Kesempatan Kedua bagi Eden Hazard

Ketika seorang pemain baru datang ke klub, para fans pasti berharap sang pemain bisa tampil impresif. Apalagi jika dirinya berlabel bintang dan datang dengan harga selangit. Namun tak jarang, banyak pemain bintang yang direkrut dengan banderol mahal justru melempem di klub barunya. Eden Hazard merupakan salah satu di antaranya.

Hazard didatangkan Real Madrid di awal musim 2019/2020 dari Chelsea dengan banderol 100 juta Euro. Harapan kubu Los Merengues jelas, pemain berpaspor Belgia ini mampu menggantikan Cristiano Ronaldo yang hijrah ke Juventus di musim sebelumnya. Terlebih, rapor Hazard selama memperkuat The Blues sungguh aduhai.

Hazard datang dengan label sebagai salah satu pemain terbaik Chelsea sepanjang masa. Total, Hazard merumput selama tujuh musim di Stadion Stamford Bridge dan bermain di 352 pertandingan serta mencetak 110 gol.

Ia pun mengantar The Blues memenangkan enam gelar yakni dua trofi Liga Primer Inggris, sepasang gelar Liga Europa, dan masing-masing sebiji Piala FA dan Piala Liga.

Akan tetapi, ekspektasi tak melulu selaras dengan realita. Begitu pula dengan nasib Hazard di musim pertamanya berseragam putih khas Madrid.

Alih-alih tampil gemilang, ia malah jadi pesakitan. Ketimbang beraksi di atas lapangan, Hazard lebih banyak berada di ruang perawatan. Entah diakibatkan masalah berat badan atau cedera yang tak kunjung sembuh.

Di awal kedatangannya ke Stadion Santiago Bernabeu, Hazard memang punya masalah berat badan. Bobot tubuhnya melebihi batas ideal sehingga Zinedine Zidane menginstruksikan kepada tim pelatih fisik Los Merengues buat menggembleng Hazard dengan latihan keras serta diet ketat. Keadaan ini pula yang disinyalir sejumlah pihak sebagai alasan melempemnya lelaki berpostur 175 sentimeter tersebut.

“Itu benar (kegemukan). Saya tidak akan menyembunyikannya. Berat badan saya bertambah 11 kilogram pada musim panas ini (selama liburan). Saya adalah salah satu dari mereka yang berat badannya bisa naik dengan cepat, tetapi dapat menurunkannya dengan cepat pula,” kata Hazard seperti dikutip dari Liputan6.com.

Sejatinya, problem seperti ini tidak pertama kali terjadi. Saat membela Chelsea, hal serupa juga berulangkali dialaminya. Namun berkat latihan intens dan diet ketat yang diinstruksikan kepadanya, bobot tubuh Hazard lekas kembali ke titik ideal.

BACA JUGA:  Mari Meniru Jejak Portugal, Garuda!

Selain urusan berat badan, masalah lain yang dialami Hazard semenjak bergabung ke Los Merengues adalah cedera. Berdasarkan data Transfermarkt, dirinya dihantam berbagai cedera, mulai dari hamstring, pergelangan kaki, retak tulang kaki, sampai kejang otot.

Selama bermukim di London Barat, ia cuma absen di 20 pertandingan gara-gara cedera. Jika dibandingkan dengan kiprahnya bersama Madrid, tentu kita akan melihat statistik yang cukup jomplang sebab di musim pertamanya di ibu kota Spanyol, Hazard sudah absen di 35 partai!

Kendati begitu, masalah badai cedera di skuad Madrid sebenarnya bukan hanya dialami oleh Hazard. Jika diperhatikan lebih detail, problem ini memang sangat terasa di periode kedua Zidane membesut Los Merengues.

Selain dipengaruhi kebugaran pemain yang tak optimal, sebagai penggemar Madrid saya juga menilai bahwa perubahan staf kepelatihan Madrid, utamanya pelatih fisik, juga menjadi salah satu faktor utama mengapa para pemain begitu mudah tumbang.

