Zlatan Ibrahimovic: Pembuka Jalan Bagi AC Milan

Zlatan Ibrahimovic: Pembuka Jalan Bagi AC Milan

Zlatan Ibrahimovic memang bukan pemain biasa. Meski sudah berusia 38 tahun, tapi jiwa kompetitif dan mental pemenang yang ada pada dirinya tak mengenal kata tua. Ditambah lagi kondisi fisik Zlatan yang tetap prima lantaran kukuh menerapkan pola hidup disiplin membuatnya masih bisa diandalkan. Pendek kata, kedatangan lelaki jangkung itu dapat memberi bantuan besar bagi klub mana pun yang memilikinya.

Tidak hanya itu, Zlatan yang punya segudang prestasi, dipercaya sanggup membuka jalan bagi tim-tim yang sedang terpuruk untuk mengubah peruntungannya.

Kesempatan inilah yang kemudian ditangkap AC Milan usai meresmikan Zlatan sebagai rekrutan anyar mereka di bursa transfer musim dingin 2019/2020. Kedatangannya pun disambut riuh oleh Milanisti yang semakin muak dengan performa semenjana tim kesayangannya.

Kepulangan Zlatan ke Stadion San Siro telah dikonfirmasi oleh klub melalui situsweb resmi www.acmilan.com maupun media sosial resmi I Rossoneri. Kendati begitu, sebagian besar Milanisti juga menyadari bahwa kedatangan lelaki Swedia itu takkan cukup untuk langsung membangkitkan Milan dari periode suram.

Di ujung kariernya sebagai pesepakbola, pria kelahiran kota Malmo ini baru saja menyelesaikan kontraknya dengan klub Los Angeles Galaxy. Bareng klub yang pernah diperkuat oleh David Beckham tersebut, Zlatan menorehkan 52 gol hanya dari 56 pertandingan. Performanya dinilai fantastis, sayangnya pencapaian hebat itu tak berujung pada gelar juara Major League Soccer (MLS).

Alih-alih gantung sepatu setelah meninggalkan Galaxy, Zlatan malah memilih jalan, yang sebagian orang bilang lebih berat, yaitu kembali ke kompetisi Serie A bersama Milan.

Bukan tanpa alasan Zvonimir Boban dan Paolo Maldini bekerja keras demi mengamankan jasa Zlatan. Kabarnya, ia menerima pinangan Milan dengan mahar gaji 3 juta euro sampai akhir musim dengan opsi perpanjangan kontrak semusim dengan nilai 4,5 juta euro.

Kabar lain menyatakan bahwa jumlah ini bisa meningkat hingga 6 juta euro apabila Zlatan berhasil memenuhi beberapa target, baik pencapaian secara individual maupun kolektif bersama klub.

“Saya kembali ke klub yang saya sangat hargai, ke kota yang saya cintai. Saya akan bertarung bersama rekan satu tim untuk membalikkan peruntungan kami musim ini. Saya akan berusaha keras mewujudkannya,” ujarnya mantap dalam wawancara pertamanya sebagai pemain baru I Rossoneri.

Tidak sedikit yang meragukan bahwa kembalinya Zlatan akan mengangkat performa Milan secara otomatis karena sebelum ini, ia ‘hanya’ bermain di MLS yang atmosfernya tak seketat Serie A.

Sehebat apapun kemampuan Zlatan, ia juga membutuhkan pemain-pemain lain yang memiliki kapabilitas untuk menjadi pendukungnya. Mungkinkah Andrea Conti, Gianluigi Donnarumma, Krzysztof Piatek, Alessio Romagnoli dan Suso cukup untuk menjadi pendukung Zlatan?

BACA JUGA:  Aurelio De Laurentiis dan Proyek Renaisans Napoli

Pengaruh di Ruang Ganti dan Lapangan

Zlatan adalah sosok yang membenci kekalahan. Dalam latih tanding saja ia ogah kalah, apalagi dalam pertandingan resmi. Pemilik sabuk hitam taekwondo ini tidak segan untuk menghardik, mengamuk, atau mencengkeram kaus rekan setimnya lalu memojokkannya ke dinding jika ia melihat rekannya tersebut tidak menunjukkan keseriusan ketika berlatih atau bertanding.

Penyerang gaek ini juga tak segan-segan mengomeli rekan yang gagal memberi umpan yang baik kepadanya. Untuk yang satu ini, Hakan Calhanoglu dan Suso patut waspada.

Aspek ini pula yang akan menghadirkan pemimpin di lapangan. Zlatan adalah sosok yang mampu mengarahkan rekan-rekannya untuk keluar dari kesulitan. Walau ia bukan kapten kesebelasan, tapi ia dapat ditahbiskan sebagai pemimpin sesungguhnya dari skuat muda I Rossoneri di atas lapangan. Toh, sosok pemimpin tidak selalu berbalut ban kapten, bukan?

Tanpa bermaksud meragukan kapabilitas Romagnoli yang kini menyandang ban kapten, tapi kedatangan Zlatan yang lebih berpengalaman berpotensi membantu sang bek tengah.

Persona Zlatan sendiri dapat menimbulkan rasa takut bagi lawan-lawan yang akan dihadapi, dan hal ini bisa membangkitkan kepercayaan diri bagi rekan-rekannya. Jika percaya diri sudah muncul, maka kemampuan terbaik berpeluang keluar dengan sendirinya, dan cepat atau lambat, hasil akhir dari pertandingan yang dijalani Milan pun bisa terpengaruh.

