Lompatan Besar Bournemouth

125 tahun sudah klub sepak bola AFC Bournemouth berdiri dan selama satu seperempat abad tersebut, boleh dibilang tidak ada satupun prestasi membanggakan yang mampu diraih klub ini. Barangkali, dalam kurun waktu yang tak singkat tersebut, satu-satunya prestasi membanggakan mereka adalah ketika mereka mampu mengalahkan Manchester United 2-0 dalam laga Piala FA musim 1983/84. Atas keberhasilan tersebut, manajer Bournemouth kala itu, Harry Redknapp, berkata, “Ini adalah hari terhebat dalam hidupku, dan aku yakin, ini juga merupakan hari terhebat dalam hidup para pemainku.”

Tiga dasawarsa berselang, Bournemouth kembali berpotensi untuk mencatat sejarah. Bedanya adalah, kali ini, prestasi yang akan mereka catat sama sekali tak mengandung unsur kejutan. Well, awalnya mungkin terlihat begitu, tetapi setelah musim 2014/15 kian mendekati akhir, tak ada lagi orang yang berani mengatakan bahwa musim ini adalah musim kejutan bagi klub berjuluk The Cherries. Saat tulisan ini dibuat, Bournemouth sedang duduk di peringkat kedua klasemen Divisi Championship, tertinggal satu poin dari pemuncak klasemen, Middlesbrough.

Posisi Bournemouth memang sama sekali belum aman mengingat di bawah mereka ada Norwich City dan Watford yang hanya berselisih satu poin. Meski begitu, satu hal yang menonjol dari pencapaian Bournemouth musim ini adalah selisih gol mereka yang jauh lebih baik dibanding para pesaing mereka. Dengan selisih gol +42, mereka unggul cukup jauh dari Middlesbrough (+30), Norwich City (+34), dan Watford (+32). Selain itu, Bournemouth juga punya keunggulan tersendiri dari segi jadwal pertandingan tersisa. Dari enam laga yang masih harus mereka lakoni, tim dengan peringkat terbaik yang harus mereka hadapai ‘hanyalah’ Charlton Athletic yang saat ini ada di peringkat ke-11.

Cerita ini sebenarnya sudah dimulai sejak enam tahun silam ketika Bournemouth sedang berlaga di League Two (divisi empat) dan terancam degradasi ke Divisi Conference. Pada musim 2008/09 tersebut, klub yang bermarkas di Dean Court harus memulai musim dengan minus 17 poin akibat mismanajemen finansial. Ini adalah lanjutan dari apa yang mereka alami pada musim sebelumnya di mana mereka terdegradasi dari League One setelah mereka gagal membayar utang sebesar 4 juta pound dan harus mengalami pengurangan 10 poin.

BACA JUGA:  Les Poteaux Carrés: Kisah AS Saint Etienne dan Tiang Gawang

Pada pertengahan musim 2008/09, degradasi ke Divisi Conference semakin tak terhindarkan hingga akhirnya manajemen klub memutuskan untuk berpisah jalan dengan manajer Jimmy Quinn. Bournemouth pun berpaling kepada mantan jagoan mereka, Eddie Howe, yang saat itu masih berusia 31 tahun. Singkat cerita, Howe berhasil mempertahankan The Cherries di League Two pada musim tersebut dan pada musim berikutnya, Howe pun berhasil membawa klub yang didukungnya kala masih kanak-kanak kembali ke League One.

Keberhasilan tersebut membuat Howe kemudian dipinang oleh Burnley. Namun, selama dua musim di Burnley, Howe gagal menunjukkan ‘sihirnya’ seperti di Bournemouth. Iapun memutuskan untuk kembali ke klub berseragam merah-hitam untuk kedua kalinya pada musim 2012/13. Sejak itu, laju Bournemouth bersama Eddie Howe di lower division semakin tak tertahankan. Musim ini, dua gelar Manager of The Month untuk Howe adalah bukti sahih kemampuan mantan bek timnas Inggris U-21.

Harmoni Eddie Howe dan Maxim Demin

Meskipun belum teruji di level tertinggi, sudah banyak orang yang mengaggap Eddie Howe sebagai salah satu manajer muda terbaik Britania Raya. Tak sedikit pula orang yang membandingkan dirinya dengan manajer Liverpool, Brendan Rodgers. Gaya bermain yang diterapkan Howe di Bournemouth memang sangat serupa dengan apa yang diterapkan Rodgers di Liverpool, khususnya musim lalu. Tak hanya itu, Howe juga dikenal sebagai manajer yang senang menggunakan pemain-pemain muda. Bukti nyatanya adalah Callum Wilson. Penyerang timnas Inggris U-21 ini adalah pencetak gol terbanyak klub dengan raihan 16 gol.

Terlepas dari kemampuan manajerial Eddie Howe yang mumpuni, satu orang yang tak bisa dipisahkan dari trajektori fenomenal Bournemouth adalah Maxim Demin. Pria Rusia berusia 45 tahun ini adalah sosok yang menjadi penyelamat keuangan Bournemouth sejak ia memutuskan untuk membeli klub pada 2011 silam. Pengusaha petrokimia ini awalnya hanya membeli separuh kepemilikan klub dari pemilik sebelumnya, Eddie Mitchell setelah Mitchell menjadi kontraktor pembangunan mansion milik Demin di Dorset. Setelah Bournemouth berhasil naik ke Divisi Championship, barulah Demin memutuskan untuk membeli Bournemouth sepenuhnya.

BACA JUGA:  Justin Hubner: Calon Bek Tengah Kidal Indonesia dari Wolves

Keberadaan Demin membuat Bournemouth kemudian mampu untuk mendatangkan pemain-pemain dengan pengalaman Liga Primer Inggris di CV mereka. Artur Boruc (eks Southampton), Dan Gosling (eks Newcastle United), dan Kenwyne Jones (eks Stoke City) adalah nama-nama berpengalaman yang didatangkan manajemen Bournemouth untuk mendampingi skuat muda Howe. Namun, meski berstatus sebagai sugar daddy, Maxim Demin lebih memilih untuk membeli pemain-pemain yang harganya berada di kisaran 400-500 ribu pound.

Kombinasi dan harmoni kedua orang ini adalah penggerak utama laju Bournemouth dalam upaya mereka menembus puncak piramida sepak bola Inggris. Maxim Demin memang sangat berhati-hati dalam mengeluarkan uang demi menghindari terulangnya bencana finansial yang sebelumnya menimpa mereka. Sementara itu, status Eddie Howe sebagai mantan pemain sekaligus suporter tim membuat peran serta keberadaannya di klub semakin krusial saja.

Dengan ini, apakah terlalu dini untuk mengucap selamat datang kepada Bournemouth di Liga Primer Inggris? Rasanya tidak.

 

Komentar
Punya fetish pada gelandang bertahan, penggemar calcio, dan (mencoba untuk jadi) storyteller yang baik. Juga menggemari musik, film, dan makanan enak.