Peluang (Emas) Atletico Madrid

Selama satu dasawarsa terakhir, cuma ada tiga kesebelasan yang mampu menahbiskan diri sebagai jawara La Liga Spanyol. Mereka adalah Atletico Madrid, Barcelona, dan Real Madrid. Namun gelar yang didapat kubu pertama terjadi nyaris sewindu lalu yakni musim 2013/2014 sekaligus menyudahi dahaga yang berlangsung sekurangnya dua puluh tahun.

Sayangnya, prestasi heroik itu jadi satu-satunya gelar yang sukses diangkat Los ColchonerosĀ hingga sekarang. Pasalnya, di musim-musim lainnya, mereka memilih jalan ninja sebagai bayang-bayang setia dari duopoli Barcelona dan Madrid.

Keadaan ini pula yang sempat memanaskan kursi pelatih yang diduduki oleh Diego Simeone. Walau mencuat sebagai aktor yang membawa Atletico meraih sejumlah gelar beberapa tahun terakhir, tetapi rupa keteteran Los Colchoneros dalam mematahkan dominasi kedua rivalnya itu di kancah domestik bikin gemas suporter setia klub yang berdiri pada 26 April 1903 tersebut.

Padahal, skuad Atletico besutan Simeone memiliki kapabilitas luar biasa. Presensi sosok-sosok eksepsional macam Angel Correa, Diego Costa, Diego Godin, Antoine Griezmann, Koke, Thomas Lemar, Jan Oblak, hingga Saul Niguez adalah buktinya. Siapakah yang berani meragukan kemampuan pemain-pemain itu?

Berulangkali mencoba, berulangkali pula Atletico menemui kegagalan. Prestasi terbaik mereka di La Liga setelah jadi juara pada musim 2013/2014 adalah peringkat kedua pada musim 2017/2018 dan 2018/2019. Tak heran bila misi menggenggam titel La Liga kesebelas sepanjang sejarah terus dikumandangkan. Baik saat masih menghuni Stadion Vicente Calderon ataupun kini di rumah baru nan megah, Stadion Wanda Metropolitano.

Dengan Simeone masih duduk di kursi pelatih, Los Colchoneros terus memperkuat armada tempur. Musim ini, mereka kedatangan Geoffrey Kondogbia, Luis Suarez, dan Lucas Torreira. Sementara musim sebelumnya, ada nama-nama semisal Joao Felix, Hector Herrera, Renan Lodi, dan Kieran Trippier yang tiba sebagai amunisi anyar. Bocah Portugal yang disebut pertama bahkan direkrut dengan banderol fantastis yaitu 126 juta Euro!

BACA JUGA:  Konsistensi AS Roma di Tangan Paulo Fonseca

Kesemuanya melengkapi sekaligus memperkokoh skuad yang telah diisi oleh Costa, Jose Gimenez, Koke, Oblak, dan Saul serta diharapkan mampu bikin Atletico kian kompetitif guna merealisasikan ambisi dan mimpinya.

Rasanya memang terlalu prematur untuk mengatakan bahwa Atletico merupakan kandidat terkuat juara La Liga musim 2020/2021. Pasalnya, kompetisi baru berjalan sebelas jornada. Artinya, perjalanan buat mengetahui siapa yang menyelesaikan musim sebagai tim nomor satu di Negeri Matador masih amat panjang.

Kendati demikian, rapor elok Koke dan kawan-kawan sejauh ini terlalu sulit untuk diabaikan begitu saja. Hingga tulisan ini dibuat, mereka duduk nyaman di posisi kedua dengan bekal 23 poin, hasil tujuh kemenangan dan dua kali seri dari sembilan laga yang telah dilakoni.

Koleksi angka Atletico cuma tertinggal sebiji dari Real Sociedad yang sekarang duduk tenang di puncak klasemen. Namun wajib diingat bahwa anak asuh Simeone masih punya tabungan dua pertandingan. Sukses membereskan laga tunda itu dengan kemenangan, maka singgasana La Liga bisa mereka rebut dengan segera.

Secara keseluruhan, penampilan Koke dan kolega memang terlihat menjanjikan. Presensi Felix dan Suarez di lini serang membuat tim begitu tajam. Tandem tersebut bahkan sudah menyumbang sepuluh gol Atletico di ajang La Liga. Manisnya lagi, ketajaman sektor depan diikuti dengan superiornya area belakang. Jala Oblak yang dibentengi Jose Gimenez, Mario Hermoso, Lodi, Stefan Savic, dan Trippier sukar sekali ditembus. Buktinya, baru dua gol yang bersarang di sana.

Ditambah dengan limbungnya dua rival bebuyutan, Barcelona dan Madrid, maka peluang Atletico untuk menuntaskan misi agungnya terbuka lebar di musim ini. Lagi pula, Plaza de Neptuno sudah rindu dijadikan tempat perayaan juara Los Colchoneros yang terakhir kali berpesta di sana pada 2018 kemarin ketika memenangkan Liga Europa dan Piala Super Eropa.

BACA JUGA:  Tanpa Marko Simic, Persija Degradasi

Walau demikian, ada satu pekerjaan rumah yang kudu diselesaikan Los Colchoneros secepatnya. Bermodal skuad mumpuni dan pelatih bertangan dingin, nyatanya Atletico kerap dilanda inkonsistensi performa. Di satu laga, bahkan melawan kesebelasan top, mereka bisa tampil gagah perkasa. Namun nahas, pada laga selanjutnya menghadapi tim yang di atas kertas lebih lemah, penampilan mereka justru kacau balau dan tak bertenaga.

Mereka juga tak boleh memiliki ketergantungan tinggi kepada sosok-sosok tertentu di lapangan. Bekerja sebagai satu unit yang saling melengkapi adalah keharusan. Dengan begitu, Atletico takkan lemah lunglai kala satu atau dua pemain pilarnya absen gara-gara akumulasi kartu ataupun cedera.

Selain itu, partisipasi di kejuaraan lain semisal Copa del Rey dan Liga Champions tak sepatutnya memecah fokus anak asuh Simeone meski dua ajang tersebut juga wajib diseriusi karena berujung trofi dan hadiah uang berjumlah masif.

Menjuarai La Liga musim ini bak sebuah kewajiban untuk Atletico. Apalagi semesta terlihat tak keberatan untuk berpihak kepada mereka. Jangan sampai kesempatan yang ada musnah begitu saja lantaran kebodohan diri sendiri. Di saat Barcelona dan Madrid limbung, Los Colchoneros yang terus memamerkan aksi gemilang adalah nama favorit. Mereka bakal dihujat habis-habisan bila di pengujung musim nanti justru Sevilla atau Villarreal yang mengangkat gelar kampiun.

Komentar