Pantang Menyerah Seperti Luke Shaw

Bagi Luke Shaw, tanggal 27 Juni 2014 merupakan salah satu momen tak terlupakan sepanjang hidupnya.

Bagaimana tidak? Per hari itu, ia dikontrak oleh salah satu tim terbesar di dunia yaitu Manchester United.

Kedatangan pemain yang berposisi sebagai bek kiri tersebut disertai oleh ekspektasi besar para petinggi serta fans United.

Ia didatangkan dengan harga yang tidak murah yaitu sekitar 37,5 juta Euro. Terlebih, usianya saat itu baru 19 tahun.

Pada periode awal berseragam United, Shaw tidak secara instan menembus skuad utama dan harus duduk di bangku cadangan terlebih dahulu.

Barulah pada saat melawan West Ham United atau di matchday keenam Premier League 2014/2015, ia diturunkan sebagai starter oleh pelatih Louis Van Gaal.

Pertandingan itu sendiri berakhir dengan kemenangan bagi skuad The Red Devils. Sebuah momen debut yang menggembirakan bagi Shaw.

Kendati begitu, musim pertamanya merumput di Stadion Old Trafford tidak berjalan mulus. Beberapa kali Shaw harus menerima nasib bahwa ia masih dijadikan opsi alternatif dalam skema permainan.

Barulah di musim berikutnya, Shaw mendapat kepercayaan lebih. Ia selalu menjadi bagian inti United kala melakoni tujuh pertandingan awal Premier League.

Nahasnya, Shaw juga ditimpa kemalangan pada musim itu. Tanggal 15 September 2015,  ia harus mengakhiri musim lebih cepat karena mengalami cedera parah setelah mendapat tekel keras pemain PSV Eindhoven, Hector Moreno.

Peristiwa tersebut bisa dibilang sebagai titik terburuk dalam karir Shaw karena ia hampir kehilangan kakinya yang dapat membuatnya pensiun dini dari kancah sepakbola.

Namun berkat usaha dokter, psikolog serta orang-orang terdekat, lelaki berpostur 185 sentimeter ini berhasil sembuh dan bangkit dari momen buruk itu usai menjalani pemulihan selama tujuh bulan.

Di musim 2016/2017 ia kembali merumput bersama United yang saat itu sudah ditukangi oleh manajer kharismatik asal Portugal, Jose Mourinho.

BACA JUGA:  Sebelas Wonderkid Serie A 2015/2016

Sama seperti saat ia baru datang ke kota Manchester, Shaw harus kembali berjuang untuk mendapatkan tempat di skuad utama.

Kali ini, perjuangannya lebih sulit karena waktu itu posisi bek kiri United telah diisi oleh banyak nama seperti Daley Blind, Marcos Rojo, Matteo Darmian, hingga Borthwick Jackson yang membuatnya menjadi pilihan kelima.

Alhasil, pada musim perdananya setelah kembali dari cedera, Shaw hanya mencatatkan 11 penampilan di Premier League.

Pada musim berikutnya, situasinya pun tidak jauh berbeda dan bisa dibilang lebih buruk setelah fullback/wingback andalan The Red Devils, Ashley Young, menemukan performa terbaiknya dan nyaris di setiap pertandingan ia mengisi pos bek kiri.

Puncaknya di laga melawan Derby County pada ajang piala FA, Shaw yang kala itu menjadi starter langsung digantikan Young dan cuma bermain selama satu babak.

Mourinho menganggap bahwa penampilan Shaw saat itu sangat buruk sehingga harus diganti ketika babak kedua dimulai.

Semenjak saat itu, Shaw makin jarang mendapatkan kepercayaan dari Mourinho untuk mengisi sisi kiri pertahanan.

Banyak fans United serta pengamat sepakbola kala itu menyebut Shaw sebagai investasi gagal karena harga yang dibayarkan tidak sesuai dengan penampilan yang ditampilkan di lapangan.

Nama pria berambut pirang ini pun kembali meredup setelah hanya mencatatkan 15 penampilan di seluruh kompetisi bersama The Red Devils sepanjang musim.

Bagai elang yang mencari mangsa, Shaw enggan menyerah dengan keadaan. Selama kakinya masih dapat digunakan, ia akan terus berusaha keras agar menjadi pilihan utama.

Berkat kerja kerasnya, Shaw akhirnya mampu menembus starting eleven lagi secara konstan pada musim 2018/2019.

Bahkan, ia sukses mencetak gol perdananya sebagai pemain United dalam laga melawan Brighton & Hove Albion.

Penampilannya selama musim itu pun mengalami peningkatan pesat dan nyaris menjadi andalan di setiap laga dengan total 29 penampilan di liga dan berhasil mencetak 1 gol dan 4 asis.

BACA JUGA:  Memanusiakan Matthew Le Tissier

Membaiknya performa Shaw berlanjut pada musim selanjutnya di mana ia kembali jadi pilihan nomor satu. Penampilannya kembali menyentuh angka 30 laga per musim di seluruh kompetisi.

Menurut saya, musim 2020/2021 bisa dibilang sebagai musim terbaik Shaw bareng United yang kini ditukangi Ole Gunnar Solskjaer. Pasalnya, ia sudah mampu tampil ciamik dan semakin sulit digeser dari pos bek kiri utama The Red Devils.

Total, ia bermain di 44 laga lintas ajang dan mengantar United finis sebagai runner up Premier League dan Liga Europa.

Catatan bagusnya itu juga membuat pelatih tim nasional Inggris, Gareth Southgate, membawanya ke ajang Piala Eropa 2020.

Keputusan Southgate sendiri diacungi jempol. Shaw menjadi bagian integral The Three Lions kala menjejak final ajang prestisius tersebut.

Meski pada akhirnya kalah dari Italia, penampilan Inggris secara keseluruhan begitu layak dipuji.

Shaw sendiri mengukir 1 gol dan 3 asis sepanjang turnamen dan membuatnya jadi salah satu pemain paling bersinar di Piala Eropa 2020.

Golnya yang muncul di final juga keluar sebagai gol tercepat di Piala Eropa 2020 sekaligus yang tercepat sepanjang sejarah laga puncak Piala Eropa.

Berkat penampilannya yang memukau, media-media Inggris menyematkan nama baru untuknya yakni Shawberto Carlos. Merujuk pada bek kiri Brasil yang fenomenal, Roberto Carlos.

Apa yang diperlihatkan Shaw sejatinya bisa menginspirasi kita semua bahwa tekad yang kuat dalam berjuang, seringkali membuahkan hasil yang manis di kemudian hari.

Shaw pantang menyerah dengan keadaan sulit yang membelitnya. Berbekal kesabaran dan kemauan untuk terus berjuang, hasil yang ia inginkan pun didapat.

Pantas kita tunggu bagaimana kiprah selanjutnya Shawberto Carlos bersama United.

Komentar
Penggemar sepakbola, khususnya Manchester United.