Konsistensi AS Roma di Tangan Paulo Fonseca

Belakangan ini, penggemar sepakbola Italia banyak membicarakan tentang lesatan AC Milan serta inkonsistensi performa Inter Milan dan Juventus. Sayangnya, banyak dari mereka yang luput memperhatikan penampilan AS Roma.

Menengok papan klasemen, Roma memang pantas diperhatikan. Sampai tulisan ini dibuat, I Giallorossi duduk manis di peringkat tiga klasemen sementara dengan koleksi 33 poin, berselisih tiga dan empat poin dari Inter serta Milan yang menempati dua besar.

Perubahan yang Dihadirkan Paulo Fonseca

Demi kemajuan, perubahan selalu membutuhkan penebusan. Dalam hal apapun, kerelaan dan penerimaan merupakan kunci adanya perubahan. Namun jika perubahan tersebut dilakukan sebagai kebiasaan, perlahan ia akan menjadi sebuah sistem tersendiri.

Dalam sepakbola, sistem adalah kunci. Sistem dapat menjadi jalan pembuka bagi sebuah kemenangan. Namun jika sistem tersebut statis, ia bisa mematikan permainan sebuah tim dan hasilnya berujung pada sebuah kekalahan.

Musim lalu, Roma mengalami perubahan sistem permainan di tangan Paulo Fonseca. Juru taktik asal Portugal ini adalah figur eksperimental. Fonseca juga punya karakter manajerial yang inovatif dan selalu lapar akan kemenangan. Maka, perubahan adalah bagian dari sistem sepakbolanya.

Dalam meramu taktik anak asuhnya, Fonseca kerapkali mengubah formasi di tengah pertandingan. Ia jarang menggunakan satu pakem formasi secara konsisten.

Dari pertandingan ke pertandingan formasinya sulit ditebak oleh lawan-lawannya. Tak heran jika Fonseca kini menjadi salah satu pelatih yang diwaspadai oleh para kompetitor di Serie A.

Sebagai contoh, pada musim lalu, saat Roma berhadapan dengan Atalanta, I Giallorossi menggunakan tiga formasi sekaligus dalam pertandingan tersebut.

Manakala pertandingan dimulai Fonseca menggunakan formasi 4-2-3-1. Setelah 15 menit berselang, Fonseca mengubah formasinya menjadi 5-3-2. Di babak kedua, ia kembali mengacak formasinya menjadi 4-4-2.

Akan tetapi, perubahan yang dilakukan Fonseca memang bagian dari sifat adaptif dan proaktif yang dimilikinya. Fonseca tidak punya formasi khusus yang mengejawantahkan idealisme sepakbolanya.

Formasi tim asuhannya bisa berubah seiring kebutuhan yang ditemui dalam suatu pertandingan. Itulah yang menyebabkan ia bisa berganti tiga formasi sekaligus kala melakoni sebuah laga.

BACA JUGA:  Bayern Munchen: Kanibal Bundesliga yang Selalu Lapar

Idealisme sepakbola Fonseca sendiri memang sukar diraba. Ia lebih mengutamakan keseimbangan permainan daripada karakter dan gaya.

Bagi Fonseca, membangun pertahanan yang kuat adalah kerja mendasar sebuah tim. Dari pertahanan yang kuat itulah, tim akan lebih nyaman dalam menyerang. Dengan asumsi dasar itu, keseimbangan permainan berjalan.

Dalam membangun pertahanan, tim asuhan Fonseca biasa menutup area tengah dengan bermain rapat. Kepadatan anak asuhnya dalam menutup area tengah dilakukan dengan garis pertahanan tinggi. Namun ia pun tak ragu untuk menurunkan garis pertahanan tergantung pada siapa lawan yang dihadapinya.

Untuk membongkar pertahanan lawan, Fonseca juga memanfaatkan ruang yang tersedia di lapangan. Garis pertahanan tinggi dan kepadatan lini tengah yang diterapkannya mendorong Jordan Veretout dan kolega mampu membangun serangan secara cepat ketika berhasil merebut bola dari lawan. Melalui skema seperti itulah Roma kerap merebut kemenangan dari lawannya.

