Mengenal Fakhrurrazi Quba

Baru menyelesaikan tiga pertandingan, kompetisi Liga 1 musim 2020 terpaksa dihentikan gara-gara pandemi Corona. Walau perjalanan masih tergolong singkat, tapi performa klub promosi, Persiraja, sungguh menarik perhatian. Mereka bertengger di posisi ketujuh dan jadi satu-satunya kesebelasan yang belum pernah kebobolan. Tak heran bila sang kiper, Fakhrurrazi Quba, jadi bahan pembicaraan publik.

Aksi-aksi Fakhrurrazi sebagai palang pintu terakhir Persiraja memang ciamik. Dirinya tak ragu buat melentingkan badan seraya melompat ke arah kiri maupun kanan agar gawangnya tetap perawan. Berbekal refleks mumpuni dan kemampuan membaca permainan yang apik, dirinya pun sanggup mengukir sejumlah penyelamatan penting bagi Laskar Rencong.

Catatan nirbobol yang Fakhrurrazi bukukan di tiga laga perdana Liga 1 musim 2020 mengantarnya jadi salah satu pemain dengan penampilan paling eksepsional. Namanya bahkan dimasukkan panelis Liga 1 musim 2020 sebagai kiper dari tim terbaik di pekan ketiga.

Bagusnya aksi Fakhrurrazi, membuatnya kini dilambungkan sebagai kandidat kiper tim nasional Indonesia. Bersaing dengan nama-nama berpengalaman seperti Andritany (Persija), Awan Setho (Bhayangkara FC), I Made Wirawan (Persib), dan Wawan Hendrawan (Bali United).

Sebagai pesepakbola profesional, kiper setinggi 182 sentimeter ini tentu bermimpi mengenakan seragam timnas Indonesia seraya berjibaku menyelamatkan gawangnya dari gempuran lawan. Namun sebelum bicara jauh tentang hal itu, ada baiknya jika kita mengenal lebih dahulu sosok kelahiran Aceh Utara, 30 tahun silam itu.

Nyaris Pensiun Dini

Mengawali karier sepakbola bersama PSBL Langsa, perjalanan Fakhrurrazi di kancah sepakbola nasional banyak ia habiskan bareng klub-klub asal Sumatra, khususnya Aceh. Misalnya saja PSLS, PSAP, Semen Padang sampai akhirnya sekarang berbaju Persiraja.

Walau demikian, ia sempat terpikir untuk gantung sepatu sekitar empat tahun silam. Semuanya berawal dari cedera parah yang mengharuskannya istirahat total dari lapangan hijau dalam rentang 2016 hingga 2018. Namun dukungan keluarga dan sahabat bikin Fakhrurrazi mengurungkan niat tersebut.

BACA JUGA:  Parma: Narasi Kejayaan dan Titik Nadir

Hingga akhirnya, perjalanan karier Fakhrurrazi melesat kala bergabung dengan Persiraja per musim 2019 lalu. Ia didapuk sebagai kiper utama saat tim berkompetisi di Liga 2 dan sukses membawa Laskar Rencong promosi ke Liga 1 usai finis sebagai peringkat ketiga.

Sosok Religius dan Pekerja Keras

Dalam sebuah wawancara dengan Bolasport, Fakhrurrazi menyebutkan bahwa kunci penampilan apiknya ada pada ikhtiar dan ibadah. Selama latihan, ia senantiasa menempa kemampuannya agar makin baik. Di laga sesungguhnya, hal itu sanggup ia buktikan.

Memang benar kerja keras dibarengi doa tidak mengkhianati hasil. Terbukti tiga laga awal dilewati dengan clean sheet. Sayang kompetisi terpaksa disetop. Padahal, jika Fakhrurrazi mampu mencatatkan satu nirbobol lagi, ia bakal menyamai rekor salah satu kiper terbaik di Indonesia, Kurnia Meiga, yang menorehkannya di musim 2017 lalu. Sejauh ini, Fakhrurrazi telah berdiri sejajar dengan Rivky Mokodompit yang tak kebobolan sekalipun di tiga partai Liga 1 musim 2019 kemarin.

