Kepiluan Ronaldo di Olimpico

Terletak di ibu kota Roma dan jadi salah satu stadion terbesar di Italia, Olimpico sudah mengukir banyak cerita semenjak diresmikan pada tahun 1932 silam. Salah satu yang paling menarik sekaligus fenomenal tentulah keterikatan kandang AS Roma dan Lazio ini dengan kepiluan penyerang ikonik asal Brasil, Ronaldo Luiz Nazario de Lima.

Gagal Scudetto

Di bulan Mei 2002, Ronaldo yang saat itu berkostum Inter Milan berangkat menuju kota Roma guna membela timnya dalam laga kontra Lazio. Hanya ada satu misi yang diusung I Nerazzurri pada momen tersebut yaitu membawa pulang tiga angka sekaligus mengamankan gelar Scudetto pertamanya sejak musim 1988/1989.

Kemenangan jadi harga mati bagi Inter sebab mereka bukan satu-satunya kesebelasan yang mengantongi kans menahbiskan diri sebagai raja di Negeri Spaghetti. Juventus dan Roma juga punya peluang untuk melakukannya. Maka drama di giornata ke-34 Serie A 2001/2002 amat dinantikan publik.

Merebut poin sempurna dari I Biancoceleste bukanlah pekerjaan gampang. Hal itu dimengerti betul oleh pelatih Inter di musim 2001/2002, Hector Raul Cuper. Alhasil, ia menurunkan skuad terbaiknya guna bertempur sampai titik darah penghabisan di Stadion Olimpico.

Seperti yang diduga banyak pihak, laga di bawah teriknya matahari yang menyinari kota Roma berjalan alot untuk I Nerazzurri. Kegugupan terlihat dari seluruh penggawa Inter. Padahal Interisti dan Laziale yang memadati stadion punya keinginan sama, melihat Ronaldo dan kawan-kawan menang serta beroleh Scudetto.

Ada alasan kuat mengapa Laziale berharap tim kesayangannya membantu sang tamu. Mereka jelas ogah melihat rival sekotanya, Roma, kembali jadi tim nomor satu di Italia seperti musim 2000/2001. Sayangnya, harapan Laziale seolah tak didengar oleh para penggawa I Biancoceleste yang tampil apik dan lihai memanfaatkan kebodohan skuad Inter.

Lazio memberi pelajaran berharga kepada Inter tentang mental yang seharusnya dimiliki oleh tim kandidat juara. Ya, selalu mampu keluar dari situasi sulit guna mendulang hasil positif kendati bermain sangat jelek.

BACA JUGA:  Cristiano Ronaldo 2009: Perkenalan Pemain dengan Penonton Terbanyak Sepanjang Sejarah!

I Nerazzurri berhasil membuka keunggulan di menit ke-12 lewat upaya Christian Vieri. Namun delapan menit kemudian Karel Poborsky sukses menyamakan skor bagi Lazio. Asa Inter kembali mengangkasa setelah Luigi Di Biagio mencetak gol pada menit ke-24 usai mengonversi umpan dari Alvaro Recoba. Sialnya, Poborsky lagi-lagi jadi aktor antagonis buat sang tamu setelah menceploskan bola ke gawang Francesco Toldo untuk kedua kalinya sekaligus menutup babak pertama dengan skor 2-2.

Keadaan itu membuat kaki-kaki penggawa Inter begitu berat di babak kedua. Akibatnya, jala mereka sukses digetarkan dua kali, masing-masing oleh Diego Simeone dan Simone Inzaghi sekaligus menutup pertandingan dengan kedudukan 4-2 buat keunggulan I Biancoceleste.

Tangis para pemain Inter dan Interisti pun bercucuran di Stadion Olimpico. Gelar Scudetto yang begitu diimpikan melayang ke rival bebuyutan, Juventus, yang pada saat bersamaan sukses menjungkalkan Udinese di Stadion Friuli.

