Origi Berbakti, Klopp Mengasihi

Pada musim panas 2014, Liverpool secara resmi memboyong penyerang muda berpaspor Belgia kepunyaan Lille, Divock Origi, dengan biaya transfer senilai 10 juta paun. Meski begitu, tenaga Origi tak langsung diberdayakan The Reds karena mereka sepakat untuk meminjamkannya ke Lille guna mengarungi musim 2014/2015.

Apes buat Origi, performanya yang kurang baik dalam masa peminjaman di Lille, bikin surat kabar ternama di Prancis, L’Equipe, memasukkannya ke dalam daftar pemain terburuk Ligue 1 pada musim tersebut.

Hal itu seolah berlawanan dengan alasan manajer Liverpool saat itu, Brendan Rodgers, yang meminta manajemen klub untuk membeli Origi karena ia yakin bahwa pemuda setinggi 185 sentimeter itu salah satu berlian menjanjikan yang dapat membantu klub meraih prestasi.

Usai ‘sekolah’ di Lille, Origi pun pulang ke Liverpool. Catatan kurang impresif di musim 2014/2015 tersebut dijadikannya motivasi untuk tampil lebih baik.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh lfchistory.net, Origi menjalani debut bersama Liverpool di kompetisi resmi ketika The Reds dikalahkan oleh Manchester United pada September 2015.

Berselang kurang lebih tiga bulan dengan juru racik yang telah berganti, dari Rodgers ke Jürgen Klopp, Origi baru bisa mencatatkan namanya sebagai pencetak gol bagi Liverpool di ajang Piala Liga.

Walau kompetisi tersebut bukan turnamen utama di Negeri Ratu Elizabeth, tapi Origi sudah melakukan hal istimewa di sana dengan mencetak trigol ke gawang Southampton.

Secara keseluruhan, Origi yang lebih banyak turun sebagai pemain pengganti, menunjukkan performa cukup memikat di musim 2015/2016. Mencetak 10 gol dalam 33 pertandingan di seluruh ajang menjadi buktinya.

Ketika torehan gol Origi meningkat di musim berikutnya, mengemas 11 gol pasca-merumput di 43 partai dari seluruh ajang yang diikuti Liverpool, sebagian fans malah tetap mencemoohnya. Mereka menganggap bahwa Origi adalah sosok overrated.

Hal tersebut plus kedatangan Sadio Mane dan Mohamed Salah, bikin Origi tak punya tempat di skuat The Reds musim 2017/2018. Beruntung, klub asal Jerman, Wolfsburg, bersedia untuk menampungnya dengan status pinjaman selama satu musim serta menanggung penuh gaji Origi.

BACA JUGA:  Rodrigo Bentancur: Mesin Pekerja Tottenham Hotspur

Kendati beroleh kesempatan main yang lebih banyak di Stadion Volkswagen Arena, Origi tak mampu memanfaatkan itu secara maksimal. Selain tak mampu membawa Die Wolfe tampil elok (terjerembab di peringkat ke-16 klasemen akhir sehingga harus mengikuti playoff promosi/degradasi), Origi cuma menyumbang 6 gol sepanjang musim.

Jelang bergulirnya musim 2018/2019, Klopp memutuskan untuk menahan Origi di skuat utama. Keberadaannya dirasa perlu sebab Liverpool hanya memiliki Roberto Firmino dan Daniel Sturridge sebagai juru gedor. Bermain di empat ajang sekaligus tentu menguras tenaga dan dalam kacamata Klopp, presensi Origi bakal memberinya opsi lebih.

Selayaknya anak yang berbakti kepada ayahnya, kepercayaan Klopp mampu dibalas Origi. Tetap dengan status pelapis, pemuda berumur 24 tahun sering jadi pemecah kebuntuan The Reds kala trio Firmino, Mane, dan Salah dibuat mati kutu oleh lawan.

