Menjadi Lebih Besar Tanpa Papu Gomez

Medio 2014 silam, Alejandro ‘Papu’ Gomez mendarat di Stadion Atleti Azzurri D’Italia (kini Stadion Gewiss Arena) dan diperkenalkan sebagai penggawa anyar Atalanta.

Ia didatangkan dari klub Ukraina, Metalist Kharkiv dan menandatangani kontrak selama tiga musim.

Semenjak saat itu pula, Gomez menjadi bagian integral Atalanta dalam mengarungi kompetisi. Presensinya begitu krusial di lini serang La Dea.

Tatkala Gian Piero Gasperini datang sebagai nakhoda anyar pada 2016, posisi Gomez sebagai pilar utama tak tergeser.

Gasperini bahkan mengaku bahwa lelaki Argentina tersebut adalah kepingan penting dalam strateginya.

Seperti yang tersaji beberapa musim ke belakang, Atalanta di bawah Gasperini memang berbeda.

Permainan menyerang lewat peragaan umpan pendek yang rapi, cairnya pergerakan pemain, pressing sedari lawan menginisiasi serangan, dan dominan menguasai bola.

Sangat tidak “Italia” sekali, bukan?

Atalanta semakin layak untuk diperbincangkan karena permainan eksotis mereka juga diikuti dengan progresi penampilan.

La Dea menjadi runner up Piala Italia 2018/2019, kemudian finis di peringkat tiga klasemen akhir Serie A 2019/2020 (tertinggi sepanjang sejarah klub), dan beraksi di ajang Liga Champions selama dua musim terakhir.

Dari kesebelasan medioker yang satu-satunya trofi mayor berupa Piala Italia 1962/1963, apa yang ditorehkan dalam kurun beberapa musim pamungkas bikin Atalanta melambung.

Kesebelasan yang berdiri tahun 1907 ini memberi spektrum baru bahwa calcio ternyata tidak jumud dan bisa berpacu dengan kemajuan taktik masa kini yang kemudian mengantar pada perbaikan performa.

Secara konstan, Atalanta berhasil mengganggu kedigdayaan tim-tim yang secara tradisional menjadi langganan papan atas. Mirip kurcaci yang selalu merepotkan para raksasa.

Ketika makin kencang berlari, ada begitu banyak rintangan yang menghadang. Salah satu yang terberat adalah hengkangnya para penggawa andalan.

Mujur, Atalanta sanggup melewati ujian laten tersebut. Bibit berkualitas dari akademi dan kecerdikan pemandu bakat mereka dalam memindai pemain muda dari penjuru dunia, sangat menolong tim untuk merekonstruksi kekuatan.

Kepergian Andrea Conti, Roberto Gagliardini, Franck Kessie, sampai Leonardo Spinazzola disubstitusi dengan hadirnya Marten De Roon, Remo Freuler, Robin Gosens, Hans Hateboer, hingga Mario Pasalic.

BACA JUGA:  Masa Sulit yang Menempa Theo Hernandez

Betapa mumpuninya sumber daya pemain Atalanta juga bisa dibaca dari kualitas para mantan seperti Alessandro Bastoni, Dejan Kulusevski, dan Amad Diallo.

Deretan nama tersebut belum kelewat eksis di tim utama, tetapi sanggup bersinar kala dipinjamkan dan laris selama bursa transfer.

Pada musim 2020/2021 kali ini, Atalanta masih bercokol di papan atas dan membuka kesempatan untuk beraksi lagi di Liga Champions.

Nahasnya, di tengah fase lanjutan untuk menjadi lebih besar, Atalanta diterpa masalah cukup pelik.

Gomez yang selama ini jadi kapten, ikon dan nyawa tim, memutuskan pergi dari kota Bergamo.

Padahal dirinyalah yang menemani La Dea sedari salvezza, merangsek ke pentas Eropa dan satu panggung dengan elit semacam Bayern Munchen, Liverpool, dan Real Madrid.

Gomez adalah kunci permainan Atalanta yang getol menggunakan formasi dasar 3-4-1-2 atau terkadang 3-4-2-1.

