Membangkitkan (Kembali) Sebuah Kenangan tentang PSM Makassar

Awal mula sepak bola di Makassar

Permainan sepak bola telah masuk ke Sulawesi Selatan sejak zaman Sultan Hasanuddin (1653-1670). Pada masa itu, permainan sepak bola dirangkaikan dengan upacara adat. Dimainkan dengan bola yang terbuat dari rotan dengan menunjukkan kelihaian dari para pemainnya yang mempertahankan bola agar tidak jatuh ke tanah. Pemain mempermainkan bola dengan kaki, kepala dan bahu, bahkan siku, agar bola tidak jatuh ke tanah.

Dalam perkembangannya, permainan model ini kemudian dikenal sebagai sepaktakraw atau disebut juga sepakraga. Itulah sebabnya ketika lahir Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada tahun 1930, PSSI tidak langsung memakai nama sepak bola melainkan sepakraga (Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia).

Hindia Belanda berandil besar memopulerkan sepak bola di Indonesia. Mereka mulai melakukannya pada akhir tahun 1800-an dan awal 1900-an. Permainan ini kemudian jadi begitu populer, termasuk di Makassar yang kala itu dikenal sebagai Bandar Makassar, pelabuhan terbesar di wilayah timur nusantara.

Berbagai kapal asing menjadikan Bandar Makassar sebagai pusat pelayaran, oleh kapal domestik, Bandar Makassar menjadi tempat persinggahan untuk menjual segala rempah-rempah dan hasil bumi mereka ke kapal asing. Kegiatan yang bertaraf internasional itu pun ikut memengaruhi masyarakat Makassar mengenal olahraga sepak bola yang mulai digandrungi di seluruh dunia.

Kelahiran Makassar Voetball Bond

Maka tepat tanggal 2 November 1915 resmi berdiri sebuah klub sepak bola di Makassar bernama Makassar Voetball Bond (MVB) yang kemudian menjelma menjadi PSM Makassar. Pada masa itu, MVB terdiri dari gabungan pemain sepak bola dari jajaran elit Belanda dan pribumi Makassar. Dua pemainnya, yakni Sagi dan Sangkala sangat terkenal dan menjadi pembicaraan hangat hingga luar negeri. Beberapa kali MVB mendapatkan undangan bermain di luar negeri untuk pertandingan persahabatan.

Pada tahun 1922, sepak bola di Makassar telah berkembang cukup pesat sejak kehadiran Makassar Voetball Bond (MVB). Ada empat divisi di Perserikatan Sepak Bola Makassar yang saat itu masih dikenal sebagai MVB. Umumnya, sebuah klub memiliki kesebelasan pada lebih dari satu divisi. Pada bulan Juni 1922, MVB menggelar pemilihan kepengurusan baru secara langsung. Di dalam kepengurusan baru, organisasi dianggap cukup mewakili berbagai lapisan masyarakat saat itu, yakni berasal dari orang Eropa, Tionghoa, dan Pribumi.

Pada tahun 1920-1940 Semakin banyak klub di berbagai wilayah Indonesia yang terbentuk seperti di Sumatera, Kalimantan, Bali, dan tentunya di Jawa. Pada tahun itu pula masa keemasan bagi klub MVB. Sangkala yang merupakan pemain handal MVB tercatat sebagai pemain pertama binaan Hindia Belanda yang terkenal di seantero tanah air. Sejumlah klub di Indonesia mengundang MVB untuk menggelar pertandingan persahabatan dan turnamen. MVB pun semakin dikenal dan disegani oleh publik sepak bola pada masa itu.

Sayangnya, ketika pada tahun 1942, saat Jepang mulai masuk ke Indonesia, aktivitas sepak bola terhenti, termasuk di Makassar. Semua hal yang “berbau” Belanda dilenyapkan oleh Jepang. Peraturan dari Jepang inilah membuat putra-putra Makassar langsung mengubah nama Makassar Voetball Bond (MVB) menjadi Persatuan Sepak Bola Makassar atau yang lebih dikenal dengan PSM Makassar. Nama yang hingga kini dipertahankan.

Meski berada di bawah tekanan Jepang, aktivitas berlatih sepak bola dan membesarkan nama PSM terus berjalan, hingga akhirnya Jepang meninggalkan Indonesia. Setelah peninggalan Jepang, PSM makin bersinar sebagai klub hebat di Indonesia bahkan Asia Tenggara.

