Kegagalan dan Warisan Van Gaal

Van Gaal dipecat meskipun memberi trofi pertama di era paska-Alex Ferguson. Kepergiannya, bagi sebagian besar pendukung Manchester United (MU), memberi kelegaan. Sepanjang dua musim, taktik yang terlalu hati-hati dan penguasaan bola tanpa penetrasi menghadirkan sepak bola yang lambat, membosankan, dan membuat frustasi.

Fans MU pasti merasakan sedikit udara segar. Tahun-tahun berlalu dengan frustasi dengan keanehan taktik yang dipilihnya. Kalau tidak monoton dan gampang ditebak, bisa sebaliknya: sulit dimengerti.

Mudah saja, ingat bagaimana Ashley Young sepanjang musim: bermain sebagai bek kiri, bek kanan, dan di final piala FA, ia bermain sebagai striker—sementara Rooney atau Martial bermain di tengah. Ia juga tidak nyambung dengan keingingan publik Old Trafford. Nyanyian ejekan dari tribun ia anggap pujian, dan dukungan untuk sepak bola menyerang dianggap sebagai kritikan.

Para pandit menggarisbawahi ketidakmauannya menampilkan sepak bola cepat, agresif, menyerang dan penuh petualangan yang menjadi ciri MU di masa jayanya. Sementara para pemain tidak menikmati gaya kaku dan semi-militer-nya.

Metode latihan cenderung restriktif menimbulkan masalah dengan pemain mahal yang, justru, ia beli sendiri. Pemain kreatif dikekang dan tidak banyak diberi kebebasan, sehingga permainan mereka tidak lepas dan penuh imajinasi.

Ia dianggap gagal mengembalikan keangkeran dan aura Old Trafford. Tim gurem sering menang di sana. Anggaran tanpa batas yang disediakan keluarga Glazer gagal dimanfaatkan untuk membentuk tim yang solid dan menawan. Alih-alih, MU terlempar di Liga Champions dan Europa dari tim semenjana.

Posisi lima di klasemen liga dianggap tidak pantas. Selain masalah gengsi, absen di Liga Champions berarti mengurangi pendapatan dari hak siar televisi dan menurunkan minat undangan tur luar negeri. Ini buruk secara bisnis. Turunnya prestasi akan diikuti anjloknya harga saham dan negosiasi iklan.

Kekecewaannya yang mendalam terhadap pemecatan ini jelas mudah dimengerti. Van Gaal punya karakter dan kualitas untuk sukses di MU. CV-nya bicara sendiri. Ia bekerja di klub-klub ternama dan terbiasa menangani pemain kelas dunia. Kariernya bergelimang piala. Di setiap klub yang ia besut, setidaknya satu trofi ia menangi.

Ia punya kepribadian kuat, syarat utama untuk melatih dan sukses di klub besar. Tanpa karakter kuat, setiap pelatih bagus hanya akan bernasib seperti David Moyes.

Ego itu juga terlihat dari keberaniannya untuk berkonfrontasi dengan media dan kepercayaannya terhadap “my philosophy”.

Keseimbangan antara tradisi besar sebuah klub dan kepribadian kuat pelatih merupakan syarat kesuksesan. Van Gaal dan MU memiliki keduanya. MU memiliki riwayat panjang dengan sepak bola menyerang. Klub ini dikenal luas, salah satunya, karena tipe sepak bola yang berani mengambil resiko untuk menyerang dan diserang.

BACA JUGA:  Rasen Ballsport Leipzig: Promosi, Dibenci, Berprestasi

Dimulai pada era Matt Busby di tahun 1960-an, Old Trafford membenci sepak bola yang hati-hati dan membosankan. Lalu Alex Ferguson berhasil melebur ego dirinya dan tradisi klub, menciptakan rangkaian tim pemenang lewat permainan menggentarkan.

Sebagai institusi kultural sekaligus bisnis, MU harus mampu melestarikan dan menjual brand  sepak bola ini sekaligus menuntut pelatih beradaptasi.

Van Gaal memang tidak seberuntung Ferguson karena ia tidak punya enam tahun untuk beradaptasi. Namun, masalah terbesar bukan soal waktu.

Masalahnya adalah: egonya terlalu besar. Ia terlalu kaku dan berhati-hati, tidak sesuai dengan citra sepak bola yang dijual MU di pasar global. Ia, terutama, gagal memuaskan sepak bola Inggris yang berharap pertandingan-pertandingan yang menguras emosi. Sulit diingat kapan MU menghadirkan tontonan yang memaksa penonton bertahan hingga peluit akhir dibunyikan.

*****

Kendati dianggap gagal, Van Gaal mewariskan dua hal yang sangat berharga bagi MU. Pertama, di akhir musim ini, ia menciptakan tim yang diisi oleh pemain muda didikan akademi.

