Kekokohan yang Dihadirkan Simon Kjaer

Selepas jeda kompetisi akibat pandemi Corona, ada satu kesebelasan di Italia yang performanya begitu mengilap dan membuat suporter mereka mabuk kepayang. Kesebelasan yang saya maksud tentulah AC Milan.

Secara meyakinkan, mereka tak terkalahkan di 24 pertandingan dari seluruh ajang yang diikuti sejak 8 Maret 2020 lalu. Barulah pada 5 November 2020 kemarin, I Rossoneri menelan kekalahan perdananya usai dibungkam Lille 0-3 dalam lanjutan penyisihan grup Liga Europa 2020/2021.

Ada begitu banyak puja dan puji terkait performa gemilang Milan yang selama beberapa musim ke belakang identik dengan kesemenjanaan.

Tak ayal, Stefano Pioli yang duduk di kursi pelatih pun mendapat apresiasi lebih dari para pencinta sepakbola. Pria berkepala plontos itu dianggap sebagai salah satu figur kunci membaiknya performa Milan.

Selain Pioli yang meracik strategi, ada pula Zlatan Ibrahimovic yang dinilai khalayak sebagai penggerak utama tim sehingga tampil luar biasa. Namun di luar nama-nama tersebut, ada sosok Simon Kjaer yang sepantasnya mendapat kredit tersendiri walau selama ini jarang mendapat sorotan media.

Ya, penyerang sekelas Ibrahimovic takkan bisa menjadi protagonis andai lini belakang I Rossoneri rapuh layaknya sarang laba-laba. Dan Kjaer memberi kontribusi signifikan perihal itu. Sejak didatangkan pada bursa transfer musim dingin 2020 via status pinjaman, pria berpaspor Denmark tersebut memang tak tergantikan di jantung pertahanan Milan.

Pelan tapi pasti, Kjaer menjadi tandem sehati kapten tim, Alessio Romagnoli. Dengan postur jangkung, Kjaer merupakan figur yang diandalkan dalam situasi duel-duel udara. Bangun tubuhnya yang kokoh juga bikin dirinya siap melakoni kontak fisik. Lebih jauh, kemampuannya melepas umpan-umpan panjang akurat membuat presensinya begitu krusial di lini pertahanan karena dapat menjadi inisiator serangan.

BACA JUGA:  Surat Terbuka Untuk Carlos Bacca

Mesti diakui, semenjak Kjaer hadir di Stadion San Siro, soliditas sektor pertahanan Milan mengalami penguatan. Mereka tak lagi gampang ditembus lawan dan tak mudah pula melakukan kesalahan-kesalahan elementer yang justru merugikan diri sendiri.

Berkat performanya yang apik dan konsisten selama berkostum I Rossoneri, manajemen klub mengaktifkan opsi permanen yang sebelumnya disepakati dengan Sevilla, klub pemilik Kjaer.

Tak tanggung-tanggung, ia diganjar kontrak kerja sampai musim panas 2022 mendatang. Sebuah bukti jika figurnya makin dianggap penting.

Apa yang dipamerkan Kjaer hingga saat ini berhasil mengubah cara pandang Milanisti. Ya, diawal kedatangannya ke Milanello, banyak fans yang ragu kalau pria berambut pirang ini dapat tampil maksimal dan jadi pilihan utama. Apalagi stok bek tengah I Rossoneri tergolong padat karena sudah dihuni Leo Duarte, Matteo Gabbia, Matteo Musacchio, dan Romagnoli.

Akan tetapi, Kjaer menunjukkan kepada Pioli dan khalayak bahwa kemampuan dan pengalamannya bisa diberdayagunakan. Sang pelatih sendiri akhirnya menyadari jika Kjaer merupakan tandem paling pas untuk Romagnoli sebagai tembok di depan penjaga gawang Gianluigi Donnarumma.

Serie A bukanlah medan perang yang asing bagi Kjaer. Dalam perjalanan kariernya sebagai pesepakbola, ada tiga kesebelasan Italia lain tempatnya mengabdi sebelum bergabung dengan Milan. Mereka adalah Palermo, AS Roma, dan Atalanta.

Bersama tim yang disebut pertama, Kjaer naik daun sebagai bek tengah berkemampuan bagus. Panggilan dari tim nasional Denmark juga didapatnya saat berbaju I Rosanero.

Kenyang asam garam merumput di Negeri Pizza membuat Kjaer tak kesulitan beradaptasi dengan lingkungan barunya di Milan. Hasilnya pun kini terlihat dengan kepercayaan Pioli terhadapnya. Masalah yang selama ini acap mengganggu sektor belakang, perlahan mulai hilang akibat presensi Kjaer.

BACA JUGA:  Arsene Wenger dan Bla…Bla…Bla

Dilansir dari Transfermarkt, sepanjang musim 2020/2021, Kjaer sudah beraksi selama 1182 menit di atas lapangan. Sekali lagi, ini menjadi bukti kalau dirinya begitu krusial untuk lini belakang Milan dan skema andalan Pioli.

Bila konsistensi penampilannya sanggup dipertahankan, ada kans bagi Kjaer buat membawa timnya yang kini nangkring di puncak klasemen Serie A mendapatkan hasil lebih prima ketimbang musim sebelumnya. Entah di kancah domestik maupun regional.

Tak cukup sampai di situ, Kjaer juga dapat membagikan ilmunya kepada bek-bek muda Milan agar semakin matang dan bisa diandalkan di masa yang akan datang.

Komentar
Arif Setyadi, penikmat sepakbola dan mendoan. Bisa disapa di akun twitter @arifs_di