Mengenal Sosok Danny Rohl

Saat Bayern Munchen meraup banyak gelar di bawah arahan Hans-Dieter Flick, segala puja dan puji tentu mengarah kepada pria yang selepas Euro 2020 itu akan menjadi pelatih tim nasional Jerman. Pastinya, sedikit sekali pujian untuk para asistennya seperti Danny Rohl.

Hal tersebut sangat wajar karena Flick menjadi wajah dari kinerja Bayern secara keseluruhan. Namun jangan sekali-kali menepikan kontribusi para aktor di balik layar, tak terkecuali Rohl.

Beberapa tahun silam, para penikmat sepakbola dibikin geger ketika Julian Nagelsmann menjadi kepala pelatih dari TSG Hoffenheim.

Pasalnya, usia Nagelsmann saat itu baru 29 tahun alias seumuran dengan banyak pemainnya dan bahkan lebih muda dari sang kapten kesebelasan, Eugen Polanski.

Ketika Nagelsmann melejit sebagai kepala pelatih dengan kemampuan menjanjikan, Rohl sudah lebih dahulu berkiprah di kancah sepakbola.

Ia direkrut oleh Ralf Rangnick sebagai video analis dari akademi RasenBallsport (RB) Leipzig pada saat usianya 21 tahun medio 2010 lalu.

Kariernya sebagai pemain tak cukup mentereng karena hanya bermain di klub divisi bawah yakni S. Leipzig II dan FC Eilenburg.

Bersama klub yang disebut belakangan juga Rohl mengakhiri kariernya di atas lapangan hijau.

Rangnick pernah mengungkapkan bahwa Rohl adalah pemuda yang energik, tetapi pendiam dan jenius. Rohl juga diakuinya sangat detail dalam melakukan analisis.

Situasi itulah yang mendorong Rangnick untuk menawari Rohl jabatan sebagai video analis tim akademi usai karier sepakbolanya sebagai pemain diakhiri.

Tak sekadar menjadi video analis, seiring waktu Rohl juga ditetapkan sebagai asisten pelatih tim akademi.

Pekerjaan ini membuatnya jadi semakin dekat dengan bibit-bibit muda binaan RB Leipzig karena banyak hal yang mesti ia analisis dari mereka.

BACA JUGA:  Andrew Robertson dan Perjuangan Panjangnya

Rangnick sendiri dikenal sebagai pria dengan metode kepelatihan yang sangat modern. Kondisi demikian ikut memantik Rohl untuk jadi figur yang semakin jeli dalam melakukan analisis terhadap kemampuan para pemain.

Kolaborasi Rangnick-Rohl akhirnya berbuah dengan keberhasilan Die Roten Bullen promosi ke Bundesliga.

Pasca-promosi, Rangnick tidak melanjutkan kariernya sebagai kepala pelatih. Posisinya digantikan oleh Ralph Hasenhuttl.

Momen ini sendiri membuat Rohl naik jabatan. Ia dipercaya sebagai asisten pelatih oleh Hasenhuttl kendati tetap memegang jabatan video analis, bedanya kali ini di tim utama.

Kerja sama Hasenhuttl dan Rohl bikin RB Leipzig tampil lebih menggigit di ajang Bundesliga. Terlebih saat itu mereka mempunyai sejumlah penggawa potensial seperti Naby Keita, Ibrahima Konate, Dayot Upamecano, dan Timo Werner.

Permainan Die Rotten Bullen ala Hasenhuttl bercirikan gaya menekan dengan mengandalkan sisi sayap serta bagus dalam fase transisi (baik negatif maupun positif).

Gaya ini pula yang kemudian mengantar RB Leipzig konsisten bersaing di papan atas, termasuk finis di posisi dua Bundesliga 2016/2017 sekaligus mengamankan tiket ke Liga Champions.

Setahun kemudian, Rohl melanjutkan studi kepelatihannya di DFB Akademie Hennes-Weisweiller, Frankfurt.

Sekolah kepelatihan ini sangat terkenal di Jerman. Seberapa bagus? Nagelsmann dan Thomas Tuchel merupakan contoh produk mereka.

Usai menempuh pembelajaran sampai 815 jam, Rohl lulus pada Juni 2018 setelah mendapatkan lisensi A Fussball Lehrer atau guru sepakbola.

Namun bersamaan dengan itu, ada konflik di antara Rangnick dan Hasenhuttl yang mengakibatkan RB Leipzig membebastugaskan Hasenhuttl.

Ketika Hasenhuttl direkrut Southampton pada Desember 2018, Rohl dibawa sang pelatih. Ia didapuk sebagai asistennya guna berpetualang di rimba Liga Primer Inggris.

Kendati acap naik dan turun, tetapi performa The Saints di bawah asuhan Hasenhuttl dianggap lebih baik dibanding polesan para pendahulunya.

BACA JUGA:  Kegagalan dan Warisan Van Gaal

Sayangnya, karier sosok kelahiran Zwickau tersebut di Inggris tidak berlangsung lama. Niko Kovac yang baru direkrut sebagai pelatih baru Bayern per musim 2019/2020 membawanya pulang ke Jerman untuk dijadikan asisten pelatih bersama Flick.

Setelahnya, kita sama-sama tahu bagaimana kiprah Kovac di Stadion Allianz. Singkat cerita, posisi Kovac lalu ditempati Flick dengan Rohl tetap bertugas sebagai asisten.

Duo Flick dan Rohl sanggup melahirkan Bayern yang dominan. Permainan ciamik mereka berujung dengan banyak gelar prestisius.

Baik di level domestik, regional, sampai interkontinental. Die Bayern sukses menyapu bersih semua trofi yang tersedia bagi mereka.

Walau Flick akhirnya pergi, Rohl tetap bertahan di Bayern. Kontraknya bahkan sudah diperpanjang sampai musim panas 2023.

Mulai musim 2021/2022 nanti, ia akan bekerja sama dengan Nagelsmann. Akankah dua sosok muda ini bisa menghadirkan kejayaan untuk Die Bayern di tanah Jerman, Eropa maupun dunia?

Saya sendiri berharap, suatu saat nanti, Rohl punya kesempatan buat menjadi kepala pelatih di sebuah kesebelasan dan menuai banyak kesuksesan.

Komentar
Andrian Dwi Apriliyanto
Seorang penggemar Ralf Rangnick yang mempunyai hobi sepak bola dan memasak. Bisa disapa di akun Twitter @AndrianDA15