Malam Tak Terlupakan di Old Trafford

“Aku tidak akan pernah melupakan malam ini,” ujar Ronaldo Nazario Luiz Da Lima saat memberi komentar atas hattrick fantastisnya ke gawang Fabian Barthez di Old Trafford.

Malam itu tanggal 23 April 2003. Manchester United mengalahkan raksasa Spanyol Real Madrid 4-3 di perempat final Liga Champions. Sayang kemenangan itu tidak cukup membawa anak asuh Sir Alex Ferguson lolos ke babak selanjutnya karena di Santiago Bernabeu, United takluk 1-3.

Malam itu, United berpredikat sebagai klub terkaya sekaligus terpopuler di dunia. Klub ini dicintai tidak hanya karena kisah bak dongeng di Nou Camp 1999 masih membekas di memori kolektif para fan, tapi juga keberadaan selebriti sepakbola yang pada tahun-tahun tersebut begitu menggila popularitasnya. Ya, dia, si David Beckham.

Di sisi seberang klub terkaya kedua di dunia saat itu adalah sebuah Galacticos yang sebenar-benarnya. Mereka adalah gemerlap mobil Mercedes dengan mesin secepat Ferrari. Sebuah tim yang kuat, tangguh, cepat, bertenaga, tapi tetap elegan dan penuh gaya. Kombinasi bakat-bakat terbaik pesepak bola dari seluruh belahan bumi. Penari balet dari Prancis Zinedine Zidane, Luis Figo dari Portugal, ditopang dengan mesin bermerek Claudio Makalele, dan—ini yang penting—mereka punya penyerang dari negeri Brasil. Bukan sekadar penyerang dari Brasil, tapi penyerang terbaik yang pernah dilahirkan Brasil pada generasinya; Ronaldo.

Tak heran kemudian, headline surat kabar Inggris dihiasi foto kedua pemain. Beckham memang gagal membawa timnya melaju sampai babak berikutnya, tapi ia mencetak dua gol yang membuat United mengalahkan klub galaksi lain itu.

“Saya merayakan apa yang akan saya ingat sebagai (gol) tendangan bebas terbaik saya selama berseragam United,” kata Beckham soal salah satu golnya ke gawang Iker Casillas malam itu.

Dua gol yang istimewa, mengingat ia hadir sebagai pemain pengganti Juan Sebastian Veron. Ketiadaan Beckham sejak starting line-up adalah imbas dari tragedi perseteruan antara “pelipis Beckham” dengan “sepatu Fergie” beberapa waktu sebelumnya. Maka, ketika kemudian Beckham bermain bagus malam itu, isu kepindahannya ke Madrid, yang jadi lawannya malam itu justru semakin kencang.

Di sisi lain, Ronaldo tidak hanya mencetak hattrick, ia juga mendapatkan respek luar biasa dari para fan United seantero sudut stadion. Tepuk tangan bergemuruh sepanjang Ronaldo meninggalkan pertandingan untuk diganti, dan Ronaldo membalas tepuk tangan fan United.

Penampilannya benar-benar luar biasa; sekalipun bisa dibilang 22 pemain yang berlaga di lapangan juga bermain dengan cara yang sama-sama luar biasa, namun kredit poin lebih patut diberikan kepada Il Phenomenon. Bukan hanya karena jadi man of the match di laga ini, namun ia menghapus skeptisme bahwa skuat yang barangkali terlalu indah untuk jadi nyata oleh para gamer Football Manager di seluruh dunia seperti itu (sebelum kedatangan Ronaldo) bisa dibikin lebih gila lagi dengan kehadiran pemain yang sebelumnya bermain untuk FC Internazionale Milano tersebut.

Dan di antara penonton yang hadir di stadion, ada seseorang yang luput dari perhatian. Seorang miliader yang begitu terpukau dengan pertandingan dan semakin bulat memutuskan untuk mengakuisisi salah satu klub sepakbola Inggris setelahnya. Keputusan yang tidak hanya akan mengubah wajah sepakbola Inggris, tapi juga Eropa, bahkan dunia. Dia, Roman Abramovich. Seseorang selain Ronaldo, yang merasa bahwa itu adalah malam tak terlupakan di Old Trafford.

Jualan Citra

Pertemuan antara taipan minyak asal Rusia, Abramovich dengan Kepala Eksekutif Chelsea segera diatur beberapa bulan setelahnya. Sang Kepala Eksekutif; Trevor Birch, bahkan sampai tidak percaya sang miliader melakukan negosiasi begitu cepat tanpa ada tawar-menawar harga. “Saya benar-benar tidak yakin ini adalah hal yang nyata,” kata Birch.

