Panggung Utama Gianluigi Donnarumma

AC Milan memang sedang dalam tahap perubahan di segala aspek, dari pemilik, petinggi, hingga regenerasi pemain. Boleh dibilang, Milan tengah membangun dinasti baru.

Sejak berpisah dengan Carlo Ancelotti, Milan seperti kehilangan kenyamanannya. Memang, pemegang tujuh gelar Liga Champions tersebut masih meraih Scudetto kala dibesut Massimiliano Allegri pada musim 2010/2011. Namun, selepas ditinggal pergi para bintangnya, Milan kehilangan arah.

Setelah itu, Milan terlalu akrab dengan papan tengah. Gonta-ganti pelatih hingga mercato yang buruk membuat il Diavolo Rosso kesulitan bersaing dengan Juventus, AS Roma, Napoli, bahkan Internazionale Milano.

Selain mercato yang buruk, kesulitan finansial menjadi salah satu sebab. Milan hanya mampu membeli atau meminjam pemain yang sudah lewat masa puncak performanya. Melepas pemain bintang tidak diimbangi dengan strategi transfer yang ideal.

Oleh sebab itu, menjalankan youth project yang sempat tertunda menjadi sangat penting bagi Milan. Menjamin masa depan dengan pemain-pemain muda yang potensial menjadi salah satu cara mengakali kesulitan finansial. Dan pada masa allenatore Sinisa Mihajlovic, anak-anak muda dari scula calcio Milan diberi kesempatan.

Pelatih kelahiran Vukovar, Kroasia tersebut dengan berani memberi debut bagi beberapa pemain muda. Satu nama yang Miha, panggilan akrab sang pelatih, orbitkan adalah Gianluigi Donnarumma. Kiper belia asal Italia tersebut menikmati debutnya pada usia 16 tahun!

Awal promosi ke tim senior dan perkembangan Donnarumma

Kiper kelahiran 25 februari 1999 ini memang sudah menjadi penggemar fanatik Rossoneri sejak kecil. Pelatih pertama yang sangat berjasa bagi dirinya adalah Riccardo Monguzzi, pelatih Milan U-17.

Di bawah asuhan pelatih kelahiran Monza tersebut, performa Donnarumma sangat menonjol hampir di setiap pertandingan. Performanya terjaga, ketika mengikuti berbagai kompetisi primavera seperti Primavera B, Viareggio Cup, dan Coppa Primavera. Penampilan yang apik membuat Donnarumma dipanggil tim nasional Italia U-17.

Filippo Inzaghi, pelatih Milan kala itu, tertarik dengan perkembangan Donnarumma. Ia memanggilnya ke tim utama untuk mengisi bangku cadangan kala Milan menghadapi Cesena pada giornata 24 musim 2014/2015. Donnarumma memang tak bermain, namun ia mendapatkan pengalaman yang luar biasa.

BACA JUGA:  Tujuh Belas Jersey Klub dengan Sponsor Ikonik

Donnarumma menghabiskan musim 2014/2015 bersama tim utama. Ia berlatih bersama para pemain senior, mau bekerja keras dan belajar, dan akhirnya mendapatkan kontrak baru selama tiga tahun bersama Milan. Kerja kerasnya juga terbayar semusim setelahnya, ketika Mihajlovic duduk sebagai allenatore.

Donnarumma, yang turut serta dalam rangkaian tur pra-musim 2015/2016, berhasil menarik perhatian Miha. Pelatih yang sewaktu masih aktif bermain terkenal dengan tendangan bebasnya tersebut memberi Donnarumma banyak kesempatan bermain di beberapa pertandingan pra-musim.

Aksinya yang paling terkenal adalah ketika berhasil menepis tendangan penalti Toni Kroos ketika Milan menghadapi Real Madrid. Sontak, perhatian dunia seperti mengarah kepada dirinya. Chelsea dan Paris Saint-Germain langsung diberitakan akan menyiapkan dana besar untuk memboyong kiper dengan tinggi 196 sentimeter tersebut.

Dan pada musim itu juga, tepatnya pada giornata ke-9, Donnarumma mendapatkan kesempatan debut ketika Milan mengalahkan Sassuolo dengan skor 2-1. Meski masih sangat belia, kiper jangkung ini tak canggung ketika berani meneriaki bek-bek yang lebih tua supaya bermain lebih disiplin. Percaya diri yang tinggi.

