelah kalah tipis 1-0 dari raksasa Spanyol, Real Madrid.

BACA JUGA:  Sepakbola Wanita di Daerah Istimewa Yogyakarta Tak Pernah Mati 

Namun begitu, Marcelo Lippi bisa berbangga memiliki skuad yang mumpuni. Setidaknya, satu gelar bisa diperolehnya. Sebab, pada musim-musim berikutnya, terutama menjelang millennium, piala terasa jauh bagi Juventus. Apakah bisa disebut musim kelam? Bisa jadi.

Secara bergantian, AC Milan, Lazio, dan Roma mengambil alih scudetto. Komposisi pemain yang bolak-balik harus ke ruang medis, inkonsistensi bermain pada tiap pertandingan, hingga tongkat estafet dari Lippi ke Carlo Ancelotti yang tak berjalan mulus membuat Juventus sedikit merana.

Dampaknya, arus perpindahan pemain mulai terjadi. Peruzzi dibajak Inter Milan. Inzaghi dilego ke AC Milan. Zidane dipinang oleh Real Madrid, dan saat itu, transfernya menjadi yang termahal. Agak menyedihkan.

Akan tetapi, bagi saya, musim 1997/1998 adalah yang terbaik. Duet Del-Pippo adalah alasannya. Ingat, baik Inzaghi maupun Del Piero sama-sama menorehkan hattrick di Liga Champions. Jika Inzaghi menorehkan hattrick saat bertandang ke Kiev, Del Piero membuatnya di Delle Alpi.

Maka, tak salah pula jika saat itu, saya bergegas membeli poster Juventus era 1997/1998 lalu menjadikannya dalam bentuk pigura. Dan, ditempelkan di dinding kamar.

Lalu, apakah pada musim ini Juventus bisa dianggap segarang musim 1997/1998? Hehe.

[Best_Wordpress_Gallery id=”34″ gal_title=”Juventus Legends”]

NB: Seluruh ilustrasi yang ada di artikel ini dikerjakan oleh para ilustrator yang tergabung dalam Indonesian Football Artist / IFA (idfootballartist). Fandom.id mendapat kesempatan untuk menayangkan karya-karya terbaik IFA. Daftar ilustrator yang terlibat untuk ilustrasi edisi #MengingatSejarah Juventus ini: Del Piero (@Yulius_wisnu), Zidane (danang_nih), Inzaghi (@finendi), Deschamps (@vembipahlevi), Davids (@nefiandaa), Ferrara (@RifqeeHulk), dan Peruzzi (@sonyandrio).

Komentar
Staf pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan dan Redaktur Penerbit Fandom ID. Bisa dihubungi melalui akun Twitter @moddiealdieano