Deal sebesar £140 juta disepakati tidak sampai 20 menit.  Dan dalam du bulan berikutnya, sang miliader harus menguras lagi koceknya untuk merombak skuat bru Chelsea sampai menembus angka £ 100 juta. Harga yang dibayar dengan gelar Liga Inggris dua tahun kemudian dan secara tidak langsung memicu perubahan besar-besaran peta kekuatan klub sepak bola Eropa beberapa musim berikutnya.[1]

Tidak tepat memang mengatakan bahwa Abramovich adalah pionir dalam hubungannya seorang pebisnis besar dengan sebuah klub sepakbola. Hampir lebih dari 20 tahun sebelumnya ada Silvio Berlusconi dengan AC Milan yang mungkin menggunakan cara yang lebih ekstrim daripada yang dilakukan Abramovich dengan Chelsea.

Satu hal yang pasti, langkah Abramovich ini adalah lahirnya tren bagi para miliader-miliader dunia untuk berlomba-lomba membeli atau mengakuisisi klub sepakbola. Tren ini bisa kita lihat dengan berubahnya konstelasi kekuatan finansial klub-klub seperti Manchester City, Paris Saint German (PSG), Internazionale Milano, bahkan sampai klub kecil seperti Queen Park Ranger (QPR). Motif para miliader ini tidak selalu berbanding lurus dengan pertimbangan bisnis semata. Ada aspek-aspek lain yang mengikuti. Bisa dari soal citra sampai dengan persoalan dunia politik.

Gejala semacam ini pernah digagas oleh Guy Debord, di esainya Commodity as Spectacle[2]. Debord menyasar bahwa sebuah produk (dalam hal ini sepak bola) tidaklah harus memenuhi kebutuhan dasar bagi konsumen. Sebuah produk dianggap berhasil jika konsumen merasa puas—sekalipun sejatinya tidak memiliki nilai komoditi secara riil. Katakanlah seorang suporter akan rela membayar berapapun tiket pertandingan jika dirasa pertandingan tersebut memiliki nilai untuk memuaskan hasratnya, dan ini pola yang sama saja bagi para miliader ini.

Citra yang dijual sebuah klub sepakbola memang menggiurkan. Oleh karenanya, Debord selalu menekankan pada pentingnya “spectacle” yang berarti “mempertontonkan” bagi para produsen ke konsumen. Bagaimana kemudian pertandingan United melawan Madrid di bahasan sebelumnya sejatinya merupakan bentuk dari “spectacle” yang sebenar-benarnya kepada Abramovich.

Ketika Abramovich di posisi sebagai seorang konsumen (penonton pertandingan tersebut), ia merasa puas dengan apa yang dipertontonkan. Pria Rusia ini pun merasa ingin lebih dengan menjadi pengontrol kepuasan tersebut. Ia menginginkan remote untuk mengatur sebuah kepuasan akan dirinya sendiri. Sebab Abramovich jelas tahu, bahwa tidak setiap pertandingan bisa berlangsung seseru apa yang ia tonton saat itu. Dan dengan memiliki kontrol akan sebuah pertandingan (dalam hal ini klub sepak bola) Abramovich berharap bisa terus memuaskan hasratnya.

Distingsi dan Rezim Wacana Sepakbola

Apa yang dijual oleh sepak bola atau sebuah klub sepak bola adalah nilai komoditi yang kadang-kadang sulit ditakar dengan angka-angka pasti. Di tataran lebih membumi, kita bisa ambil contoh; katakanlah seorang Juventini akan merasa lebih tinggi status sosialnya jika ia memiliki jersey Juventus yang asli. Di sisi lain ia pun merasa memiliki “hak eksklusif” untuk mencibir tifosi Juventus lain yang hanya mampu membeli jersey bajakan.

BACA JUGA:  Adnan Januzaj: Keterpurukan dan Kebangkitan yang Samar

Inilah bentuk paling dekat dari “spectacle” yang disasar Debord. Kemampuan ekonomi sang tifosi karena mampu membeli produk yang “lebih” dari orang-orang di sekitarnya, membuatnya merasa memiliki perasaan dominan.

Motif semacam ini sejatinya juga pernah digagas dengan kacamata yang sedikit berbeda oleh Pierre Bourdie dalam Distinction: A Social Critique of The Judgement of Taste. Sebuah kajian kritis yang sejatinya berangkat dari sentilan terhadap konsep estetika Immanuel Kant yang memandang bahwa “kesenian” adalah hal yang luhur, bebas nilai, dan bebas kepentingan.