Keputusannya memberi debut bagi Marcus Rashford, Jesse Lingard, Borthwick-Jackson, Donald Love atau Timoty Fosu-Mensah, menyelamatkan MU dari musim yang buruk. Satu-dua pertandingan di awal-awal musim semi memperlihatkan MU yang tampak lebih segar, dinamis, dan bermain dengan nyali.

Keberanian menyuntikkan darah segar dari akademi sejalan dengan tradisi MU dengan tim yang didominasi pemain lokal. Ini membawa romantika akan “Class of 92” atau “Matt Busby’s Babes” mengemuka kembali. Kepercayaan pada pemain muda merevitalisasi citra MU sebagai klub yang percaya akademi. Tidak ada pelatih yang memberi debut sebanyak Van Gaal kecuali Mauricio Pochettino selama di Soton dan Spurs.

Munculnya pemain lokal menunjukkan bahwa Van Gaal berpikir tentang menciptakan sebuah generasi. Ia, jelas, bukan pelatih yang sekadar memburu piala dan pemain mahal semata. Pembinaan jangka panjang ada dalam agendanya. Lebih dari itu, keberadaan pemain lokal berhasil menautkan ikatan sosial-emosional sebuah klub dengan kota atau pendukungnya.

Van Gaal punya jejak rekam panjang dengan para pemain muda yang menjadi ikon klub dan kotanya. Di Barcelona, ia memberi debut bagi Carlos Puyol, Xavi, Iniesta, dan Victor Valdez.

Dekade sebelumnya di Amsterdam, dia mengolah talenta lokal macam Edgar Davids, Clarence Seedorf, de Boer bersaudara, van Der Saar, dan Marc Overmars. Di Munchen, dia memberi kesempatan pemain akademi seperti Thomas Muller.

BACA JUGA:  Tiga Alasan Kegagalan Belanda Lolos ke Euro 2016

Para pemain muda tersebut kemudian menjelma menjadi pemain kelas dunia dan memenangi banyak piala, jauh setelah Van Gaal tidak melatih mereka. Tidak hanya itu, mereka menjadi representasi klub dan memberi inspirasi bagi kota tempat mereka tumbuh.

Xavi identik dengan spirit intelektual dan penuh kalkulasi model Catalunia; Muller mewakili jiwa tenang tapi mematikan ala Bavaria; dan Rashford merepresentasikan kota Manchester yang dinamis dan vibran. Keberanian Van Gaal mengambil resiko untuk memberi debut pemain muda lokal Manchester akan dikenang untuk waktu yang lama.

Kedua, dua musim Van Gaal memberi sekolah kepelatihan terbaik bagi Ryan Giggs, manajer masa depan MU. Giggs beruntung bisa belajar dekat dari Van Gaal sepanjang dua tahun. Meneer Belanda ini memiliki reputasi sebagai guru bagi pelatih-pelatih ternama Eropa saat ini.

Jose Mourinho, Ronald Koeman, Frank de Boer, Frank Rijkaard, Daley Blind, Pep Guardiola, Luis Enrique, Philip Cocu yang sekarang di PSV Eindhoven, untuk beberapa nama, adalah pelatih juara yang menimba ilmu langsung dari Van Gaal, terutama semasa dua periode melatih di Barcelona (1997-2002). Metode kepelatihannya barangkali membuat para pemain tertekan, namun kehebatan Van Gaal dalam menjelaskan mekanika sepak bola berhasil memproduksi pelatih jempolan.

Terdidik sebagai seorang guru gymnastic, Van Gaal menguasai seni pedagogi. Ia memang keras kepala, tetapi tidak ada keraguan bahwa ia adalah sedikit pemikir paling jenius sekaligus guru yang mampu menjelaskan dan menunjukkan logika permainan kepada orang lain dengan gamblang. Hanya sedikit pelatih di dunia yang berhasil melakukannya.

Sir Alex sendiri, meskipun rezimnya bertahan hingga hampir tiga dekade, tidak berhasil menjadikan Old Trafford sebagai institusi terbaik kepelatihan. Pelatih paling hebat didikannya barangkali Steve Bruce, yang mondar-mandir dari Liga Primer dan Championship.

Mengingat Giggs adalah perwujudan dari spirit dan tradisi MU, kehadiran Van Gaal akan memberi kesuksesan bagi MU di masa depan, andai saja Giggs ada dalam rencana jangka panjang klub. Meskipun jarang berbagi tawa dan canda dengan Van Gaal, Giggs pasti telah menyerap banyak ilmu kepelatihan darinya.

MU bisa memakai dua warisan berharga Van Gaal untuk menciptakan proyek sepak bola untuk dekade-dekade mendatang. Dua tahun adalah waktu yang panjang bagi sepak bola membosankan ala Van Gaal, namun itu bisa jadi adalah periode di mana fondasi kokoh kesuksesan sedang diletakkan.

 

Komentar
Antropolog amatir tinggal di Belanda.