Cinta dan Harapan Patifosi Untuk Persipa

Anak-anak muda itu berkumpul menjadi satu, mengenakan kaus berwarna merah dari tim kesayangan, Persipa. Syal diikat di leher, ada juga yang memakainya di pinggang. Tak ketinggalan bendera-bendera berukuran raksasa yang berkibar di antara teriakan yang menghangatkan malam Tahun Baru. Pun dengan cerawat berwarna merah menyala dan asapnya menyebar ke mana-mana.

Derap langkah anak-anak muda itu bikin merinding siapa saja yang melihatnya. Mengundang simpati dan decak kagum sekaligus. Mereka melangkah dari kawasan Pecinan di kota Pati menuju pendopo kantor Bupati yang berjarak sekitar lima ratus meter. Beberapa petugas dari Kepolisian ikut mengawal.

Orang-orang yang sedang bersantai di alun-alun kota ikut berkerumun guna menyaksikan apa yang sedang terjadi di depan pendopo pada detik-detik jelang bergantinya tahun.

Pendukung Persipa dikenal dengan nama Patifosi (Pati Tifosi), dan apa yang mereka lakukan malam itu, saya pikir menarik sekali. Mereka mencuri perhatian publik di salah satu momen yang dianggap spesial oleh masyarakat. Barangkali itu adalah sebuah kritik yang cantik.

Di tengah perayaan Tahun Baru 2020, ada pekerjaan rumah besar di ranah sepakbola yang mesti dibenahi. Persipa sudah berdiri sejak tahun 1951 dan menjadi salah satu klub paling tua di eks Karesidenan Pati. Persijap (klub paling sukses di kawasan itu) sendiri baru resmi berdiri pada tahun 1954. Saat ini, Persipa jadi salah satu kontestan Liga 3 Regional Jawa Tengah. Buat naik level, ada jalan teramat panjang yang mesti ditempuh.

Tak salah jika menyebut Persipa sebagai tim yang tidak populer karena nama Persipa jelas kalah dengan tim-tim Jawa Tengah lain seperti Persijap, Persis, dan PSIS.

Lebih jauh, Lembu Pragola, julukan Persipa, juga miskin prestasi. Tak perlu menyebut raihan trofi, mentas di kasta teratas sepakbola nasional saja belum pernah. Padahal dari Pati sendiri, muncul beberapa pesepakbola dengan kemampuan apik seperti sang legenda Ribut Waidi, Rudi Widodo sampai Wawan Febrianto.

BACA JUGA:  Mengapa Pesepak Bola Indonesia Perlu Berkarier di Luar Negeri?

Apa yang disuarakan Patifosi dalam aksinya pada malam Tahun Baru kemarin amat sederhana. Mereka ingin kubu manajemen berbuat lebih baik untuk Persipa. Perjalanan kurang prima mereka di musim 2019 lalu jadi sebuah peringatan guna menyambut musim kompetisi 2020. Pembenahan adalah hal yang wajib dilakukan.

Rasa kecewa Patifosi cukup beralasan. Di awal musim, skuat Persipa diperkuat dengan materi pemain yang cukup mumpuni. Manajemen pun berjanji bahwa cara tersebut bisa mendatangkan prestasi dengan beroleh tiket promosi.

Ironisnya, semua mimpi yang disemai luluh lantak. Bahkan Persipa sempat melakukan pergantian pelatih di tengah musim, sebuah tanda jika ada sesuatu yang tak beres dengan mereka.

”Kami harus mendesak manajemen berbuat lebih baik lagi. Sudah dua musim gagal terus. Mentok sampai babak grup. Padahal targetnya jelas, bisa naik kasta,” kata Ketua Patifosi, Dian Dwi Budianto, seperti dikutip dari mitrapost.

Husnul Muttaqin dalam tulisannya, “Para Pengikut Gerakan Massa: Menimbang Gagasan Eric Hoffer”, menyebutkan bahwa perubahan adalah keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Perubahan sama pastinya dengan kematian. Segala aspek kehidupan manusia tidak pernah bisa mengelak dari hukum yang satu ini.

Sebagian besar perubahan berjalan secara alamiah atau terlihat alamiah, sementara perubahan lain harus dipaksakan agar dapat terwujud menjadi kenyataan. Hal ini karena suatu perubahan selalu bersifat sistemik dan berimplikasi pada perubahan lain sehingga gerak berubah acap menghendaki adanya perubahan, baik dari aspek kultural maupun struktural.

Boleh jadi gerakan semacam ini yang perlu dilakukan suporter, termasuk Patifosi, untuk mendorong langkah-langkah taktis dari klub kesayangannya. Sejatinya, dukungan memang tak sekadar dari tribun dalam rentang 2×45 menit.

Kekuatan besar suporter seharusnya bisa menjadi amunisi bersama untuk membawa sebuah klub menjadi lebih profesional. Ada kalanya, perubahan perlu sedikit dipaksakan demi mendapatkan kebaikan bersama.

BACA JUGA:  Sepakbola ala De Zerbi untuk The Seagulls

Tuntutan yang disampaikan Patifosi bukan hal yang di luar kewajaran. Mereka hanya ingin mengenalkan kembali Persipa kepada warga kotanya sendiri sekaligus menegaskan bahwa Pati memiliki entitas sepakbola yang layak didukung serta dibanggakan. Bila perasaan itu sudah tumbuh, kehadiran masyarakat Pati di Stadion Joyokusumo guna menonton laga Lembu Pragola bukanlah kemustahilan.

Melihat eksistensi Persipa dan mungkin saja capaian yang lebih baik dari mereka adalah keinginan terbesar Patifosi. Mereka pasti menunggu komitmen pihak manajemen untuk membenahi sekaligus membangun tim ini.

Di depan pendopo kantor Bupati mereka bernyanyi, dan berjingkrak-jingkrak dalam komando sang capo. Saat itu, pendopo tampak seperti tribun stadion. Tahun 2020 sudah tiba, artinya ada harapan yang dapat ditabur lagi seperti benih. Jika benih itu dirawat secara baik dan sungguh-sungguh, tentu ada hasil yang bisa dituai. Bukan oleh yang lain, melainkan Persipa sendiri.

 

Komentar
Penulis adalah penonton sepakbola di Stadion Joyokusumo sekaligus jurnalis di Pati. Dapat dihubungi melalui akun Instagram @bung_ulil.