Bagi Bourdie, pandangan “luhur” Kant tersebut jelas bullshit. Dalam konsep “distinction” Bourdie; setiap cipta, karsa, dan karya manusia adalah sebuah bentuk eksistensi yang meninggalkan jejak dominasi terhadap siapa pun yang menerimanya. Seorang pemilik jersey original merasa ia berbeda (distinction) dengan fan lain yang tidak mampu membeli seperti dirinya. Di sini, si pemilik jersey asli merasa lebih superior, tinggi, atau dominan. Rasa dominasi ini kemudian dilegitimasi karena adanya “truth-games”(permainan kebenaran)—meminjam bahasa Nietsche. Dan di sinilah kemudian wacana kekuasaan bermain.

Perlu diketahui, konsep kekuasaan yang dibicarakan di sini bukanlah struktur pemerintahan politis atau kelompok-kelompok sosial. Kekuasaan yang dibahas di sini bukanlah seperti raja atau seorang pemimpin fasis dengan rakyatnya. Jika kita merujuk kekuasaan dalam kacamata Michael Foucault, maka kita akan menyadari bahwa kekuasaan itu tersebar di mana-mana.[3]

Kekuasaan jenis ini ada di sekitar kita, ia berkamuflase dalam bentuk buku, televisi, majalah, koran, bahkan ilmu pengetahuan itu sendiri. Agak njlimet memang, maka saya akan mencoba menyederhanakannya. Kita bisa mengambil contoh dari federasi sepak bola dunia, FIFA, dengan jatah peserta Piala Dunia-nya.

Begini. Dalam sepak bola di tingkat kompetisi internasional, kita mengenal ada perbedaan jatah kuota untuk peserta Piala Dunia sesuai dengan zona federasi sepak bola tiap wilayah. Eropa 13 tempat, Asia 4 atau 5 tempat, Afrika 5 tempat, Amerika Utara-Tengah-Karibia dapat 3 atau 4 tempat,  Amerika Selatan 4 atau 5 tempat, dan terakhir Oseania mendapatkan jatah 1 tempat play-off.

Bagi kita yang paham akan sepakbola, kita jelas akan menilai bahwa hal ini cukup adil karena Eropa memang kiblatnya sepakbola, maka jelas mereka “harus” mendapatkan jatah paling banyak. Amerika Selatan juga begitu, karena bakat-bakat terbaik pesepak bola memang lahir dari tanah tersebut.

Alasan yang cukup masuk akal dan logis. Tapi coba renungkan kembali. Apakah “kiblat sepakbola” dan “bakat terbaik” tercipta secara natural begitu saja, atau memang merupakan bentukan kemudian dirasionalisasi sebegitu rupa agar bangsa-bangsa lain dari zona yang jatahnya sedikit tidak bisa mengeluhkannya sama sekali?

Sekarang mari kita bertanya; di mana letak keadilannya jika benua sebesar Asia dan Afrika yang memiliki lebih banyak negara peserta FIFA namun justru mendapatkan tempat yang begitu sedikit?

Kita bisa saja berdebat panjang soal ini. Namun satu hal yang ingin saya tekankan di sini adalah bagaimana kemudian “konsep kebenaran” soal sepak bola dipegang sepenuhnya oleh Eropa dan sekitarnya (saya sebut “sekitarnya” karena Amerika Selatan juga memiliki dominasi suara yang hampir sama). Artinya, dengan menggunakan perspektif Eropa, maka itu sudah cukup untuk melegitimasi sebuah “aturan” yang harus diikuti oleh negara-negara lain.

Ada banyak kasus yang bisa menggambarkan soal “rasionalisasi” yang sering dipaksakan kepada praktisi sepakbola. Dari aturan baru soal water break di Piala Dunia 2014 Brasil misalnya. Sudah jelas bahwa aturan ini adalah untuk mengakomodasi kepentingan pemain-pemain yang terbiasa bermain di iklim dingin seperti di Eropa. Atau soal isu mengenai pergantian jatah tuan rumah atau perpindahan jadwal Piala Dunia 2022 di Qatar karena soal iklim yang dianggap “tidak representatif” untuk bermain bola—hanya bagi pemain dari Eropa.

