Mengapa Tiket Final Piala AFF 2016 Sulit Diperoleh?

Tiket pertandingan final Piala AFF antara Indonesia melawan Thailand di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, terhitung mahal untuk orang Indonesia. Tiket kategori 1 dihargai 500 ribu rupiah, kategori 2 300 ribu rupiah, dan tiket kategori 3 seharga 100 ribu rupiah.

PSSI sebagai pemilik hajat tentu berpikir bahwa harga tiket semahal itu wajar karena biaya pertandingan sangat mahal. Sehingga di stadion yang berkapasitas hanya 30 ribu tempat duduk itu, tiketnya mesti dibikin mahal agar menutup biaya operasional.

Lagipula, PSSI sudah menyatakan bahwa 50 ribu rupiah dari setiap lembar akan disumbangkan untuk korban gempa di Pidie, Aceh. Tidak ada yang salah tentu, semua ada alasan, tapi sepanjang tidak ada transparansi dari federasi, harga tiket mahal akan selalu dipertanyakan.

Sudah mahal, tiket pun sulit diperoleh. Isu tiket mahal kemudian tak lagi banyak dibahas, sementara protes terhadap mekanisme untuk memperoleh tiket yang menjadi sorotan.

Setidaknya itu yang bisa kami nilai setelah menyaksikan betapa banyaknya persoalan untuk mendapatkan tiket. Dedik Priyanto, koordinator Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) yang dihubungi melalui sambungan telepon juga mengutarakan hal yang sama.

PSTI dalam siaran persnya menyakan sangat kecewa atas buruknya pengelolaan penjualan tiket Final PIala AFF 2016. Lebih menyedihkan lagi, masalahnya ada dalam pembelian online maupun offline.

Untuk penjualan tiket online, PSSI menggandeng Kiostix sebagai vendor. Masalah kemudian muncul karena peminat sangat banyak, server tidak kuat sehingga situsweb sering bermasalah. Sudah begitu pembelian hanya bisa menggunakan kartu kredit, tak banyak suporter kita yang bisa mengakses kartu kredit ini.

Ke depan, untuk melakukan perbaikan penjualan sistem online ini PSSI perlu menggandeng lebih banyak vendor. Masyarakat Indonesia sudah terbiasa untuk melakukan transaksi digital, hanya saja mekanismenya perlu dipermudah, salah satunya dengan menyediakan pilihan pembayaran yang beragam.

BACA JUGA:  Timnas Indonesia dan Kewajiban Bela Negara

Selain itu, dengan menggandeng lebih banyak vendor, maka antrian panjang dan server yang tidak kuat bisa diminimalkan. Sekarang, tinggal bagaimana PSSI memperluas jaringannya sehingga ke depan, makin banyak vendor yang tertarik untuk bekerjasama.

Untuk pembelian langsung, ada kebijakan menarik pada perhelatan kali ini. Penjualan dilakukan di Garnisun, Gambir, yang merupakan markas TNI. Tujuannya agar semua menjadi lebih tertib dan menghindari adanya calo.

Dan yang terjadi kemudian adalah situasi chaos. Panitia pelaksana tak mengantisipasi berbagai kemungkinan salah satunya massa yang mulai mengantri jelang tengah malam.

Tiket yang disediakan 10 ribu lembar dengan aturan 1 KTP bisa membeli 3 tiket. Tanpa ada pengumuman yang jelas, 1 KTP kemudian hanya boleh memperoleh 1 tiket saja seperti yang diumumkan di lapangan kantor Kostrad.

Pukul 11:00, pembelian tiket ditutup dan masih ada ribuan massa yang belum memperoleh tiket. Situasi pun menjadi chaos dengan tidak adanya upaya serius dari PSSI atau panpel untuk menenangkan massa. Justru kemudian ada pihak Kostrad yang turun tangan hingga mengakibatkan suporter terkena pentungan.

Yang kemudian disesalkan tidak ada penjelasan mengapa ada penutupan penjualan tiket tersebut, apakah benar 10 ribu lembar yang disiapkan sudah ludes terjual?

Persoalan calo juga tidak selesai dengan memindahkan penjualan ke markas militer. Salah satu follower Fandom bahkan menyatakan dia memiliki bukti bahwa ada oknum aparat yang menjual tiket ilegal alias melakukan praktik calo.

Semestinya panpel belajar dari pengalaman penjualan tiket semifinal Piala AFF yang juga carut marut. Tapi, nyatanya tidak ada perbaikan signifikan sehingga persoalan penjualan tiket masih bermasalah, bahkan bisa dikatakan lebih rumit.

Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh. Sulit membayangkan, ini sudah 2016 dan bangsa kita masih kesulitan hanya untuk menjual tiket.

BACA JUGA:  Panen Investasi ala Real Madrid

Salah satu yang bisa dilakukan untuk meminimalkan kejadian serupa di masa depan adalah dengan melibatkan suporter dalam pengambilan keputusan. Di mana sebaiknya ada penjualan tiket dan lain sebagainya.

Atau PSSI bisa belajar dari klub lokal yang memilih menjual tiket tidak hanya terkonsentrasi di satu atau dua tempat, tapi disebar ke beberapa titik penjualan. Ini untuk mengurai massa agar tidak chaos, karena semakin banyak massa dan antrian panjang tentu makin sulit untuk mengaturnya.

Intinya, lakukanlah distribusi kewenangan, karena pemusatan kewenangan sejauh ini hanya menimbulkan kekisruhan. Apabila PSSI tidak lagi egois, niscaya perlahan tapi pasti persoalan sepak bola negeri ini satu per satu bisa teratasi.

Jika PSSI sudah berani untuk mematok harga mahal dan suporter tetap rela mengeluarkan uangnya untuk mendukung tim nasional, rasanya PSSI perlu memperlakukan suporter lebih baik. Memanusiakan suporter dan tak hanya menganggap mereka sebagai sapi perahan.

Jadi, bapak Edy Rahmayadi, pekerjaan jadi ketua umum PSSI sungguh berat kan? Tolong bapak dan seluruh pengurus bekerja lebih keras lagi, lebih baik, dan tentunya mesti lebih profesional.

 

Komentar
Akrab dengan dunia penulisan, penelitian, serta kajian populer. Pribadi yang tertarik untuk belajar berbagai hal baru ini juga menikmati segala seluk beluk sepak bola baik di tingkat lokal maupun internasional.