Meringankan Beban Leao dan Piatek

Kedatangan suami dari Helena Seger ini juga bisa berarti kabar baik bagi Rafael Leao dan Piatek, dua penyerang Milan yang tengah dalam sorotan karena turut berkontribusi atas sulitnya I Rossoneri melesakkan gol. Dari 17 pertandingan, Piatek dan kolega hanya mampu mengemas 16 gol.

Khusus bagi Piatek, datangnya Zlatan bisa membuat posisinya terancam. Andai Stefano Pioli menggunakan formasi 4-3-3, Piatek bakal menjadi cadangan sang striker anyar di posisi penyerang tengah, dan kondisi ini bisa mendorongnya ke pintu keluar Milan.

Akan tetapi, bila Pioli mencoba formasi 4-4-2, Zlatan dapat diduetkan bersama Piatek meski ini cukup riskan. Sebaliknya, Leao yang permainannya lebih fleksibel dan pandai membuka ruang dinilai cocok untuk jadi pendamping Zlatan.

Namun di atas itu semua, kedatangan Zlatan dapat mengalihkan beban besar yang semula menggelayut di pundak Piatek dan Leao. Media maupun fans pasti berharap eks penggawa Juventus dan Internazionale Milano itu dapat menjadi mesin gol Milan sekaligus pembuka ruang dan pemberi asis.

Jika Leao atau Piatek gagal mencetak gol, tentu mereka akan lebih dimaklumi, tapi dengan syarat mereka harus menjadi pendukung yang baik untuk Zlatan. Persis seperti yang diperlihatkan oleh Alexandre Pato maupun Robinho sedekade silam.

BACA JUGA:  Mauro Icardi dan Perlunya Internazionale Milano Berproses Membentuk Tim yang Solid

Ketika banyak orang yang mengkritik bahwa Zlatan ada figur egois, mereka mungkin lupa bahwa ia telah mengukir lebih dari 140 asis sepanjang karier sepakbolanya. Bahkan, jumlah ini belum termasuk kontribusi tidak langsung ketika flick akrobat, sundulan, atau sentuhan-sentuhan yang ia lakukan dengan sederhana tapi presisi, mampu membuka pertahanan lawan dan memberi jalan bagi rekan-rekannya untuk mencetak gol.

Milanisti tentu ingat betul bahwa kehadiran Zlatan pada tahun 2010 hingga 2012 lalu berhasil menjadikan sosok layaknya Antonio Nocerino dan Kevin-Prince Boateng sebagai gelandang-gelandang yang produktif mencetak gol. Kali ini, amat mungkin bahwa gaya permainan Zlatan dapat membantu kinerja Calhanoglu, Lucas Paqueta atau bahkan Giacomo Bonaventura.

Zlatan Sebagai Pembuka Jalan

Kedatangan Zlatan tak sekadar mengatrol Milan dari sisi mentalitas dan teknis. Namun lebih dari itu, dirinya dapat menjadi penarik hal-hal positif lain bagi Milan, terutama dari sisi prestise dan finansial.

Kaus replika dengan nama Zlatan akan cepat terjual habis. Selain itu, kedatangannya pun dipercaya bisa meningkatkan animo Milanisti buat hadir secara langusng di Stadion San Siro.

Jumlah rataan penonton yang bertambah jelas menyenangkan pihak klub. Bila I Rossoneri bisa membenahi performanya, kondisi finansial Milan pasti ikut terkatrol.

Pemilik tendangan keras dan giringan ajaib ini tak dapat mengangkat Milan sendirian. Guna memperkuat tim, kabarnya pihak manajemen telah menjajaki berbagai kemungkinan. Namun syaratnya tidak ringan karena dengan kondisi finansial yang tengah dalam pantauan intensif dari Club Financial Control Body (CFCB – badan pengawas Financial Fair Play), Elliott Management selaku pemilik Milan memberi syarat untuk kegiatan transfer zero balance alias jika ada yang dibeli dengan harga tertentu, maka harus ada yang dijual dengan harga yang sama.

Kalau ingin mendatangkan nama-nama semisal Julian Draxler, Wesley Fofana, Nemanja Matic, dan Jean-Clair Todibo, maka Milan wajib menjual penggawa mereka semisal Fabio Borini, Franck Kessie, dan Ricardo Rodriguez terlebih dahulu. Bahkan mereka yang semula berstatus “aman” seperti Calhanoglu, Paqueta, Piatek, dan Suso juga tetap berpeluang dibuang.

Teorinya, kedatangan Zlatan semestinya memudahkan proses negosiasi Milan dengan pemain-pemain incaran guna memperbaiki performa. Zlatan adalah pemain top yang memberi garansi kompetitifnya sebuah kesebelasan. Karena itulah pemain-pemain top lain akan lebih mudah untuk didatangkan, mengingat mereka berkesempatan untuk satu tim dengan Zlatan.

Sekali lagi, kedatangan Zlatan belum menyelesaikan masalah-masalah yang menjangkiti tubuh Milan. Namun kalau I Rossoneri sedang mencari sosok pembuka jalan untuk keluar dari segudang problem itu, maka mereka telah menemukan orang yang tepat. Sekarang, semuanya kembali kepada mereka sendiri.

 

Komentar
@aditchenko, penggemar sepak bola dan penggiat kanal Casa Milan Podcast