BACA JUGA:  DNA Asia di Tubuh Juku Eja

PSSI pun memanggil sejumlah pemain PSM untuk memperkuat tim nasional Indonesia pada era pemerintahan Presiden Soekarno. Ramang adalah satu pemain legendaris PSM Makassar yang juga diakui FIFA (Federation Internationale de Football Assosiation) sebagai legenda sepak bola Indonesia dan dunia.

PSM sebagai salah satu klub tertua di Indonesia turut aktif membidani kompetisi PSSI, yang diberi nama Perserikatan. Pada tahun 1957, pertama kalinya Juku Eja menjuarai Perserikatan setelah mengalahkan PSMS Medan di final. Gelar yang semakin membuat nama PSM mentereng di kancah persepakbolaan Indonesia dan pemainnya pun jadi tulang punggung tim nasional (timnas).

Masa kejayaan PSM

Pada era Perserikatan (1931-1994), PSM menorehkan banyak sejarah dan ikut mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. PSM tercatat pernah bermain untuk beberapa pertandingan internasional antarklub pada masa Demokrasi Liberal (1950-1959) seperti ketika melawan tim Kalmar T.T Swedia pada akhir tahun 1954 di Indonesia. PSM Makassar saat itu mampu menahan seri tim tamu dengan skor 2-2.

Tanggal 25 Desember 1957 PSM Makassar bertemu timnas Bulgaria dengan hasil akhir 1-1 (3-1). Pada 1 Maret 1958 PSM menjajal tim asal Rusia Spartak Moskow di Indonesia, dengan hasil akhir 1-0 (5-0) untuk kemenangan tim tamu. Masa kejayaan tim nasional di masa Demokrasi Liberal (1950-1959) juga ikut menyisakan nama-nama pemain asal PSM Makassar seperti Sunar, Ramang, Pattinasarany, Latandang, Saelan, dan Rasyid Dahlan. Bahkan permainan bola pendek dari kaki ke kaki telah dimainkan oleh trio PSM yaitu Suwardi, Ramang, dan Noorsalam.

Kehebatan pemain PSM dari masa ke masa berbuah manis dengan berhasil menobatkan klub berjuluk Ayam Jantan dari Timur ini sebagai juara Perserikatan pada tahun 1957, 1959, 1964/1965, 1965/1966, dan 1991/1992. Pada tahun 1974 PSM pun keluar sebagai juara di turnamen Piala Presiden Soeharto yang kala itu diikuti empat besar tim dari Kejurnas PSSI.

Setelah era perserikatan digantikan oleh Liga Indonesia (Ligina), pada Ligina II 1995/1996 PSM hanya mampu menjadi runner-up setelah dikalahkan Mastrans Bandung Raya. Klub kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan ini akhirnya meraih juara Liga Indonesia (Liga Bank Mandiri) pada tahun 1999/2000. Saat menjuarai Liga Indonesia (Liga Bank Mandiri), PSM mencatat prestasi mengesankan dengan hanya menderita dua kali kekalahan dari total 31 pertandingan yang dimainkan.

Saat itu PSM Makassar mengumpulkan pilar-pilar tim nasional seperti Hendro Kartiko, Bima Sakti, Aji Santosa, Miro Baldo Bento, Kurniawan Dwi Yulianto, yang dikombinasikan dengan pemain asli Makasar seperti Ronny Ririn, Syamsudin Batola, Yusrifar Djafar, dan Rachman Usman, ditambah Carlos de Mello, dan Yosep Lewono. PSM Makassar merajai pentas Liga Indonesia dengan menjuarai Wilayah Timur, dan di babak delapan besar menjuarai Grup Timur.

Di semifinal, PSM Makassar mematahkan perlawanan Persija Jakarta, sebelum mengatasi perlawanan Pupuk Kalimantan Timur (PKT) Bontang di final yang berakhir dengan skor 3-2. Sebagai juara liga, PSM mendapatkan kesempatan menjadi wakil Indonesia di Liga Champions Asia 2000/2001. Hebatnya Juku Eja mampu melangkah sampai babak perempat final sebelum akhirnya kalah bersaing dengan tim-tim besar Asia lainnya seperti Jubilo Iwata (Jepang), Suwon Samsung Bluewings (Korea Selatan), dan Shandong Luneng Thaisan (Tiongkok). Selain itu, Pasukan Ramang pernah mengharumkan nama Indonesia dengan meraih gelar di event internasional yaitu Ho Chi Minh City Cup pada tahun 2001.

