Menerapkan Etika Jurnalistik dalam Kasus Berita Bohong The Sun

Akhir-akhir ini, dunia persepakbolaan internasional kembali dihebohkan dengan berita kepindahan salah satu pemain andalan Chelsea, Diego Costa.

The Sun memberitakan bahwa pemain berkewarganegaraan Spanyol tersebut telah mencapai kesepakatan sebesar 30 juta poundsterling untuk hengkang ke Chinese Super League, Jumat (3/2).

Bahkan, koran harian asal Inggris tersebut mengatakan bahwa salah satu kontestan Liga Cina sudah berbicara dengan agen  Diego Costa jika pemainnya akan mendapatkan gaji sebesar 570 ribu poundsterling per pekan.

Mendengar kabar tersebut, Diego Costa bereaksi keras. Penyerang andalan The Blues ini pun mengunggah foto di akun Instagram, serta menambahkan kalimat “They talk too much shit!!! come on Chelsea!!!”

Pelatih Chelsea, Antonio Conte, menanggapi berita bohong ini dengan santai. “Saya tidak tahu. Setiap pekan, saya mendengar banyak sekali kabar dan spekulasi tentang Diego,” ucap Conte.

Sejarah awal “Don’t Buy The Sun”

Pernah mendengar kalimat untuk memboikot The Sun yang berbunyi “Don’t Buy The Sun”?

Kalimat tersebut dipopulerkan fans Liverpool terkait Tragedi Hillsborough, yang merenggut nyawa 96 penggemar sepakbola pada semifinal Piala FA antara Liverpool melawan Nottingham Forest.

Tragedi Hillsborough mampu mengubah wajah sepakbola Britania Raya, salah satunya adalah memaksa penghilangan tribun berdiri.

Fans Liverpool marah karena mereka merasa dipojokkan oleh berita yang ditulis The Sun yang berjudul THE TRUTH dan mencantumkan tiga sub-headline yang berjudul “Some fans picked pockets of victims“, “Some fans urinated on the brave cops”, dan “Some fans beat up PC giving kiss of life”. Maka maklum apabila fans Liverpool naik pitam.

The Sun memasukkan pernyataan dari petinggi keamanan dan salah satu anggota perlemen dari Partai Konservatif bernama Sir Irvine Patnick.

BACA JUGA:  Peran Penting Klub dalam Reformasi Sepakbola Indonesia

“Sejumlah fans Liverpool yang mabuk menyerang petugas penyelamat saat sedang berusaha menyelamatkan korban,” dan “Petugas kepolisian, petugas pemadam kebakaran, dan kru ambulans dipukuli, ditendang, dan dikencingi dari (tribun) atas.”

Pada kenyataannya, berita tersebut tidak sesuai dengan foto-foto yang beredar. Dalam foto-foto kejadian Tragedi Hillsborough terlihat fans ikut membantu petugas menyelamatkan korban menggunakan perlengkapan seadanya. Papan-papan iklan digunakan untuk mengangkat korban ke ambulans.

Penerapan etika jurnalistik

Dunia jurnalistik mempunyai kode etik yang berguna untuk mencegah para wartawannya bertindak di luar tanggung jawab. Jika kita mengambil contoh dari dua “berita bohong” di atas, sebenarnya The Sun sudah melanggar Kode Etik Wartawan Internasional.

Kode Etik Wartawan Internasional diterima dalam Kongres Sedunia Deferal Wartawan Internasional ke-2 di Bordeaux pada tanggal 25-28 April 1954 dan diamandemenkan oleh Kongres Federasi Wartawan Internasional ke-18 di Helsingor pada tanggal 2-6 Juni 1986.

Dalam kasus Diego Costa dan Tragedi Hillsborough, The Sun jelas sudah melanggar kode etik yang pertama, yang berbunyi, “Dalam melaksanakan kewajiban ini, wartawan harus membela prinsip-prinsp kebebasan dan pengumpulan publikasi berita secara jujur, dan hak atas komentar, serta kritik yang adil.”

Jika merujuk etika yang ketiga pun The Sun juga sudah melanggar. Pelanggaran tersebut termasuk dalam kategori berat.

Sebuah berita bohong dikategorikan ke dalam pelanggaran kategori berat apabila memenuhi satu atau beberapa kriteria. Pertama, jika berita tersebut merupakan plagiat. Kedua, salah penulisan atau pemberitaan secara sengaja. Ketiga, fitnah, pencemaran nama baik, dan tuduhan yang tidak mendasar. Keempat, suap dalam bentuk apa pun untuk mempertimbangkan pemuatan berita atau menyembunyikan fakta.

Selain itu, Kode Etik Wartawan Internasional mengatur bahwa wartawan hendaknya memberi laporan sesuai fakta yang diketahui sumbernya dan tidak menyembunyikan informasi penting atau memalsukan dokumen.

BACA JUGA:  Apa Kabar, Di Matteo?

Hal tersebut dapat merugikan semua pihak yang disebut dalam pemberitaan, terutama Diego Costa yang menjadi subjek “gosip” di atas. Sangat disayangkan The Sun belum meralat pemberitaan transfer Diego Costa sampai tulisan ini selesai dibuat.

Beda cerita dengan Tragedi Hillsborough. The Sun baru meminta maaf setelah 23 tahun berita tersebut mengambang tanpa kejelasan. Padahal, dalam Kode Etik Wartawan Internasional yang kedua disebutkan bahwa wartawan sedapat mungkin meralat setiap pemberitaan yang telah dipublikasikan yang ternyata tidak benar dan merugikan pihak lain.

The Sun sendiri membuat edisi khusus berisi permintaan maaf atas “berita bohong” yang mereka buat pada 19 April 1989. Isinya adalah fakta-fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan. Menurut investigasi yang dilakukan Hillsborough Independent Panel, bahwa fans Liverpool tidak bersalah atas tragedi tersebut.

Memang, tak ada kata terlambat bagi manusia untuk meminta maaf. Tetapi, mengacu pada kode etik, seharusnya The Sun segera meralat dan meminta maaf kepada pihak yang telah dirugikan.

Komentar