Keseimbangan yang Harus Ditemukan Inzaghi

Selepas kepergian Antonio Conte, Inter Milan berburu sosok yang nekat dan nerimo sebagai penggantinya. Dari sekian nama, pilihan jatuh kepada Simone Inzaghi.

Ada banyak pertimbangan manajemen sampai akhirnya merekrut adik dari Filippo Inzaghi tersebut.

Selain urusan bajet klub dan keinginan pribadi sang pelatih yang mencari tantangan baru, pria berumur 45 tahun itu juga dianggap punya pendekatan taktik yang mirip dengan Conte.

Seperti Conte, Inzaghi memang menggemari pola dasar 3-5-2. Berdasarkan hal tersebut, Inter dirasa tidak butuh terlalu banyak penyesuaian.

Meski demikian, ada satu hal yang mesti dipercayai. Beda kepala, beda juga ide dan filosofinya.

Apalagi skuad besutan Inzaghi minus Achraf Hakimi dan Romelu Lukaku yang dilego manajemen demi kucuran fulus senilai lebih dari 100 juta Euro.

Konon, nominal tersebut digunakan untuk menyelamatkan keuangan klub yang ada di garis merah.

Sebagai pengganti keduanya yang teramat sentral dalam skema permainan Conte, Inter mendatangkan Edin Dzeko dan Denzel Dumfries.

Walau punya pola dasar yang sama, tetapi cara bermain tim asuhan Inzaghi berbeda 180 derajat dengan Conte.

Ciri khas permainan pendahulunya itu cenderung kaku, berbasis set play yang kuat serta memiliki keseimbangan yang apik.

Conte takkan ragu meneriaki bahkan memarahi pemainnya andai mereka tidak menerapkan apa yang diinstruksikannya.

Sementara Inzaghi lebih dikenal dengan gaya main yang cair dan tidak terpaku pada set play. Perkara keseimbangan, sentuhan Inzaghi sebetulnya mirip dengan Conte.

Tatkala Serie A 2021/2022 bergulir, Inter mengawali kampanyenya mempertahankan gelar juara dengan gemilang. Mereka menang dengan skor mencolok 4-0 atas Genoa.

Berkat hasil itu, Interisti mulai menyemai optimismenya kepada Inzaghi. Paling tidak, tim kesayangan mereka masih bisa bersaing di jalur juara kendati kekuatannya menurun.

Catatan apik itu kemudian dilanjutkan dengan tiga poin yang didapat atas Hellas Verona.

Riak sempat muncul kala Inter ditahan imbang Sampdoria dan tumbang dari Real Madrid.

BACA JUGA:  Matthijs de Ligt, Jenderal Anyar di Lini Belakang Juventus

Sempat bangkit dengan menggulung Bologna serta Fiorentina, laju I Nerazzurri kemudian tertahan oleh Atalanta dan Shakhtar Donetsk.

Kembali ke jalur kemenangan saat menumpas Sassuolo, Inter lalu dibekap oleh Lazio. Pada titik ini pula, sorotan kepada Inzaghi terasa makin besar.

Kemenangan yang didapat atas Sheriff Tiraspol nyatanya tak menurunkan kadar sorotan itu.

Terbaru, hasil imbang melawan Juventus laksana alarm tanda bahaya untuk Inzaghi. Bukan untuk karier kepelatihannya di Inter melainkan pendekatan permainan yang ia agungkan selama ini.

Gaya main khas Inzaghi yang cair dan senang bermain ofensif mengantar I Nerazzurri sebagai klub yang piawai menciptakan peluang dan mengonversikannya menjadi gol.

Hal itu tercermin dari jumlah gol Inter di Serie A. Sejauh ini, mereka menahbiskan diri sebagai klub tertajam via gelontoran 24 gol.

Apesnya, cara bermain terbuka mereka berimbas pada banyaknya celah di area belakang.

Inter pun melejit sebagai klub yang bercokol di lima besar dengan jumlah kebobolan paling banyak yakni 12 gol!

Kendati permainan I Nerazzurri memikat dan mampu tampil gahar dengan rajin mencetak gol, semuanya akan sia-sia bila mereka selalu gagal memproteksi gawangnya secara paripurna.

Ini bukan tentang kamu kebobolan dua gol, tapi kamu bisa bikin tiga gol dan kamu tetap memenangkan pertandingan seperti yang diucapkan seorang pelatih sekaligus pengamat sepakbola. Inter besutan Inzaghi butuh keseimbangan dalam menyerang dan bertahan.

Garis pertahanan tinggi yang acap diperagakan sangat riskan dibobol sebab trio pemain belakang, Alessandro Bastoni-Stefan de Vrij-Milan Skriniar, bukanlah bek dengan kecepatan lari yang fantastis.

Para pemain yang memiliki keterampilan individu ciamik serta dibekali kecepatan bisa membuat pertahanan Inter amburadul.

Masalah itu jadi kian pelik karena Samir Handanovic di bawah mistar kerap memamerkan aksi yang tak memuaskan.

Sementara di area tengah, baru Nicolo Barella dan Marcelo Brozovic saja yang penampilannya konsisten serta dapat diandalkan pada fase menyerang dan bertahan.

BACA JUGA:  Menyelesaikan Isu Pengaturan Skor sebagai Upaya Mencerdaskan Suporter

Sedangkan Hakan Calhanoglu, Roberto Gagliardini, Matias Vecino maupun Arturo Vidal, masih dibongkar pasang karena deraan inkonsistensi.

Bergeser ke pos wingback, dua dari Matteo Darmian, Federico Dimarco, Dumfries, dan Ivan Perisic juga terus dirotasi setiap laga. Kadang hasilnya ciamik, kadang sebaliknya.

Pasalnya, nama-nama di atas masih naik turun performanya. Mereka dapat bermain apik di satu laga, lalu jeblok di laga selanjutnya. Khususnya Darmian, Dimarco, dan Dumfries.

Nama terakhir bahkan terus dikritik sebab aksinya saat menyerang plus bertahan kerap memble.

Di area depan, Dzeko maupun Lautaro Martinez yang selalu menjadi pilihan utama juga lebih sering diinstruksikan buat menjaga bentuk dalam fase bertahan ketimbang menekan pemain lawan yang membawa bola.

Alhasil, ketika lawan menyerang, para penggawa I Nerazzurri cenderung bertahan lebih dalam terlebih dahulu ketimbang berupaya merebut bola secepatnya.

Namun Inter tak bisa menghindar, perubahan-perubahan di atas adalah keniscayaan dari datangnya pelatih anyar.

Tak heran kalau skuad masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan ide Inzaghi yang saat diimplementasikan bisa berakhir apik atau malah sebaliknya.

Saat menyerang, pengecualian untuk momen contropiede alias serangan balik, Inter berubah menjadi tim yang mengerikan. Namun di fase bertahan, mereka bisa menjelma bak kesebelasan amatir.

Sampai saat ini, Handanovic dan kawan-kawan cuma dua kali mengukir cleansheet!

Keseimbangan inilah yang mesti didapat Inzaghi bila ingin timnya lebih kompetitif. Toh, kemampuan mencetak gol tinggi akan sulit menghasilkan sesuatu bila gawang sendiri gampang ditembus lawan.

Inzaghi kudu mau mengubah apa yang tidak pas dengan timnya, alih-alih mempertahankan filosofi yang berpotensi menjadi senjata makan tuan.

Hal itulah yang menjadi batas antara pelatih kelas menengah seperti anggapan banyak orang terhadap Inzaghi saat ini dengan para pelatih kelas atas dunia.

Komentar