Secara sadar kita mengamini keduanya karena merasa sepakbola adalah produk Eropa. Jadi tentu segala hal akannya harus disesuaikan dengan “penciptanya”. Itulah kenapa Foucault menegaskan bahwa kekuasaan dan ilmu pengetahuan adalah kesatuan yang tak terpisahkan, sebab dengan menguasai pengetahuan, ia bisa melakukan pendekatan rasional ke pihak-pihak lain yang tidak sepakat untuk kemudian menjadi sepakat.

Maka jelas seperti gagasan Bourdie di bahasan sebelumnya; bahwa sepak bola dan kesenian itu sama saja. Keduanya tidaklah luhur, bebas nilai, dan bebas kepentingan seperti angan-angan Kant. Sepakbola yang sudah dimainkan dalam stadion besar, sponsor yang mewarnainya, beragam saluran televisi yang meliputnya, serta orang-orang berpengaruh di belakangnya sudah bukan olahraga yang sama seperti yang kita angan-angankan saat kita masih kanak dan suka-ria memainkannya di sawah atau di jalanan dulu.

Menjadi Berbeda untuk Berkuasa

Di dalam “truth-games” sesuatu yang dirasa tidak masuk dalam logika dominasi akan disebut sebagai alternatif. Ini lumrah terjadi dan terjadi di mana-mana di sekitar kita. Misalnya kita akan menyebut; “pendidikan alternatif” untuk menyebut sekolah yang dikelola oleh pesantren, atau “pengobatan alternatif” untuk menyebut tukang pijat atau ahli bekam. Dalam hal ini, ada rezim medis dan rezim pendidikan yang menganggap bahwa keduanya tidak masuk arus utama sehingga layak dilabeli dengan kata; “alternatif”.

Lucunya, di era post-modern seperti saat ini menjadi “alternatif” bukan lagi dianggap sebagai sesuatu yang rendahan atau sekadar oposisi dari sebuah kekuasaan. Dalam perspektif yang lain, menjadi alternatif justru menjadi disctinction ala Bourdie. Ya, jadi alternatif bahkan mulai dianggap seksi dan berbeda belakangan ini.

Fenomena yang terjadi di sekitar kita. Bagaimana—misalnya—menjamurnya penggemar FC St. Pauli, klub antah berantah dari Jerman, West Ham United, setelah film Green Street Hooligan populer, atau pendukung Nottingham Forrest, setelah film Damm United juga populer, membuktikan satu hal: menjadi berbeda terasa keren karena itu membuat kita merasa keluar dari kerumunan yang seragam.

Motif distingsi ini lahir karena sejak dalam alam bawah sadarnya manusia enggan untuk diseragamkan. Bahkan kalau boleh dikatakan, sejatinya setiap manusia enggan untuk diatur, dikontrol, dan dianggap sama dengan yang lain. Sebab sekalipun berada dalam kerumunan, setiap manusia ingin dianggap sebagai “sekelompok individu” daripada “kerumunan manusia”.

Inilah yang kemudian membuat trem semacam “hipster sepak bola” sempat amat populer di kalangan para pandit (football-writter) belakangan ini. Bukan apa-apa; kata “hipster” ini sejatinya merujuk pada motif distingsi yang pernah digagas  Bourdie. Ia merasa beda, lain, merasa keluar dari kerumunan sesama pandit, dan yang jelas; ia juga merasa dominan!

Dimulai dari “menjadi berbeda”, kemudian ia akan jadi dominasi baru dalam perspektif yang berbeda. Nah, itulah yang dilakukan Abramovich dengan kekuatan finansialnya kepada Chelsea. Motif “berbeda” dengan mengakuisisi klub sepak bola untuk kemudian menjadikannya dominan dalam citranya sebagai seorang pebisnis yang punya klub sepak bola.

Malam Tak Terlupakan

Di akhir musim setelah pertandingan fenomenal Mancester United melawan Real Madrid di April 2003 itu, Florentino Perez, Presiden Real Madrid, melanjutkan impiannya dalam mengumpulkan pemain-pemain terbaik muka bumi. Memanfaatkan perseteruan David Beckham dengan Sir Alex, Perez berhasil mendapatkan ikon United tersebut dengan harga “hanya” 37,5 juta Euro—harga yang dinilai banyak pengamat kelewat murah.

Menjalani karier di Madrid, Beckham memang hanya mempersembahkan satu trofi La Liga Spanyol musim 2006/2007 yang lantas juga menjadi musim terakhirnya bersama Los Blancos. Meski begitu, Beckham membuat Madrid menggeser United dalam perebutan posisi klub terkaya di dunia, lewat penjualan jersey atas namanya, merchandise, dan tentu saja reputasinya—melalui sponsor-sponsor yang hadir dalam tur dunia di laga-laga pramusim.