Di luar lapangan, Fakhrurrazi adalah sosok yang taat beribadah. Baik dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa maupun keluarga. Lewat sepakbola, ia membiayai hidup kelima adiknya semenjak sang ayah wafat. Kondisi ini pula yang bikin dirinya punya motivasi lebih setiap kali berlaga serta sembuh dari cedera parahnya dahulu.

Dijuluki David de Gea-nya Aceh

Fakhrurrazi sudah dua musim berkiprah di klub dengan motto Lantak Laju (kurang lebih bermakna maju terus). Wajar kalau publik Stadion Harapan Bangsa semakin mencintainya. Salah satu cara yang ditempuh fans adalah memuji Fakhrurrazi layaknya kiper Manchester United, David de Gea. Bedanya hanyalah De Gea adalah kiper hebat asal Spanyol, sementara Fakhrurrazi merupakan kiper jempolan asli Aceh.

Hobi Memancing

Seperti manusia pada umumnya, Fakhrurrazi juga memiliki hobi. Jika Bambang Pamungkas gemar menulis serta memasak, maka Fakhrurrazi hobi memancing. Aktivitas ini bisa dilakukannya sendirian, bersama keluarga atau bahkan rekan setim.

BACA JUGA:  Kaki Ajaib Thierry Henry

Menurutnya, memancing dapat melatih emosi karena pemancing dituntut untuk sabar menanti umpan dimakan ikan sembari mengamati keadaan di sekitarnya. Hal ini bermanfaat baginya saat tampil di lapangan. Sikapnya amat tenang, tak mudah grogi sekaligus piawai membaca permainan lawan. Selain itu, Fakhrurrazi jadi tidak mudah terpancing provokasi pemain lawan.

Gemblengan Eddy Harto

Eddy Harto adalah salah seorang legenda timnas Indonesia era 1980-an sampai 1990-an. Prestasi terbaik bekas kiper Arseto ini adalah meraih medali emas di South East Asian (SEA) Games 1991 di Manila, Filipina. Saat ini, Eddy menjabat sebagai pelatih kiper Persiraja di bawah rezim kepala pelatih, Hendri Susilo.

Berguru dengan figur yang kenyang pengalaman di kancah sepakbola nasional dan internasional merupakan kesempatan berharga untuk Fakhrurrazi. Ada banyak ilmu yang dapat ia peroleh dari sosok Eddy yang amat mempercayainya ketika merumput.

Eddy selalu mengatakan bahwa saat tampil di lapangan, keputusan ada pada pemain. Petuah ini dipelajari secara intens oleh Fakhrurrazi sehingga ia memiliki pengambilan keputusan yang paripurna. Selain itu, sang pelatih kiper juga menyebutkan kalau ia meminta kiper yang dimainkan buat tampil lepas tanpa beban. Keadaan ini membantu para kiper untuk keluar dari tekanan yang amat besar karena sekali saja kiper melakukan blunder, dosanya akan diingat selamanya.

Apa yang diperlihatkan Fakhrurrazi sebelum kompetisi dihentikan akibat Corona memang menjanjikan. Wajar kalau namanya terus dilambungkan sebagai calon penggawa timnas Indonesia. Namun di luar itu semua, Fakhrurrazi wajib menunjukkan kepada khalayak bahwa performanya kemarin bukan kebetulan.

Fakhrurrazi harus membuktikan dirinya memang punya kapabilitas sehingga gawang Persiraja sulit dibobol. Bila itu sanggup dilakukannya secara kontinyu serta konsisten, panggilan dari pelatih timnas Indonesia, Shin Tae Yong, hanya tinggal menunggu waktu.

Komentar
Pemerhati sepakbola nasional yang tinggal di Aceh. Bisa disapa di akun twitter @YopiIlhamsyah