Lebaran dan Kenangan yang Tak Pernah Padam

Ramadan berangsur-angsur pergi. Idul Fitri kembali datang menyapa. Hari raya umat Islam dirayakan dengan gegap gempita di Indonesia. Negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia.

Di Indonesia, menyambut lebaran disertai dengan arus mudik besar-besaran. Orang-orang yang merantau di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, dan lainnya kembali ke kampung halaman. Menyapa orang tua, sanak saudara, dan kawan lama.

Bandara, stasiun, pelabuhan maupun terminal dipenuhi orang yang hendak mudik. Jalanan padat. Kemacetan di mana-mana. Meski melelahkan, kesempatan mudik membuat hati tetap tenang dan senang. Akhirnya ada jeda sebentar dari hiruk-pikuk pekerjaan dan kembali bisa berkumpul dengan orang dekat untuk bercerita tentang yang sekarang dan yang lalu.

Lebaran di Indonesia memang dekat dengan kenangan. Ingatan akan masa lalu coba digali kembali. Pertemuan dengan orang tua, sanak saudara maupun teman lama jadi menu utama. Oleh karenanya, halal bi halal keluarga dan reuni teman sekolah biasanya dihadirkan pada waktu-waktu ini.

Bertemu dengan orang yang pada masa lalu membersamai kita tumbuh memberikan kesempatan bagi kita untuk introspeksi. Sudah sejauh mana kita melangkah. Menertawakan apa yang telah kita lakukan pada masa lalu. Dan segenap kenangan yang tak pernah padam.

Di belahan bumi yang lain, tepatnya di Eropa. Legenda sepak bola mulai meninggalkan klub yang lama dibela. Steven Gerrard memutuskan untuk bermain di Amerika Serikat. Xavi Hernandez juga sudah memastikan meninggalkan Barcelona. Bastian Schweinsteiger memilih pindah ke Manchester United. Dan tentu, yang paling menyita perhatian adalah Iker Casillas.

Proses perpindahan Casillas dan bagaimana manajemen Real Madrid memperlakukannya atas apa yang telah dia berikan pada klub sungguh sangat menyedihkan. Dia seperti tak menginkan itu semua. Seperti ada orang lain yang memaksanya pergi ke Portugal.

BACA JUGA:  Melihat Kehebatan De Toekomst

Sementara itu di Argentina. Di stadion La Bombonera, kandang Boca Juniors, Carlos Tevez disambut hangat oleh puluhan ribu orang. Diego Maradona pun ikut hadir dalam menyambut sang bintang yang telah lama melanglang buana. Tevez menjalani masa yang amat baik di Juventus. Tapi baginya, waktunya di Eropa telah habis. Sudah saatnya dia pulang.

Melihat guratan bahagia yang terpancar di wajahnya, Tevez tampak menikmati kepulangannya. Dia disambut hangat dengan tangan terbuka oleh orang yang mengenalnya sejak lama. Oleh mereka yang memberi dukungan sejak dia belum jadi siapa-siapa.

Pergi dari rumah bukan sesuatu yang harus disesali. Dengan pergi kita tahu arti pulang. Dengan pergi pula kita diharap pulang oleh mereka yang kita tinggalkan. Ketika Casillas benar-benar pergi, mungkin orang di Real Madrid baru tahu artinya sang kapten bagi mereka. Lantas berharap sesegera mungkin dirinya kembali berkumpul dengan mereka di Santiago Bernabeau.

Pada akhirnya, sejauh mana kita pergi, kita akan tetap kembali pulang untuk menjemput kenangan. Tetap akan ada orang yang menyambut kita dengan hangat.

Selamat Idul Fitri 1436H. Mohon maaf lahir batin untuk kesalahan dari kami selama ini. Terima kasih telah menjadi penikmat sajian kami. Selamat mudik dan berkumpul dengan keluarga. Semoga kita dipertemukan dengan Ramadan dan lebaran tahun depan.

 

Komentar
Akrab dengan dunia penulisan, penelitian, serta kajian populer. Pribadi yang tertarik untuk belajar berbagai hal baru ini juga menikmati segala seluk beluk sepak bola baik di tingkat lokal maupun internasional.