BACA JUGA:  Menimbang Kehadiran Eric Bailly di Manchester United

Kehadiran Beckham memang tidak memiliki perubahan signifikan di atas lapangan. Untuk apa Anda membeli seorang Beckham jika Anda sudah punya Luis Figo di posisi yang sama? Seorang pemain yang lebih baik, karena di 2001 Figo membuat Beckham hanya menempati posisi kedua sebagai pemain terbaik dunia versi FIFA (saat itu Ballon D’or dan FIFA World Player masih terpisah).

“Kenapa harus menambah lapisan emas pada mobil Bentley saat Anda kehilangan mesinnya?” ujar Zinedine Zidane setahun kemudian, menyindir langkah sang Presiden ketika “memaksakan” membeli Beckham—padahal tim sebenarnya tidak terlalu membutuhkannya—tapi malah menjual Claude Makalele.

Mesin utama Los Galacticos ini selama beberapa musim belakangan sempurna menjalankan peran holding midlefer. Peran Makalele memang tidak “wah”, tidak glamor, dan—yang pasti—mukanya tidak seganteng Beckham. Namun adalah Makalele yang rela berlumpur-lumpur mengembalikan segala serangan balik dan mengontrol lini tengah; ketika Zidane, Figo, atau Ronaldo terlalu asyik menyerang dan sedikit alpa menjaga keseimbangan.

Kadang kita akan menghargai sesuatu ketika kehilangan; dan kala Makalele “dibuang” ke Chelsea setahun setelah kedatangan Beckham, Madrid begitu menderita akannya. Beckham memang tetap bermain bagus; tapi di klub sebesar Real Madrid, bermain bagus saja tidaklah cukup. Anda perlu bermain fantastis tiap laganya. Dan ini hal yang berat bagi Beckham—terutama ketika ia tidak selalu bisa bermain di posisi idealnya sebagai pemain sayap kanan.

Di Chelsea, sebuah klub yang sedang membangun pondasi untuk menjadi—tidak hanya sebagai klub kaya, tapi juga jadi klub besar. Jose Mourinho mendapatkan “durian runtuh” kala Makalele bisa diboyong dengan begitu mudahnya ke London.

Apa yang dilakukan Florentino Perez memang tidak bisa diterima secara akal sehat, namun apakah Roman Abramovich juga melakukan hal yang lebih baik? Belum tentu. Sebelum mendapatakan Makalele, taipan Rusia ini beberapa kali flop dalam pembelian pemain; dari Damien Duff, Hernan Crespo, sampai Adrian Mutu (yang kemudian tersandung kasus narkoba). Abramovich memang mendapatkan pemain yang benar-benar cocok; Petr Cech, Didier Drogba, Arjen Robben, sampai Joe Cole, tapi itu terjadi setelah Chelsea beberapa kali melakukan pembelian yang gagal.

Yang jelas, motif antara keduanya beda. Perez, dalam kampanyenya sebagai Presiden Real Madrid sering menjanjikan hal-hal fantastis. Misalnya kampanye politik Perez pada tahun 2000, ia bertaruh bisa membajak Figo dari Barcelona, jika gagal tiket musiman para suporter Madrid selama setahun akan digratiskan. Dan janji itu, kita semua tahu, terealisasi dengan baik.

Ini fenomena yang hampir selalu terjadi ketika kampanye presiden klub di Spanyol terjadi. Dan sebagai pesaing abadi Madrid, Barcelona tidak mau kalah ketika Joan Laporta berjanji akan mendatangkan Beckham ke Nou Camp pada tahun 2003. Perez yang sejak awal ingin menciptakan klub yang menampung semua pemain kelas satu di muka bumi tentu kebakaran jenggot. Dengan sekuat tenaga, Madrid berhasil mengalahkan Barcelona dalam perburuan Beckham—Barcelona akhirnya mendapatkan pembelian yang lebih baik: Ronaldinho dari Paris Saint Germain.

Bagi Madritista, kehadiran Beckham mungkin lebih penting daripada gelar juara La Liga atau bahkan Liga Champions. Tentu saja; kita membicarakan Real Madrid. Klub terbesar abad ke-20 dengan perolehan gelar domestik yang begitu jomplang banyaknya—sekalipun dibandingkan dengan kompetitor abadinya; Barcelona. Atau gelar Liga Champions (yang saat itu masih punya sembilan titel) dan masih berjarak tiga titel dari pesaing terdekatnya; AC Milan dari Italia (masih memegang enam titel saat itu).

