Menyelamatkan Sepakbola Indonesia atau Mempertahankan Federasi yang Sakit?

Shin tae-Yong akan mundur jika Iwan Bule mundur. (PSSI)
Shin tae-Yong akan mundur jika Iwan Bule mundur. (PSSI)

“Seseorang yang sangat mencintai sepakbola Indonesia dengan kesungguhan hati dan memberikan dukungan penuh dari belakang agar sepakbola dapat berkembang adalah Ketua Umum PSSI,” tulis pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong dalam unggahan terbaru akun Instagram pribadi miliknya. Ketua Umum PSSI, Iwan Bule bisa jadi memang amat mencintai sepakbola Indonesia.

Akan tetapi, ia bukan sekadar penggemar. Iwan Bule memegang tanggung jawab penuh atas tata kelola sepakbola Indonesia yang terbukti gagal menyelenggarakan kompetisi dengan aman dan menewaskan ratusan Aremania saat insiden di Stadion Kanjuruhan.

Namun, Ketua Umum PSSI beserta jajaran pengurusnya justru saling melempar tanggung jawab ke pihak Panitia Pelaksana (Panpel), PT LIB sebagai operator liga, dan Indosiar sebagai broadcaster. Terkini dalam pemeriksaan oleh Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) yang dipimpin oleh Mahfud MD, Iwan Bule dikabarkan kabur melalui pintu belakang Kantor Kemenko Polhukam.

Apa yang dilakukannya semakin memperkuat fakta bahwa PSSI di bawah kepemimpinannya terbukti tidak kompeten untuk menjalankan roda organisasi. Sikapnya tidak mencerminkan sebagai seorang pemimpin yang baik.

Jajarannya tak jauh beda. Menjawab tuntutan mundur para pecinta sepakbola Indonesia dengan kalimat “enak saja mundur”. “Menurut saya, jika Ketua Umum PSSI harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi dan mengundurkan diri, maka saya pun harus mengundurkan diri,” lanjut Shin tae-Yong dalam lanjutan caption di postingannya tersebut.

Sikapnya kemudian didukung oleh kapten Timnas Indonesia, Asnawi Mangkualam di kolom komentar dengan ucapan, “This is true, Pak Iwan Bule masih yang terbaik untuk PSSI🙏🏻.”

Publik sepakbola kini dihadapkan dengan dua pilihan, menyelamatkan sepakbola Indonesia yang terlanjur hancur karena kelalaian PSSI, PT LIB, Indosiar, dan Polisi yang menewaskan ratusan orang di Stadion Kanjuruhan, atau memilih mempertahankan Iwan Bule sebagai Ketua Umum PSSI demi membuat Shin Tae-yong tetap berada di kursi kepelatihan Timnas Indonesia.

Opsi lain mungkin saja masih terbuka. Iwan Bule dan seluruh jajaran PSSI beserta Exco-nya mundur dan Shin Tae-yong tetap mau melatih skuad Garuda. Namun, apabila kemungkinan kecil maka dua opsi tersebut harusnya tak menjadi dilema.

Prestasi tim nasional bukan tolak ukur satu-satunya keberhasilan tata kelola sepakbola sebuah negara. Semua itu bisa diraih kembali saat sepakbola Indonesia kembali ramah, nyaman, dan aman untuk semua kalangan. Hal itu bisa kita capai bersama setelah stadion kembali aman untuk dibuka, tak ada lagi Polisi masuk membawa dan menembakkan gas air mata, dan tak ada lagi pengurus federasi yang lari dari tanggung jawabnya.

Untuk itu, tak masalah jika Shin Tae-yong dan seluruh staf kepelatihannya ikut mundur mengikuti jejak Iwan Bule dan kawan-kawan yang bercokol di federasi jika benar-benar mundur. Kontribusi Shin Tae-yong akan tetap dihargai setinggi-tingginya oleh pecinta sepakbola Indonesia, namun tak berlaku bagi PSSI yang cuma ikut-ikutan angkat piala. #UsutTuntasTragediKanjuruhan

Komentar
BACA JUGA:  Hans Christian Andersen di Old Trafford