Salah satu contoh paripurna lahir di laga melawan Newcastle United pada Mei 2019. Hanya diberikan kesempatan main selama 20 menit oleh Klopp, itu pun karena Salah mengalami cedera, Origi sanggup menjawab dengan lugas kebutuhan Liverpool lewat gol yang dicetaknya pada menit ke-86.

Gol itu merupakan kunci kemenangan 3-2 The Reds dari The Magpies seraya memelihara kans mereka untuk menjadi kampiun Liga Primer Inggris untuk pertama kalinya dalam kurun tiga dekade pamungkas

Hal fenomenal lain yang sukses diproduksi sosok bertubuh gempal ini adalah keberhasilannya menjawab misi mustahil Liverpool kala menjamu Barcelona di semifinal leg kedua Liga Champions. Usai keok di leg pertama via skor 3-0,  satu-satunya harapan Liverpool buat melaju ke partai puncak adalah menang dengan margin gol di atas tiga buah.

Celakanya, di pertemuan kedua Liverpool harus bermain tanpa Firmino dan Salah yang mengalami cedera. Alhasil, Klopp menurunkan Origi bersama Mane dan Xherdan Shaqiri sebagai trisula di lini depan.

Pada malam penuh ketegangan itu, publik Stadion Anfield menjadi saksi bagaimana kecerdasan serta ketangguhan Origi dalam bermain sepakbola. Gol pertama yang ia bukukan membuat suporter Liverpool berani berharap.

BACA JUGA:  Arsene Wenger dan Bla…Bla…Bla

Tatkala namanya kembali muncul di papan skor usai menggelontorkan gol kedua, optimisme makin membuncah. Teriakan histeris dan pekik syukur fans membuncah saat Origi bikin gol keempat The Reds di menit ke-79 sekaligus mengunci kemenangan telak 4-0 dan berhak atas satu tiket ke final.

Lengkapnya amunisi Liverpool di partai puncak melawan Tottenham Hotspur pada Juni 2019, memaksa Klopp untuk mengirim Origi ke bangku cadangan terlebih dahulu. Namun saat diturunkan pada babak kedua guna menggantikan Firmino, Origi langsung memberi jawaban pasti.

Keunggulan 1-0 The Reds sedari babak pertama, berhasil digandakan Origi tiga menit jelang pertandingan selesai. Momen itu sendiri bak peluru yang menembus dada para pemain Tottenham. Mereka lunglai karena perjuangan keras untuk menyamakan kedudukan musnah begitu saja. Titel Liga Champions lantas pulang ke kota pelabuhan untuk keenam kalinya sepanjang sejarah.

Berkat kisah gemilang tersebut, Klopp semakin mempercayai Origi dan di musim 2019/2020 kali ini pun, dirinyalah yang berperan sebagai pelapis utama dari trio Firmino, Mane, dan Salah.

Walau keran golnya masih terhitung seret, tapi presensi Origi terasa esensial bagi Liverpool, khususnya Klopp. Dan kisah yang berkelindan di antara Origi dan sang pelatih, rasanya makin persis dengan anak dan ayah.

Klopp seolah ingin memberi pesan bahwa ada seribu cara dan solusi bagi anak yang sedang mengalami masa sulit. Jangan berhenti mengasihi karena rasa itu akan menguatkan. Beri kesempatan anak tersebut untuk tahu apa yang salah agar dapat diperbaikinya secara perlahan.

Di sisi seberang, Origi juga memberitahu bahwa yang dibutuhkannya cuma pengertian serta bimbingan. Bila itu sudah didapatkan, maka semuanya akan berjalan lebih mudah. Segala tugas yang diberikan sang ayah, bakal coba dijawab dengan cara yang paling sempurna, tak peduli sekecil apa peran yang diemban. Sebuah bukti bahwa Origi berbakti.

 

Komentar
Mahasiswa jurusan teknik industri di salah satu perguruan tinggi negeri yang terletak di Yogyakarta. Bisa disapa di akun twitter @aveechena