Bagi Madrid, mereka sudah mendapatkan apa pun soal gelar juara, tapi kenapa citra global mereka masih kalah dari Manchester United dari Inggris yang hanya didompleng oleh dongeng “Nou Camp 1999” dan “Clash of ’92”? Ini sebuah fakta yang tidak cukup masuk akal bagi Perez. Ibarat United tak ubahnya gadis seksi nan montok yang diperebutkan banyak sponsor, sedangkan Madrid; hanya janda kaya raya yang dilirik karena kecantikannya pada masa lalu.

Maka di situlah kemudian kebutuhan utama sepakbola dimainkan sudah tidak penting lagi bagi Madrid. Ini bukan lagi soal kemenangan dan gelar juara. Perez dan Madritista tidak lagi butuh pengakuan sebagai klub paling sukses, mereka butuh pengakuan sebagai klub paling populer dan klub paling kaya—untuk itulah mereka membeli Beckham. Dan di sinilah kemudian “spectacle” menjadi poros utama Perez dalam menjalankan kerajaan bernama Los Galacticos.

Di saat Madrid mati-matian untuk mengalahkan citra United secara global, ternyata di sisi lain, Abramovich membangun sebuah klub dengan jor-joran (juga) untuk mengalahkan dominasi United di Liga Inggris.

Ketika Chelsea kemudian berhasil mempencundangi United pada musim 2004/2005, Abramovich merasa misi mereka telah berhasil dan mulai menyasar ke kasta yang lebih tinggi: Liga Champions (mereka akhirnya juara pada tahun 2012). Klub yang terus berusaha menyejajarkan diri dengan United dan sedikit banyak ingin seperti Madrid ini terus melakukan pembenahan tanpa henti. Sekaligus diam-diam menjadi acuan “klub-klub OKB” (orang kaya baru) lainnya.

Bukan hanya jadi acuan soal gelar juara, kemampuan The Blues Chelsea yang sudah mampu mandiri patut diapresiasi dan dijadikan contoh.  Sejak tahun 2009, Chelsea sudah sanggup menghasilkan keuntungan untuk dirinya sendiri. Sebuah klub baru yang awalnya tidak punya sejarah juara mampu meraih hampir segalanya dengan citra yang dibangun pelan-pelan tanpa henti. Citra yang dibangun Chelsea lewat piala demi piala.

Sebuah klub besar harus punya sejarah yang besar. Madrid sudah memilikinya, tapi citra globalnya sempat takluk di tangan United di peralihan milenium abad 21. Maka ketika Perez mati-matian membangun kembali pondasi spectacle Los Galacticos dengan mendatangkan Beckham, sejatinya itu bukanlah sebuah kesalahan—tapi memang sebuah kebutuhan hiburan. Sebab memang di posisi itulah dunia persilatan sepakbola saat ini berada.

Dan ini semua dimulai sejak malam tak terlupakan di Old Trafford.

NB: Artikel ini dipublikasikan dalam buku Sepakbola 2.0. Untuk Anda tahu, orang yang mengajak Roman Abramovich ke Old Trafford adalah Pini Zahavi. Orang yang sama yang pertama kali mengajak Neymar ke Eropa dan sekarang ada di balik rencana megatransfernya ke PSG.

[1] Wilson, Jeremy. 2013. How Chelsea owner Roman Abramovich changed the face of football in England. <http://www.telegraph.co.uk/sport/football/teams/chelsea/10149386/How-Chelsea-owner-Roman-Abramovich-changed-the-face-of-football-in-England.html>. Diakses pada 18 Oktober 2015

[2] Durham, Meenakshi Gigi dan Douglas M. Kellner. 2013. Media and Cultural Studies Keyworks. Wiley-Blacwell. (Hal. 117).

[3] Haryatmoko. 2002. Kekuasaan Melahirkan Antikekuasaan. Menelanjangi Mekanisme dan Teknik Kekuasaan Bersama Foucault. BASIS nomor 01-02, Tahun ke-51, Januari-Februari 2002.

Komentar
Lahir di Jogja tapi besar dan belajar cinta sepak bola dari Pelita Solo dan Persijatim Solo FC. Tukang modifikasi dan renovasi kalimat di Indie Book Corner (IBC). Masih bermimpi jadi atlet kayang pertama yang berlaga di UFC World Champion. Biasa nggambleh di @dafidab