Menunggu Langkah Konkret Chelsea

Menunggu Langkah Konkret Chelsea

Bulan Januari lepas beberapa hari. Transfer musim dingin pun berlalu, meninggalkan ragam cerita kepindahan pemain. Ibarat perlombaan, ada klub yang sukses mendatangkan pemain dambaan. Sementara di sudut lain, ada yang hanya bisa mendatangkan rumor demi rumor. Sebut saja ia Chelsea, yang kini melanjutkan sisa musim tanpa penggawa anyar.

Harapan sebatas harapan. Sampai detik terakhir deadline bursa transfer, The Blues tetap memunggungi doa para pendukungnya. Bagaimana tidak, banyak fans berharap manajemen mau mendatangkan satu atau dua penggawa anyar sebagai langkah memperkuat armada, terlebih larangan transfer dari FIFA sudah dicabut. Namun apa lacur, semuanya menguap begitu saja.

“Lalu apa gunanya memenangkan banding ke Badan Arbitrase Olahraga (CAS) kalau bukan untuk membeli pemain baru di musim dingin?”. Seperti itulah mayoritas pertanyaan fans Chelsea di linimasa media sosial.

Banyak pendukung The Blues merasa dikhianati. Harapan mereka – dan pastinya saya – melambung usai manajemen seperti mati-matian berusaha agar mereka dapat mendatangkan pemain selama bulan Januari lalu.

Apalagi Chelsea bukan klub kaleng-kaleng perihal uang. Sejak dipegang Roman Abramovich, Stadion Stamford Bridge punya kemolekan tersendiri dan acap sukses menarik perhatian ragam pemain mentereng untuk berlabuh, tentu saja dengan nilai transfer selangit.

Semenjak memulai kampanyenya di musim ini, Chelsea tampak begitu inkonsisten. Bagus di satu laga, tapi amburadul di laga-laga lainnya. Ada sejumlah aspek yang wajib dibenahi, mulai dari bolong sektor pertahanan, miskinnya kreativitas di lini tengah sampai hilangnya ketajaman barisan depan.

Semua itu bikin fans Chelsea gerah dan meminta pihak klub untuk membenahi armadanya. Manakala larangan transfer FIFA dicabut, harapan itu semakin menebal. Namun nahas, manajemen The Blues tak menampilkan atraksi apapun di bursa transfer musim dingin lalu. Satu-satunya yang muncul hanya deretan rumor demi rumor.

BACA JUGA:  Belgia dan Kesempatan Terakhir Generasi Emasnya

Nama penggawa Borussia Dortmund, Jadon Sancho, melesat sebagai buruan terdepan Chelsea. Performa impresifnya bareng Die Schwarzgelben, sejauh ini mengukir 12 gol dan 12 asis, dinilai pas untuk menggantikan Eden Hazard yang musim panas lalu hijrah ke Real Madrid.

Sayangnya, merekrut Sancho yang juga bintang baru di tim nasional Inggris pada bulan Januari bukan perkara sepele. Mayoritas klub memang enggan melepas bintangnya di tengah musim. Paling logis, The Blues mati-matian bernegosiasi di musim panas 2020 mendatang.

Tatkala rasionalitas merekrut Sancho mendekat nol, muncul pula rumor yang menyebut bahwa Chelsea meminati Edinson Cavani (Paris Saint-Germain), Ben Chilwell (Leicester City), Kalidou Koulibaly dan Dries Mertens (Napoli) hingga Hakim Ziyech (Ajax Amsterdam). Profil mereka memang jempolan dan dipastikan bisa memperkokoh skuad andaikan bergabung.

Akan tetapi, layaknya guliran cerita antara Chelsea dan Sancho, tak ada satu dari lima nama itu yang mendarat di Stadion Stamford Bridge. Segalanya cuma pepesan kosong yang sekadar meninggikan asa suporter. Padahal, beberapa pemain disebut-sebut masuk daftar lego klub pemilik.

Sebetulnya klub yang berdiri pada 10 Maret 1905 ini punya opsi alternatif yakni meminjam pemain dari klub lain. Namun hal tersebut, rupanya tidak masuk ke dalam rencana manajemen dan sang pelatih, Frank Lampard. Alhasil, tak ada yang berubah dengan skuad Chelsea di sisa musim ini.

Salah satu hal yang mungkin ada di benak manajemen serta Lampard adalah keengganan mereka bertindak sembrono. Sudah jadi rahasia umum kalau pembelian pemain selama bursa transfer musim dingin sering tak sesuai ekspektasi karena didominasi gaya pembelian yang terburu-buru.

Chelsea sendiri punya pengalaman kurang sedap dengan aktivitas di bursa transfer musim dingin. Beberapa pemain yang didatangkan pada bulan Januari justru gagal bersinar dengan kostum biru. Ross Barkley dan Emerson Palmieri adalah dua dari sekian contohnya. Jika ditarik mundur, ada sosok fenomenal bernama Fernando Torres yang juga bercokol di situ.

BACA JUGA:  Kante dan Capoue, Bintang dalam Seni Bertahan

Mengandalkan sumber daya yang ada jadi satu-satunya pilihan Lampard guna mengakhiri musim ini. Menjadi kampiun Liga Primer Inggris adalah mustahil, maka finis di empat besar klasemen akhir guna mengunci satu tiket ke Liga Champions musim depan adalah kewajiban.

Memenangkan trofi Liga Champions musim ini juga bukan persoalan mudah karena inkonsistensi The Blues bikin semuanya serba tak menentu. Lawan yang harus mereka temui di babak 16 besar pun sekelas Bayern München.

Beralih ke Piala FA, kans The Blues buat menyudahi musim dengan trofi juga takkan berlangsung mudah. Sebab di babak kelima nanti, tim yang sedang menampilkan performa brilian, Liverpool, jadi lawan yang kudu ditundukkan Tammy Abraham dan kolega.

Musim 2019/2020 mungkin jadi periode yang sulit untuk Chelsea. Namun sebagai fans setia, saya memiliki keyakinan bahwa mereka akan memperbaiki segalanya di musim depan. Tentu dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Lampard sudah menemukan racikan terbaik sehingga timnya dapat bermain konsisten dan The Blues, tak sekadar memanaskan rumor transfer, menggamit pemain berkualitas serta sesuai dengan kebutuhan pada bursa transfer musim panas nanti.

#KeepTheBlueFlagFlyingHigh

Komentar
Andi Ilham Badawi, penikmat sepak bola dari pinggiran. Sering berkicau di akun twitter @bedeweib