Rahasia Metode Latihan Gila Pelatih Asal Italia

Antonio Conte
Pelatih asal Italia, Antonio Conte. (skysports.com)

Kata maksimal untuk pelatih asal Italia yang bekerja untuk Tottenham Hotspur, Antonio Conte, benar-benar diejawantahkan dengan menekan batas stamina para pemainnya melalui metode latihan gila!

Baru-baru ini, para pemain Spurs tertangkap kamera sedang terkapar usai digembleng Conte habis-habisan saat klub berjuluk The Lily White itu melakoni sesi pramusim di Korea Selatan.

Sehari pasca kedatangan di negara Son Heung-min pada 10 Juli 2022, Conte langsung menjalankan dua sesi latihan di pagi dan sore hari untuk menempa kekuatan fisik pemain plus disertai dengan sesi pemahaman taktis.

Disaksikan 6.000 fans di World Cup Stadium, para pemain terlihat kewalahan, tak terkecuali dua penggawa andalan mereka, Harry Kane dan Son Heung-min. Metode Conte dalam melatih memang terkenal gila dan kejam sedari dulu baik saat masih di Juventus.

Chelsea, maupun Inter Milan. Testimoni dari para anak asuhnya cukup bisa menggambarkan suasana sesi latihan yang dipimpin pelatih berkebangsaan Italia tersebut.

Sebelumnya, pemandangan serupa juga terlihat di sesi latihan Valencia. Dalam tayangan video yang beredar di media sosial, beberapa pemain yang terlihat sudah kelelahan ditempa oleh pelatih anyar mereka, Gennaro Gattuso untuk tetap melanjutkan latihan.

Jika ditarik persamaannya, pelatih asal Italia memang terkenal dengan karakter yang keras dan disiplin tinggi. Tak hanya dalam urusan taktik atau filosofi sepakbola, tapi juga seringkali diterapkan untuk meningkatkan kebugaran dan fisik sang pemain.

Nama-nama seperti Fabio Capello, Roberto Mancini, Massimiliano Allegri, hingga Claudio Ranieri juga terkenal memiliki watak serupa.

Kerasnya metode para pelatih asal Italia itu mungkin berakar dari kultur sepakbola Italia yang menganggap bahwa hasil adalah segalanya. Dalam bukunya berjudul The Italian Job, Gianluca Vialli membuat analogi menarik tentang perbandingan sepakbola Inggris dan Italia.

BACA JUGA:  Tangan Dingin Roberto Mancini

Vialli membuat komparasi antara petinju A dan petinju B yang bertarung di atas ring. Jika petinju A menyerang agresif, petinju B lebih memilih menjadi orang yang berdiri paling akhir di atas ring.

Petinju B akan terus-terusan menahan gempuran sambil menunggu lawan lengah hingga punya kesempatan untuk menaklukkan musuh dengan hook yang mematikan. Petinju B adalah Italia yang menganggap pertarungan adalah ajang hidup mati sehingga bertahan hidup adalah segalanya.

Nilai dari budaya itu yang bisa jadi mengilhami pemikiran para allenatore yang dikenal keras dan kejam. Barangkali, Conte, Gattuso, dan pelatih Italia lainnya membayangkan lapangan hijau sebagai Colosseum, tempat para gladiator rela berdarah-darah untuk bertahan hidup dan menang.

Komentar