BACA JUGA:  Marc Klok: Bermain Sepakbola karena David Beckham

Membangkitkan (kembali) sebuah kenangan

Cerita masa lalu tentang kejayaan PSM tentu saja membekas di benak dan hati para penggemarnya. Kerinduan akan terulangnya kembali kisah kesuksesan tim Ayam Jantan dari Timur begitu dalam dirasakan khususnya oleh suporter. Dalam kurun waktu 15 tahun lamanya, tim Juku Eja berjuang jatuh bangun untuk dapat mengembalikan prestasi demi prestasi di masa lalu yang telah menghantarkan PSM Makassar menjadi salah satu klub sepak bola yang disegani di Indonesia. Namun, usaha demi usaha tidak berjalan mulus dan sesuai harapan serta impian pencinta PSM. Pengaruh politik sangat kuat mencengkram sang Ayam Jantan hingga sulit sekali membangun manajemen dan tim impian yang mengedepankan profesionalitas.

Sudah 100 tahun lamanya PSM merajut kisahnya sendiri yang penuh suka cita maupun duka cita. Layaknya sebuah kehidupan. PSM Makassar yang pernah mengalami masa-masa terbaiknya saat ini sedang berada di titik terendahnya. Kondisi persepakbolaan secara nasional oleh sejumlah orang diaggap memiliki andil dalam semakin terpuruknya kondisi klub. Manajemen klub pun tidak mampu berbuat banyak di tengah situasi dan kisruh sepak bola yang terjadi di negeri ini. Seharusnya pada usianya yang menginjak ke-100 tahun, PSM bisa mengulang kembali kisah-kisah sukses masa lalu yang telah dicatat sejarah.

Namun, di tengah rasa putus asa dan kemustahilan ternyata asa itu masih ada dan begitu besar. Asa yang datang dari mereka yang sangat mencintai PSM Makassar. Asa yang datang dari ketulusan para pendukungnya yang ingin membangkitkan kembali semua kenangan masa lalu yang begitu manis dan membanggakan. Bersatunya suporter PSM dalam sebuah forum komunitas yang bernama Forum Suporter Makassar merupakan sebuah langkah awal yang sangat baik untuk saling berangkulan dalam membangkitkan kembali sebuah kenangan manis yang pernah ditorehkan tim kebanggaan masyarakat Makassar ini. Tanpa mengenal lelah, tanpa berputus asa, bahkan tidak peduli lagi pada diri pribadi, suporter yang tergabung dalam Forum Suporter Makassar mengorbankan segala yang mereka miliki demi dapat merayakan 100 TAHUN PSM MAKASSAR.

PSM pun patut berbangga. Setidaknya meskipun belum mampu kembali memberikan prestasi namun memiliki suporter setia yang sangat mencintai. Pengorbanan yang diberikan oleh suporter di 100 TAHUN PSM MAKASSAR seharusnya menjadi sebuah tonggak untuk bangkit kembali.

Mari menjadikan momen ini sebagai awal memulai kehidupan yang lebih baik. Saat pesta selesai, mari benahi diri. Lepaskan segala ego di hati. Biarlah perayaan 100 tahun yang ini menjadi milik generasi yang ada saat ini. Sebagai titik tolak bangkit kembali berkokok dengan keras dan lantang membuktikan bahwa PSM Makassar siap menorehkan tinta emas di halaman demi halaman sejarah barunya. Agar membanggakan bagi generasi yang akan datang.

“Selamat Satu Abad PSM Makassar. Klub dengan sejarah panjang yang penuh dengan kisah kepahlawanan, kebanggaan, cinta, juga tentang cerita yang pilu. Terima kasih Forum Suporter Makassar atas usaha luar biasa dalam mewujudkan perayaan HUT ke-100 PSM Makassar.”

 

Referensi:

  1. Sepakbola Indonesia Alat Perjuangan Bangsa – Buku 85 Tahun PSSI (PSSI)
  2. Ramang Si Macan Bola (M. Dahlan Abubakar)

 

Komentar
Penyuka sepak bola, fans PSM Makassar, dan penulis buku 'Petar Segrt'.