Eks pemain Catania itu biasa menjadi gelandang serang di belakang dua striker atau gelandang serang sebelah kiri.

Rutin dipasangkan dengan Josip Ilicic, Gomez pun membentuk duo ikonik Atalanta dalam beberapa musim terakhir.

Sentuhan-sentuhan kaki pemain setinggi 167 sentimeter itu midas. Sejak Serie A 2016/2017, Gomez selalu mengukir dua digit asis. dengan puncaknya yakni 16 buah pada musim lalu.

Catatan 59 gol dari 252 laga berseragam Atalanta di semua ajang,semakin menahbiskan Gomez sebagai salah satu pemain penting dalam sejarah klub.

Terlebih, peluh keringatnya berandil besar pada perjalanan emas Atalanta akhir-akhir ini.

Bukan angin atau petir, dinginnya udara Skandinavia jadi saksi penanda kisah antara Gomez dan Atalanta berakhir.

Drama klasik di sepakbola, pertengkaran antara pelatih dan pemain, menjadi pemisah kedua belah pihak.

Gomez membangkang terhadap instruksi Gasperini pada jeda babak Liga Champions dalam lawatan ke klub Denmark, Midtjylland, 2 Desember 2020.

Sang pelatih meminta kaptennya untuk disiplin dan bermain sesuai skema. Namun Gomez ngotot ingin menjadi “fantasia” dalam tim.

BACA JUGA:  Era Baru Napoli Bersama Spalletti

Sejak saat itu, Gomez dipinggirkan oleh Gasperini. Sebuah keputusan radikal yang mengagetkan.

Padahal selain vital secara teknis, Gomez sangat dihormati oleh rekan satu timnya.

Bola panas bergulir liar dan konflik Gomez-Gasperni diprediksi menjadi awal kejatuhan Atalanta.

Namun tepat sebelum kapal La Dea karam, manajemen mengambil keputusan penting.

Mereka berdiri di samping Gasperini dan akhirnya mendorong Gomez untuk angkat kaki. Gomez memang vital bagi sistem permainan Atalanta.

Akan tetapi, ia bukannya tak tergantikan. Ada banyak nama yang bisa dimaksimalkan Gasperini untuk menggantikannya.

Sebab bagaimanapun juga, kendali dari sistem itu ada di tangan sang pelatih.

Gasperini menemukan berlian muda bernama Matteo Pessina. Bersama alumni AC Milan Primavera itu, ada duet Eropa Timur berwujud Ruslan Malinovsky dan Aleksey Miranchuk yang bikin kekuatan Atalanta tak surut.

Pasca-kisruh Gomez-Gasperini, Atalanta sempat ngebut dengan tak terkalahkan di 14 pertandingan.

Terlepas dari ke mana berlabuhnya kisah cinderella klub di musim ini, La Dea mampu menunjukkan bahwa kapal mereka sekarang kokoh untuk menerjang gelombang pasang dan angin kencang.

Kesebelasan yang dipimpin Antonio Percassi itu memperlihatkan kepada publik tentang cara mereka menyelesaikan masalah.

Dari kasus Gomez-Gasperini sendiri, Atalanta seolah ingin memberitahu kalau kepentingan tim ada di atas segalanya sehingga mereka berani mendepak salah seorang figur penting.

Di luar masalah tersebut, kepergian Gomez (akhirnya berlabuh ke Sevilla) yang dibumbui aroma anyir, tak membuat namanya rusak di mata suporter.

Gomez tetaplah figur berjasa untuk klub dan pernah menunjukkan loyalitasnya dengan menolak godaan tim-tim mapan demi beraksi bersama Atalanta.

Dengan mentalitas yang terbentuk, Atalanta berpotensi menjadi kekuatan paten di sepakbola Italia.

Sekadar bermain di Liga Champions pun tak lagi menjadi kemustahilan.

Mereka sudah kenyang asam garam dan memiliki cukup bekal selama bermetamorfosis hingga menjadi seperti sekarang. Atalanta sudah siap menjadi lebih besar lagi sebagai sebuah unit.

Komentar