Mencintai Real Madrid Seperti Alvaro Arbeloa

Setiap kali mendengar nama Alvaro Arbeloa Coca, mungkin kita akan merasa biasa saja. Lain halnya kalau nama yang kita dengar adalah Gareth Bale, Angel Di Maria, Kaka, Luka Modric, dan Cristiano Ronaldo, yang masuk ke dalam gerbong proyek Los Galacticos jilid dua garapan Florentino Perez di Real Madrid.

Walau namanya tak selegendaris bintang-bintang yang pernah mengenakan baju Madrid dalam periode satu dasawarsa terakhir, tapi presensi Arbeloa dalam rentang 2009 sampai 2016 sangat krusial untuk berbagai pencapaian apik Los Blancos.

Memiliki posisi natural sebagai fullback, jebolan La Fabrica ini menjadi pilar andalan sejumlah arsitek kenamaan yang membesut Madrid seperti Manuel Pellegrini, Jose Mourinho, dan Carlo Ancelotti. Keserbabisaan Arbeloa, bisa dimainkan sebagai bek kanan maupun bek kiri, jadi nilai plus sosok kelahiran Salamanca tersebut.

Ia memang tak secepat Dani Carvajal, pun tak sehebat Marcelo dalam menyisir tepi lapangan. Namun Arbeloa adalah figur yang amat spartan setiap kali diberi kesempatan beraksi di atas lapangan. Dirinya sanggup tunggang-langgang demi menutup areanya dari serbuan lawan. Daya juang eksepsional Arbeloa bahkan membuatnya jadi salah satu pemain yang rajin mengoleksi kartu kuning. Berdasarkan data Transfermarkt, selama membela Madrid, Arbeloa dihadiahi 65 kartu kuning oleh pengadil lapangan.

Uniknya, Arbeloa juga punya kontribusi cukup baik di sisi ofensif. Ini terbukti dengan gelontoran 6 gol dan 14 asis dari 238 penampilan di seluruh kompetisi selama mengenakan baju serbaputih kepunyaan Madrid. Bahkan, rapor tersebut berselisih sedikit dengan milik bek kanan legendaris yang memperkuat Los Blancos pada rentang 1999-2009, Michel Salgado (5 gol dan 25 asis dalam 371 penampilan).

Sebetulnya, Arbeloa sudah turun sebanyak dua kali bersama tim utama Madrid pada musim 2004/2005 silam usai dipromosikan dari Real Madrid Castilla. Sayangnya, baik Mariano Garcia Remon ataupun Vanderlei Luxemburgo yang kala itu duduk sebagai pelatih, belum sepenuhnya mempercayai kemampuan Arbeloa muda.

Keadaan itu mendorong pihak Madrid buat meminjamkannya ke klub lain pada musim berikutnya. Beruntung bagi Arbeloa, Deportivo La Coruna berkenan menampung dirinya yang saat itu dipinjamkan sepaket dengan Roberto Soldado. Di Stadion Riazor, sosok kelahiran 17 Januari 1983 ini sering diturunkan sehingga punya kesempatan untuk memamerkan kemampuannya.

Penampilan mantapnya bareng Deportivo selama enam bulan ditangkap oleh sesama orang Spanyol berstatus pelatih, Rafael Benitez. Pada Januari 2007, Benitez yang kala itu meracik strategi buat Liverpool sepakat mendatangkan Arbeloa ke Stadion Anfield. Oleh sang pelatih, Arbeloa dipercaya sebagai fullback andalan, mengokupasi area kanan maupun kiri selama dua setengah musim.

BACA JUGA:  Analisis Pertandingan Real Madrid 0-4 Barcelona: Struktur Posisional Menjadi Masalah Real Madrid

Keberhasilan Liverpool melenggang ke final Liga Champions 2006/2007 juga tak lepas dari kepiawaian Arbeloa. Pada babak 16 besar, The Reds berjumpa Barcelona. Pada leg pertama di Stadion Camp Nou, Liverpool menang 2-1 setelah gol Deco mampu dibalas Craig Bellamy dan John Arne Riise.

Lantas kenapa Arbeloa beroleh kredit? Tentu karena keberhasilannya mematikan pergerakan bintang andalan Los Cules, Lionel Messi. Pada laga ini, Benitez memainkan Arbeloa, penggawa dengan kaki terkuat ada di sebelah kanan, sebagai bek kiri guna menyetop aksi cut inside yang acap dilakukan si kidal Messi yang turun sebagai winger kanan.

“Benitez melakukan apa yang terbaik bagi timnya saat itu. Memainkan Arbeloa di sisi kiri untuk menghentikan Messi adalah langkah brilian,” puji bekas pemain Liverpool, Boudewijn Zenden, seperti dikutip dari Givemesport.

Walau Barcelona sanggup membalas kekalahan itu dengan kemenangan tipis 1-0 pada leg kedua yang diselenggarakan di Stadion Anfield, Liverpool jadi kubu yang berhak menggenggam tiket ke perempatfinal sebab unggul agresivitas gol tandang dalam agregat 2-2.