Pada musim 2015/2016 itu, kiper yang mengidolai Gianluigi Buffon tersebut total bermain dalam 30 pertandingan. Sebuah capaian yang begitu istimewa untuk kiper yang masih berusia 16 tahun kala melakoni debutnya bersama tim utama Milan.

Performa Donnarumma di musim pertama tidak buruk. Dari 30 pertandingan, Donnarumma meraih 10 kali tidak kebobolan dan rata-rata kemasukan gol 0,97 per pertandingan. Ini tentu catatan yang sangat apik mengingat lini belakang Milan yang belum menemukan bentuk idealnya.

Musim itu juga, jika dibandingkan dengan Gianluigi Buffon, Donnarumma memiliki rataan penyelamatan per pertandingan yang lebih baik, yaitu 2,33 berbanding 1,80. Ini menandakan peran Donnarumma yang krusial di lini belakang Milan.

Di musim 2016/2017 yang baru berjalan 9 pertandingan, Donnarumma kembali memperlihatkan performa gemilang. Walaupun Milan saat ini sudah kebobolan 11 gol, Donnarumma melakukan rataan penyelamatan 2,75 per pertandingan. Meningkat dibanding musim lalu.

Sang kiper pun memiliki catatan apik dengan 100 persen tangkapan atau antisipasi dari umpan silang yang dilakukan oleh lawan. Sebuah catatan yang kembali mengingatkan bahwa postur tinggi Donnarumma memang menjadi nilai plus bagi dirinya.

BACA JUGA:  Gianluca Pandeynuwu: Orang Manado Di Bawah Mistar PSPS Riau

Peran krusial di partai krusial

Perkembangan dan kemantangan Donnarumma semakin terlihat ketika secara luar biasa, Milan menekuk Juventus dengan skor tipis 1-0 (23/10). Beberapa penyelamatan gemilangnya menjaga gawang Milan tetap steril hingga laga usia. Termasuk penyelamatan dengan ujung jari untuk menghalau sepakan keras Miralem Pjanic.

Ketika peluit akhir ditiup, pemain-pemain Milan mengerubungi Donnarumma untuk memberi selamat. Selain Manuel Locatelli yang mencetak gol kemenangan, Donnarumma juga layak menjadi pahlawan pada grande partita tersebut.

 

Kemenangan atas Juventus ini membawa Donnarumma ke titik yang lebih tinggi lagi. Penampilannya semakin menegaskan bahwa Donnarumma punya potensi untuk menjadi kiper andalan Italia dalam beberapa tahun ke depan.

“Ia punya bakat hebat dan saya pikir ia bisa melakukan lebih dari apa yang sudah saya lakukan dengan seragam Milan karena ia masih sangat muda. Gigio sudah menunjukan kualitasnya dan ia akan berkembang lebih jauh,” ungkap Dida.

Satu lagi pengalaman berharga didapatkan Donnarumma dari kemenangan Milan atas Juventus. Ya, kiper muda tersebut berhasil mengalahkan Buffon, idolanya sejak mengawali karier profesional. Sebuah penegasan kembali bahwa penerus Buffon di tim nasional sudah lahir.

Aset paling berharga

Para pemain binaan seperti Donnarumma hingga Locatelli adalah pemain muda yang siap bertarung habis-habisan untuk panji Milan. Bagi para remaja tersebut, Milan adalah suatu kehormatan yang harus mereka perjuangkan. Apalagi, ketika proyek pemain muda yang tengah dibangun Milan menunjukkan hasilnya.

Milanisti wajib berdoa secara khusyuk supaya Donnarumma dan pemain-pemain muda lainnya tak dijual manajemen dalam beberapa tahun ke depan. Mereka adalah aset yang paling berharga dan akan menjadi kunci masa depan Milan. Nama baik Milan, bisa jadi, ada di tangan mereka.

Donnarumma sendiri disebut bisa jadi akan menjadi pemimpin Milan seperti Franco Baresi atau Paolo Maldini. Ia sendiri bercita-cita bisa menjadi il bandiera Milan, seperti Maldini yang menghabiskan kariernya bersama Setan Merah.

 

Komentar