Permainan I Giallorossi di bawah asuhan Fonseca kini juga dihiasi oleh variasi umpan pendek-panjang. Saat umpan bola pendek digulirkan dari satu pemain ke pemain lainnya, aliran bola berjalan dengan cepat. Sementara, tatkala bola panjang dilepaskan, garis pertahanan bersiap untuk mengantisipasi kemungkinan jika bola lepas dari kontrol.

Sebagai bekal mengarungi kompetisi domestik dan Eropa, pendekatan taktik Fonseca sudah cukup dalam. Hal itu ditopang dengan kedalaman skuad yang cukup prima.

Fonseca membawa kedalaman taktik yang dibutuhkan untuk menjalani musim yang panjang dan melelahkan. Variasi dan perubahan yang dilakukannya adalah modal besar bagi pencapaian yang lebih tinggi.

Akan tetapi, tantangan besar Fonseca masih sama seperti musim lalu. Ia punya pekerjaan rumah buat meningkatkan kemampuan adaptasi para pemainnya.

Mengingat dinamisnya taktik garapan Fonseca, maka seluruh penggawa I Giallorossi dituntut untuk piawai menerjemahkan kemauan sang pelatih secara paripurna.

Menjalani Musim Baru

Musim ini, gerombolan serigala Roma telah menyimpan optimisme baru guna mengarungi perjalanan mereka. Formasi 3-4-2-1 yang mereka gunakan belakangan ini sedang berada di tahap pematangan.

Pada musim lalu, sebenarnya formasi ini sudah digunakan pada pekan-pekan terakhir liga. Namun, intensitas penggunaannya baru digeber lebih jauh pada musim ini.

BACA JUGA:  Atalanta: Dewi Cantik yang Membuat Kita Jatuh Cinta

Tanda-tanda kematangan formasi ini sudah mulai tampak dengan bercokolnya Veretout dan kawan-kawan di tiga besar. Romanisti sendiri merasa bahwa permainan tim kesayangannya lebih meyakinkan ketimbang musim lalu.

Sekarang, Roma lebih berani dalam melakukan pressing. Mereka juga tahu cara terbaik buat mematikan kreativitas lawan. Alhasil, anak asuh Fonseca memiliki peluang lebih tinggi untuk membangun serangan kilat dan menuntaskannya dengan membobol gawang lawan.

Sedikit banyak, pola permainan seperti ini nyaris mirip seperti yang biasa diperagakan Atalanta besutan Gian Piero Gasperini.

Bermodal fondasi tiga bek yang sanggup mengalirkan bola sekaligus menjadi tembok tebal, dua wingback penuh energi yang rajin naik dan turun menyisir lapangan, diseimbangkan dua gelandang dan berujung pada trisula yang tajam sebagai pangkal serangan, Fonseca membangun sepakbolanya sendiri di ibu kota.

Kedatangan striker multifungsi, Pedro Rodriguez, yang punya kepekaan tinggi terhadap ruang sangat bermanfaat bagi variasi serangan I Giallorossi yang bertumpu pada Edin Dzeko atau Borja Mayoral.

Sementara Gianluca Mancini, Chris Smalling plus Marash Kumbulla juga kian padu membentengi sektor pertahanan. Bergeser ke tengah, Veretout menjadi dinamo permainan yang tak tergantikan bersama Henrikh Mkhitaryan dan Gonzalo Villar.

Komposisi di atas menghasilkan lima kemenangan dari enam partai pamungkas yang dijalani Roma. Dari sebuah tim yang diramal cuma ikut meramaikan perebutan tiket lolos ke kejuaraan antarklub Eropa, kini mereka dinilai mampu jadi penantang juara.

Lebih jauh, dengan bagusnya performa I Giallorossi sejauh ini, isu-isu pemecatan Fonseca yang masih sering berhembus sudah sepantasnya dilenyapkan. Fonseca bukan pesulap yang dapat mengubah sesuatu secepat kedipan mata. Ia butuh proses cukup panjang agar perubahan yang ia bawa menampakkan hasil.

Kini Romanisti akan menunggu dengan setia konsistensi tim kesayangannya. Bila tak mudah tergelincir, rasa-rasanya Roma bisa jadi ancaman tersendiri bagi duo Milan atau Juventus yang difavoritkan sebagai kampiun pada akhir musim.

Komentar
Jurnalis sekaligus penggemar Serie A yang tinggal di Solo. Dapat disapa dan diajak berdiskusi via akun Twitter @taufiknandito