Kendati nirprestasi selama merumput di Inggris, manajemen Madrid kepincut dan tak ragu untuk memulangkan Arbeloa ke ibu kota Spanyol. Apalagi di momen yang sama dengan kembalinya Arbeloa ke Stadion Santiago Bernabeu, Madrid baru saja kehilangan Salgado yang memutuskan hengkang ke Inggris demi membela Blackburn Rovers.

Sesungguhnya, menilai kiprah Arbeloa di Madrid dari kacamata statistik amat tak ideal. Apa yang ia torehkan, nyatanya bisa disamai Trent Alexander-Arnold bersama Liverpool hanya dalam tempo semusim. Begitu pun dengan pelbagai trofi yang ia gamit. Di luar itu semua, Arbeloa adalah cerminan dari daya juang hebat seorang pesepakbola dan rasa cinta yang utuh kepada Los Blancos.

Selain totalitas dalam bermain sehingga mendapat julukan Espartanos dari para Madridistas, Arbeloa juga kerap tampil melontarkan pembelaannya bagi Madrid saat tim atau malah rekan-rekannya mendapat cercaan. Arbeloa pernah menyelenggarakan konferensi pers khusus guna meyakinkan publik akan kinerja bagus Pellegrini meski gagal meraih titel La Liga dan Liga Champions 2009/2010.

Arbeloa juga yang membujuk penyerang asal Argentina, Gonzalo Higuaín, untuk bertahan di Madrid setelah diterpa isu pindah di pengujung musim 2011/2012. Dalam momen perayaan gelar di Plaza de Cibeles setelah menjuarai La Liga musim tersebut, Arbeloa menyanyikan sebuah lagu, “Pipita quedate (Higuaín bertahanlah)”, agar rekannya itu tetap mengenakan kostum Los Blancos. Ajaibnya, aksi itu membuahkan hasil.

BACA JUGA:  Mengkhidmati dan Memuja Hariono

Karier Arbeloa sebagai pemain Madrid sejatinya bisa ditutup dengan sempurna andai dirinya memutuskan pensiun semusim lebih dini. Pada 8 Mei 2016, Arbeloa yang kontraknya habis di akhir musim 2015/2016, masuk menggantikan Ronaldo pada menit ke-79 dalam partai La Liga versus Valencia.

Saat Arbeloa masuk, Stadion Santiago Bernabeu bergemuruh menghadiahkan aplaus meriah untuknya. Tak cukup sampai di situ karena Madridistas yang memadati arena juga membentangkan sebuah replika jersi raksasa dengan nomor punggung 17 kepunyaan Arbeloa serta spanduk dengan tulisan #GraciasCap17an. Ramos yang merupakan kapten tim juga memberikan ban kapten kepada Arbeloa sebagai penghormatan terakhir.

Selesai laga, semua pemain Madrid langsung berlari ke arah Arbeloa dan langsung mengangkatnya tinggi-tinggi. Sebuah bentuk apresiasi kepada Arbeloa yang telah memberikan segalanya untuk Los Blancos. Perjalanan Arbeloa sendiri di ibu kota tak disudahi dengan biasa-biasa saja karena pada musim tersebut, Madrid berhasil menggondol trofi Liga Champions buat kali kesebelas sepanjang sejarah.

Apa yang didapat Arbeloa adalah sebuah pemandangan langka yang mungkin hanya terjadi sekali selama 10 tahun terakhir. Figur sekaliber Iker Casillas maupun Guti Hernandez bahkan tak mendapat salam perpisahan semeriah dirinya.

Usai petualangannya dengan Madrid berakhir, Arbeloa balik kucing ke Inggris guna memperkuat West Ham United selama semusim. Alih-alih tampil elok, dirinya justru tampil seadanya. Cuma diturunkan sebanyak empat kali, Arbeloa akhirnya benar-benar pensiun di akhir musim 2016/2017 pada usia 34 tahun.

“Aku selalu berpikir bahwa aku akan terus bermain sampai kakiku tak kuat lagi. Namun pada akhirnya, aku sadar bahwa masalah utamanya ada di kepala dan motivasi. Musim ini tidak berjalan seperti yang aku impikan dan aku harus jujur pada diri sendiri bahwa ini saatnya berhenti,” terang Arbeloa kepada Marca.

Selepas pensiun, ia kembali ke tempat yang ia cintai yakni Madrid. Bukan sebagai pemain, melainkan sebagai duta besar Los Blancos. Lewat akun twitter pribadinya, Arbeloa merasa bahagia bisa kembali ke Madrid.

Arbeloa boleh saja dianggap pemain biasa. Namun menyebutnya sebagai Madridista sejati sepanjang hidupnya tidaklah salah. Ia adalah legenda, pemimpin, serta suporter yang siap melakukan apa saja demi klub yang ia cintai.

Gracias, Alvaro.

Komentar
Seorang penggemar Real Madrid yang sedang menjalani masa kuliah di Universitas Negeri Surabaya. Dapat dihubungi di akun Twitter @RijalF19.