Ronaldo sendiri ditarik Cuper pada menit ke-78 buat disubstitusi oleh Mohamed Kallon. Pelatih asal Argentina tersebut punya alasan mengapa mengganti salah satu penyerang terbaik yang ada di skuadnya. Jujur saja, performa The Phenomenon, julukan Ronaldo, jauh dari kata memuaskan selama merumput.

Saat keluar lapangan, langkah Ronaldo terlihat gontai. Ada kegundahan yang terpancar dari wajahnya sebab I Nerazzurri dalam kondisi tertinggal dan ia tak mampu berbuat apa-apa. Bahkan di saat wasit meniup peluit panjang, tak cuma keringat yang membasahi wajah Ronaldo, tapi juga air mata.

Bagi Ronaldo, kekalahan Inter dari Lazio di pekan pamungkas Serie A 2001/2002 itu jadi salah satu momen paling getir dalam karier sepakbolanya. Ironisnya, itu terjadi di Stadion Olimpico yang sebelumnya juga menorehkan memori pahit bagi pria kelahiran Rio de Janeiro tersebut.

Cedera Parah (Lagi)

Pada April 2000, Inter bertandang ke Stadion Olimpico untuk bersua Lazio dalam leg pertama babak final Piala Italia. Itu adalah laga perdana Ronaldo sekembalinya dari cedera sobek tendon yang didapatnya saat membela Inter di laga kontra Lecce pada bulan November 1999 dalam lanjutan Serie A musim 1999/2000.

BACA JUGA:  Mentalitas Kokoh ala Vladimir Petkovic

Marcello Lippi yang jadi allenatore Inter saat itu coba menurunkannya lagi. Namun malang tak bisa ditolak. Dalam tempo enam menit saja, Ronaldo tergeletak di lapangan, memegangi lututnya dan meringis kesakitan. Usahanya melewati hadangan Fernando Couto dan Sinisa Mihajlovic justru berbuah petaka sebab tendon lututnya kembali sobek. Bencana itu juga membuat I Nerazzurri gagal merengkuh Piala Italia perdananya sejak musim 1981/1982.

Ronaldo pun ditandu keluar lapangan. Ia diharuskan beristirahat panjang yakni 521 hari atau sekitar satu setengah tahun. Kemampuan fenomenalnya rusak akibat dua cedera parah dalam rentang waktu yang singkat. Ia memang berhasil bangkit, tapi Ronaldo tak pernah jadi Ronaldo yang seharusnya.

Aksi-aksi yang ia perlihatkan di lapangan tak lagi sama. Eksplosivitasnya menurun jauh walau kemampuan mencetak golnya tidak berkurang. Momen pahit tersebut seperti memutus berbagai rekor yang yang siap dipecahkannya. Setidaknya, itulah yang diyakini oleh Jack Talbott dalam sebuah ulasannya untuk SportBible.

Sebelum akrab dengan cedera, Ronaldo telah menunjukkan ketajaman yang luar biasa. 115 gol hanya dalam 134 pertandingan dalam rentang 1994 sampai 1999 adalah bukti sahih. Dua gelar Pemain Terbaik Dunia FIFA sudah didapatkannya dua kali saat menginjak usia 23 tahun. Tak salah kalau bos Inter, Massimo Moratti, kepincut dan memboyongnya ke Stadion Giuseppe Meazza dengan memecahkan rekor transfer dunia kala itu.

Jika ukurannya adalah trofi mayor, petualangan Ronaldo bareng Inter bisa dikatakan suram. Namun ia tetaplah Ronaldo yang dikagumi banyak orang. Tanah Italia boleh dua kali menyebabkan ia nyaris pensiun muda, tetapi dirinya berhasil bangkit saat membela panji Real Madrid di awal era 2000-an serta mengecup trofi Piala Dunia 2002 bersama tim nasional Brasil.

Komentar
Penggemar Manchester United dan pemerhati sepakbola lokal. Hobi minum kopi sambil mendengarkan lagu-lagu Iksan Skuter. Bisa diajak ngobrol di akun twitter @topikprasetya