Kalau kita tarik ke belakang, faktor kunci keberhasilan Zidane menjuarai Liga Champions tiga musim beruntun di periode pertamanya membesut Los Merengues adalah kebugaran para pemain yang prima.

Jarang sekali ada pemain kunci yang absen gara-gara lama berkutat dengan cedera. Padahal Zidane punya kecenderungan memainkan starting eleven yang sama dari satu laga ke laga berikutnya.

Saat itu, Zidane dibantu oleh Antonio Pintus sebagai pelatih fisik. Pintus mampu menciptakan program latihan yang membantu para pemain Madrid tetap terjaga kebugarannya.

Kala Zidane memutuskan mundur dan digantikan Julen Lopetegui di awal musim 2018/2019, Pintus ikut mundur sampai akhirnya kembali pada saat Santiago Solari mengambil alih kursi kepelatihan.

Ketika Zidane dikontrak lagi oleh pihak manajemen, Pintus sempat bekerja sama dengannya sampai akhir musim. Namun konon, friksi terjadi di antara Zidane dan Pintus sehingga nama terakhir angkat kaki dari Madrid pada awal musim 2019/2020 dan bergabung ke Internazionale Milano guna menjadi salah satu staf kepelatihan Antonio Conte.

BACA JUGA:  Resureksi Alvaro Morata

Di luar itu semua, salah satu alasan Hazard gagal memenuhi ekspektasi adalah gaya main Madrid yang jauh berbeda dengan Chelsea. Ketika berseragam biru, Hazard yang menempati pos winger kiri mendapat kebebasan lebih saat beraksi. Dirinya pun memiliki Olivier Giroud dan Willian sebagai tandem di lini depan. Ketiganya, acap melakukan permutasi posisi buat mengacak-acak lini belakang lawan.

Meski di Madrid ia juga sering diturunkan sebagai winger kiri, tetapi permutasi posisinya dengan Karim Benzema yang gemar bergerak melebar ke wilayah di mana Hazard bermain di lini depan belum berlangsung mulus.

Ruang kosong yang ditinggalkan Benzema jadi benar-benar kosong sebab Hazard kadang tak mengisinya dan tetap beroperasi di sayap kiri sehingga terjadi penumpukan pemain. Hal ini membuat serangan Madrid buntu karena tak ada opsi umpan maupun eksekutor di tengah.

Pada awal musim 2020/2021, Hazard seperti mengulang apa yang terjadi di musim lalu. Ia kembali bermasalah dengan berat badan dan didera cedera sehingga harus absen sebanyak 8 pertandingan.

Namun kabar baiknya, Hazard sudah bisa merumput ketika Los Merengues berjumpa Borussia Monchengladbach pertengahan pekan lalu (27/10) dan membantu tim mengakhiri laga dengan skor 2-2 usai tertinggal 2-0 terlebih dahulu.

Manakala Madrid bersua Huesca dalam lanjutan La Liga Spanyol akhir pekan kemarin (31/10), Zidane menurunkan Hazard sedari sepak mula. Hasilnya pun manis karena lelaki kelahiran La Louviere tersebut sukses membuka rekening golnya lewat sepakan cantik dari luar kotak penalti. Madrid sendiri memenangkan laga itu dengan skor 4-1.

Bila di musim lalu Hazard cuma merumput 26 kali dengan seragam Los Merengues, dengan kondisi fisik lebih baik serta kepercayaan diri yang meningkat, ia bisa menjadi tulang punggung tim buat mengarungi musim ini dan kembali memanen trofi.

Ya, di musim kedua, sang bintang layak beroleh kesempatan kedua untuk membuktikan kapasitasnya di Stadion Santiago Bernabeu, kandang dari kebelasan paling top di muka Bumi.

Komentar
Seorang penggemar Real Madrid yang sedang menjalani masa kuliah di Universitas Negeri Surabaya. Dapat dihubungi di akun Twitter @RijalF19.